“Halaman katalog ini merupakan ruang kurasi yang merangkum esensi kreatif dari Festbut #9 tahun 2026, di mana setiap karya menjadi saksi bisu atas pertemuan antara eksplorasi teknik dan kedalaman narasi artistik para kreatornya. Melalui kompilasi visual ini, kita diajak untuk menyelami ragam perspektif yang berani mendobrak batas medium konvensional guna merefleksikan dinamika budaya kontemporer yang terus berevolusi. Lebih dari sekadar dokumentasi, katalog ini hadir sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi seniman dalam menjaga nyala api kreativitas, sekaligus menjadi jembatan penghubung yang mendekatkan makna di balik setiap goresan langsung ke hadapan Anda.”
AN NISAA SYABILLA AL HADID TIIN
Tema:Magical Fantasi
Judul:“Cahaya di Tengah Bayangan”
Ide/Inspirasi:Karya ini terinspirasi dari dunia magical fantasi yang memadukan realitas dan imajinasi. Sosok anak kecil yang membawa cahaya di tengah kegelapan melambangkan keberanian, harapan, dan proses pencarian jati diri. Kehadiran makhluk tak kasat mata membuat kesan bahwa dunia ini penuh misteri.
Teknik Berkarya:Teknik yang digunakan adalah ilustrasi digital dengan pendekatan semi-realistis fantasi. Pewarnaan dilakukan secara layering untuk menciptakan efek cahaya, kedalaman, dan suasana magis. Efek transparansi dan gradasi warna digunakan untuk menonjolkan kesan dunia lain (fantastis).
Unsur Seni Rupa:
Titik: terlihat pada cahaya kecil dan partikel bintang di sekitar karya.
Garis: garis lengkung membentuk alur air dan siluet makhluk.
Bidang & Bentuk: bentuk figur manusia dan makhluk fantasi.
Warna: dominasi warna biru dan hijau memberi kesan misterius dan tenang.
Cahaya (gelap-terang): kontras antara cahaya lampu dan lingkungan gelap.
Tekstur: efek air dan latar berbintang memberi kesan ruang dan kedalaman.
Elemen Karya/Komposisi:Komposisi bersifat sentral, dengan tokoh utama berada di tengah sebagai pusat perhatian. Alur visual mengarah dari atas ke bawah mengikuti refleksi di air, menciptakan kesan kedalaman dan dunia paralel. Keseimbangan asimetris antara cahaya dan bayangan memperkuat nuansa magis dan dramatis.
ABDUL MUIS
Karya bertema magical fantasy berjudul “Teriakan yang Membelah Realitas” ini menggambarkan seorang ksatria modern dari dunia fantasi yang memperoleh kekuatan magis dari semangat juang dan tekadnya, di mana sosok atlet tidak lagi dipahami sebagai manusia biasa, melainkan penjaga keseimbangan dunia yang memanggil energi kosmik melalui teriakan dan kepalan tangan. Saat emosi mencapai puncaknya, energi dari dalam tubuh meledak dan memanifestasikan cahaya, partikel mistis, serta retakan ruang di sekelilingnya sehingga stadion berubah menjadi arena dimensi lain tempat sihir dan keberanian berpadu. Cahaya tidak lagi sekadar lampu, melainkan aura, sorakan penonton menjadi arus energi, dan gerak tubuh menjadi ritual pemanggilan kekuatan. Secara teknis, karya ini dapat dibuat dengan media akrilik atau digital painting melalui layering bertahap untuk efek magis, glow pada aura dan retakan energi, serta sapuan kuas dinamis untuk kesan ledakan kekuatan, dimulai dari sketsa pose ekspresif, pewarnaan dasar, penambahan efek cahaya dan simbol, hingga penyempurnaan kontras, highlight, dan atmosfer. Unsur seni rupa diterapkan melalui garis diagonal dan zigzag yang menegaskan gerak eksplosif, bentuk figur realistis yang berpadu dengan abstraksi aura, warna merah sebagai keberanian, hijau sebagai keseimbangan, serta putih dan emas sebagai energi magis, dengan tekstur halus pada tubuh yang berkontras dengan tekstur pecah pada energi, serta kedalaman ruang melalui blur dan cahaya. Elemen visual seperti aura cahaya melambangkan jiwa, kepalan tangan sebagai tekad, retakan cahaya sebagai batas dunia, partikel bercahaya sebagai energi emosi, dan sorotan dari atas sebagai restu kosmik memperkuat makna bahwa teriakan sang ksatria mampu membelah realitas antara dunia manusia dan dunia fantasi.
