Keberhasilan megah Festival Bukit ke-9 yang baru saja usai tidak terjadi dalam semalam. Di balik kemeriahan panggung dan decak kagum pengunjung, terdapat narasi perjuangan panjang yang dimulai oleh para siswa kelas 11 sejak penghujung tahun lalu.
Benih Rencana di Bulan November.
Langkah awal dimulai pada November. Di saat siswa lain mulai fokus pada persiapan ujian semester, panitia inti kelas 11 justru mulai berkumpul. Rapat-rapat perdana digelar untuk menentukan tema besar, menyusun struktur organisasi, dan membedah evaluasi dari festival tahun sebelumnya.
Memasuki bulan Desember dan Januari, intensitas kerja semakin meningkat. Libur semester tidak sepenuhnya menjadi waktu istirahat bagi panitia. Rapat koordinasi (rakor) antar-divisi dilakukan secara rutin.
Memasuki bulan Februari, suasana sekolah semakin terasa “berdenyut”. Area selasar seringkali dipenuhi dengan tumpukan kayu, cat, dan kain saat panitia mulai mencicil pembuatan properti. Rapat pleno besar diadakan hampir setiap minggu untuk memastikan tidak ada miskomunikasi antar-divisi.
Ketegangan dan rasa lelah mulai muncul, namun semangat kebersamaan kelas 11 menjadi bahan bakar utama. Mereka belajar tentang negosiasi, manajemen waktu antara tugas sekolah dan organisasi, hingga cara menyelesaikan konflik secara dewasa.
Ketika hari pelaksanaan tiba, seluruh persiapan yang dilakukan selama berbulan-bulan tumpah dalam satu perhelatan yang memukau. Dari sistem manajemen pintu masuk yang rapi hingga tata panggung yang estetis, semuanya adalah manifestasi dari ribuan jam yang dihabiskan panitia sejak November lalu.
Festival Bukit ke-9 bukan sekadar acara hura-hura, melainkan kawah candradimuka bagi kelas 11 untuk membuktikan bahwa dedikasi, konsistensi, dan gotong royong adalah kunci utama sebuah kesuksesan besar (PDM/F9)