AMELIA NADIYA KIRANI
“Karya ini menggambarkan seorang anak yang menari di atas jam, di tengah jarum waktu yang terus berputar tanpa henti. Angka-angka tidak lagi sekadar penanda waktu, melainkan jejak perjalanan hidup yang telah dilewati. Ikan-ikan melayang mengelilingi tubuhnya seperti mimpi dan harapan yang bebas dari batasan waktu.
Waktu dimaknai sebagai dunia magis yang netral tidak menjanjikan segalanya akan mudah, tetapi selalu memberi kesempatan untuk berubah. Menjadi lebih baik bukanlah keajaiban yang datang tiba-tiba, melainkan keberanian untuk terus menari bersama waktu yang tak pernah berhenti.
AMEYLIA EFI PRATIWI
menggambarkan seorang gadis duduk di atas bulan sabit sebagai simbol remaja dengan mimpi besar yang tetap berjuang meski diliputi rasa lelah dan ragu. Cahaya kecil di tangannya melambangkan harapan yang dijaga agar tidak padam, sementara langit malam bertema magical fantasy, bintang-bintang hidup, dan awan pastel merepresentasikan masa depan yang luas, doa, dukungan, serta perjalanan hidup yang penuh tantangan. Karya ini menyampaikan pesan bahwa tidak apa-apa merasa lelah, asalkan harapan tetap dijaga, karena mimpi yang dipelihara dengan ketulusan akan menemukan jalannya sendiri.
ARTALYTA SHEVIA RAHMADANI
Lukisan ini menyajikan narasi visual yang emosional tentang hubungan mendalam antara manusia dan alam, di mana seorang anak perempuan dengan ekspresi melankolis menjadi simbol penjaga sekaligus saksi atas keajaiban yang tersisa dari pohon kehidupan yang mulai pulih. Melalui komposisi yang berfokus pada kontras antara kelembutan figur manusia dan kemegahan pohon ajaib yang berpendar, karya ini menonjolkan penggunaan elemen cahaya magis dan palet warna fantasi untuk menciptakan suasana surealis yang tenang namun penuh kerinduan. Kehadiran aliran sungai yang jernih dan hamparan bunga berwarna-warni memperkuat simbolisme tentang siklus pembaruan dan harapan, mengajak penonton untuk merenungkan keseimbangan rapuh antara dunia batin yang reflektif dan kekuatan vitalitas alam yang tak lekang oleh waktu.
AWATIFUL JIHANI AL HANAFI
Lukisan bertema Magical Fantasy ini menggambarkan seorang wanita yang berdiri menyendiri di tepi tebing curam menghadap cakrawala malam dengan cahaya bulan sebagai sumber penerangan utama. Gradasi warna biru tua hingga biru terang menciptakan suasana malam yang misterius, sementara warna putih pada bulan, bintang, dan gaun wanita memberi kontras yang kuat. Tekstur kasar pada tebing dan lembut pada awan serta detail bintang memperkuat kesan magis, romantis, dan penuh harapan sebagai simbol perjalanan batin menuju kebebasan.
BERLIAN AGUSTI SUHARTA
Lukisan ini terinspirasi dari dunia imajinasi dan cerita fantasi yang menggambarkan harapan, mimpi, serta perjalanan batin manusia. Sosok gadis dalam lukisan melambangkan manusia yang tengah berusaha meraih cahaya sebagai simbol cita-cita dan masa depan, sementara cahaya-cahaya magis yang turun dari langit merepresentasikan harapan yang selalu hadir meskipun berada dalam keadaan gelap dan sulit. Suasana malam dengan latar hutan memberi makna kesunyian dan keterbatasan, namun tetap menyimpan impian yang dapat diraih. Lukisan ini menggunakan teknik cat air (aquarel) yang menghasilkan warna transparan dan lembut dengan gradasi halus, terutama pada langit dan cahaya, serta sapuan kuas tipis yang tidak menutup seluruh permukaan kertas. Unsur seni rupa seperti titik pada cahaya berkilau, garis pada rambut dan cahaya memanjang, bidang pada tirai dan langit, bentuk figuratif pada tokoh, menara, dan pepohonan, serta perpaduan warna ungu, biru, emas, dan hijau menciptakan kesan magis dan hangat. Tekstur halus, kesan ruang yang dalam, serta perbedaan gelap terang antara cahaya dan latar semakin memperkuat suasana. Elemen karya seperti keseimbangan komposisi, kesatuan warna, irama dari pengulangan cahaya, penekanan pada tokoh utama, proporsi yang serasi, harmoni bentuk dan warna, serta kontras cahaya dengan latar gelap membuat lukisan ini tampak hidup dan mengajak penikmatnya untuk percaya pada kekuatan mimpi dan imajinasi.
DWI PUTRA RAMADHANI
Pameran Seni Digital FestBuk #9 2026 “Magical Fantasy” di SMA Negeri 1 Singgahan memamerkan karya Pertemuan di Bawah Bulan Sabit milik Dwi Putra Ramadhani (XII-1). Karya digital painting ini menggambarkan dua sosok misterius yang bertemu di atas tebing menghadap bulan sabit, dengan warna dominan biru yang diselingi aksen hangat dan hijau. Dibuat dengan teknik gradien, blending, serta detailing tekstur yang halus, komposisinya berfokus pada bulan sebagai titik visual utama dan menyampaikan makna tentang hubungan serta konek
IBRA MUBAROK
Lukisan bertema “cinta, kesetiaan, dan takdir dalam dunia kerajaan fantasi” ini menggambarkan hubungan dua jiwa yang dipersatukan oleh keberanian, pengorbanan, dan kekuatan magis yang melampaui logika manusia dengan judul “Pelukan Takdir Sang Ksatria.” Di sebuah kerajaan yang berdiri di antara dunia manusia dan dunia sihir, seorang ksatria terpilih bertemu dengan sang gadis penjaga cahaya, keduanya terikat bukan hanya oleh perasaan, tetapi juga oleh kekuatan magis penjaga keseimbangan kerajaan; pada saat pagi ketika langit dan bumi seakan menyatu, cahaya takdir mengalir di antara mereka sebagai tanda sumpah perlindungan dan cinta abadi, sang ksatria berjanji melindungi dari segala kegelapan sementara sang gadis menyerahkan hatinya demi masa depan kerajaan. Lukisan menampilkan adegan romantis-fantasi seorang perempuan bangsawan berambut pirang bergelombang mengenakan gaun biru tua bermotif emas halus dan matanya terpejam dengan ekspresi tenang penuh kepercayaan, berdiri dalam pelukan ksatria berzirah perak dengan helm besi mengilap berukir dan rantai baja di leher, tangannya menggenggam lembut pinggang sang perempuan sebagai simbol perlindungan dan kesetiaan. Di latar belakang tampak kerajaan megah di atas perbukitan dengan menara tinggi, langit membiru bernuansa hangat-magis, pepohonan dan dedaunan yang mengelilingi mereka menciptakan suasana damai, sementara cahaya biru berkilau melingkari tubuh pasangan itu seperti energi sihir cinta yang menegaskan bahwa hubungan mereka bukan sekadar fisik, melainkan spiritual dan ditentukan oleh takdir.
AHMAD RIFA ASNAN ROMADHONI
Menggambarkan kekuatan batin dan energi dalam diri manusia. cahaya di sekitar tubuh melambangkan ketenangan, kekuatan, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Sosok yang berdiri sendiri menunjukkan proses mengenal dan mengendalikan diri.
KUSNAN SAPUTRA
Karya ini menggambarkan seorang anak pertama yang sedang merenung, memikirkan tanggung jawab, harapan orang tua, dan masa depannya, dengan tokoh utama sebagai pusat perhatian. Di sekitar dan di atas kepalanya muncul dunia fantasi magis berupa cahaya, bintang, jam, dan makhluk imajiner yang melambangkan isi pikirannya, digambar dengan garis melengkung yang mengalir untuk memberi kesan pikiran yang terus berputar. Warna biru, ungu, dan emas digunakan untuk menciptakan suasana magis dan perenungan, disertai kontras gelap-terang antara dunia nyata dan dunia imajinasi. Latar dibuat sederhana agar fokus tetap pada ekspresi tokoh dan elemen fantasi, sehingga karya ini menunjukkan bahwa anak pertama sering memikul tanggung jawab besar sekaligus menyimpan harapan, mimpi, dan kekhawatiran tentang masa depannya.
LAILA ALI SA’ADAH
Lukisan ini terinspirasi dari dunia fantasi dan imajinasi yang menggambarkan perjalanan menuju sesuatu yang agung dan misterius sebagai metafora kehidupan manusia, di mana setiap individu harus menghadapi tantangan, ketidakpastian, dan risiko dalam menentukan pilihan hidup. Jalan sempit di atas jurang melambangkan pilihan yang sulit, sementara tebing-tebing tinggi merepresentasikan rintangan besar yang menuntut keberanian dan keyakinan. nuansa spiritual terasa kuat melalui cahaya keemasan dan langit yang dramatis sebagai simbol harapan, tujuan hidup, serta kekuatan yang lebih besar dari manusia. Karya ini dibuat dengan teknik gradasi untuk menghasilkan perpaduan warna yang halus, dipadukan dengan sapuan kuas yang lembut dan ekspresif sehingga menciptakan kesan magis dan dinamis. unsur garis, warna ungu–biru–emas, bentuk imajinatif, ruang yang dalam, serta permainan cahaya disusun dalam komposisi terpusat dengan keseimbangan asimetris, membentuk kesatuan visual yang harmonis dan menegaskan cahaya sebagai titik fokus utama perjalanan spiritual
LESTARI
Judul Di Bawah Tatapan Rembulan adalah karya lukis tentang hubungan manusia dengan keheningan malam, yang memvisualisasikan sosok Aruna mencari ketenangan di taman kota tahun 2026 di bawah cahaya purnama. Menggunakan teknik plakat dan wet on wet, serta unsur seni rupa seperti titik, bentuk bidang, warna biru monokromatik dengan ultramarine dan silver, gelap terang yang kontras, tekstur halus pada awan, dan ilusi ruang, komposisi menampilkan interaksi Aruna dengan sosok misterius untuk mengisahkan penggalian memori, rahasia, dan pencarian identitas diri, sekaligus mengajak penonton merenungkan makna kesunyian dan kebenaran yang disingkap cahaya redup.
MARSA AGUS HADI WIBOWO
Karya ini bertujuan memvisualisasikan Spider-Man sebagai karakter superhero ikonik Marvel dengan gaya sederhana namun tetap kuat dan mudah dikenali melalui ciri khas kostumnya. Dalam proses berkarya, kemungkinan digunakan cat akrilik atau gouache dengan latar belakang hitam yang diisi rata untuk menciptakan kontras, sementara kostum merah, detail putih, dan pola jala dibuat dengan lapisan warna pekat serta garis halus menggunakan kuas kecil. Unsur seni rupa yang menonjol meliputi penggunaan warna hitam, merah, dan putih/abu-abu dengan kontras tinggi, bentuk wajah dan bahu khas Spider-Man, ruang yang tercipta dari perbedaan gelap-terang, tekstur halus pada latar dan garis pada pola jala, serta penerapan cahaya dan bayangan untuk memberi kesan tiga dimensi. Secara komposisi, karakter ditempatkan di tengah kanvas dengan fokus pada wajah dan mata sebagai titik perhatian utama, didukung oleh latar hitam yang luas, kontras warna dan bentuk yang kuat, serta keseimbangan simetris yang membuat karya terlihat stabil, rapi, dan terarah.
MAWAR NURUL KHUSNA
Karya lukis berjudul Purnama Menyaksikan bertema magical fantasy menampilkan dua sosok manusia berbentuk siluet hitam yang berjalan berlawanan arah di atas tanah gelap dengan latar bulan purnama besar di langit malam biru tua bertabur cahaya bintang, menggunakan teknik siluet dan pewarnaan blok dengan gradasi biru, hitam, dan putih untuk menciptakan kontras gelap-terang yang kuat, disusun dalam komposisi simetris dengan bulan sebagai pusat perhatian dan dua sosok di kiri dan kanan sebagai penyeimbang visual, sehingga menghadirkan suasana hening, misterius, dan emosional yang merepresentasikan makna perpisahan, jarak emosional, dan perjalanan hidup.
MUHAMMAD FIRDAUS
Karya bertema Magical Fantasy ini menggambarkan seorang pahlawan imajinasi dengan kekuatan api yang berjuang melindungi warga bumi. Api melambangkan keberanian, semangat, dan pengorbanan demi keamanan serta kesejahteraan manusia. Unsur titik, garis, bentuk, warna, dan gelap terang digunakan untuk memperjelas karakter pahlawan dan menciptakan kesan dramatis. Karya ini menyampaikan pesan tentang keberanian dan kerelaan berkorban demi kebaikan bersama.
NUR MAULIDIYA ROHMAH
Di Balik Pohon Keajaiban adalah sebuah lukisan bertema magical fantasy yang menggambarkan pertemuan antara dunia nyata dan dunia keajaiban yang tersembunyi. Sebuah pohon besar berdiri kokoh di tengah komposisi sebagai pusat perhatian, dengan spiral cahaya bercahaya di tengah batangnya yang menyerupai pintu gerbang menuju alam lain. Cahaya tersebut memancarkan kilau lembut yang menerangi cabang, tanah, dan bukit-bukit di sekitarnya, menciptakan suasana magis yang tenang sekaligus misterius. Latar belakang langit menampilkan gradasi warna dari biru gelap hingga merah muda lembut yang dihiasi bintang-bintang berkilau, memberikan kesan kedalaman ruang dan keheningan malam. Melalui perpaduan warna dingin dan hangat, tekstur seperti kanvas, serta pencahayaan yang halus, lukisan ini menyampaikan pesan bahwa keajaiban sering kali berada sangat dekat dengan kita, hanya membutuhkan kepekaan dan pandangan yang lebih cermat untuk menemukannya.
NURLITA DWI ARIANI
Dalam lukisan bertajuk “Di Antara Reruntuhan dan Harapan” ini, sapuan cat akrilik dengan teknik layering dan dry brush menggambarkan perjalanan emosional antara sosok dewasa dan diri kecilnya yang melintasi lorong reruntuhan alam menuju cahaya terang di kejauhan. Melalui gradasi warna hijau yang rimbun dan bayang-bayang biru keabu-abuan, karya ini menjadi ruang kontemplasi bagi sang dewasa untuk memohon maaf atas luka masa lalu yang tak sempat sembuh serta impian-impian masa kecil yang gagal diwujudkan. Cahaya hangat dari lentera bukan sekadar pemandu jalan setapak yang berliku, melainkan simbol keberanian untuk berdamai dengan kenyataan pahit, menyatukan sisa-sisa harapan yang terpendam dalam sebuah langkah bersama menuju pemulihan batin yang tulus.
PUTRI NUR AINI
Lukisan bertajuk “Dua Bayangan di Pelangi Malam” ini menghadirkan nuansa magical fantasy yang menangkap momen transisi senja sebagai simbol kehangatan dan keharmonisan emosional. Melalui teknik sapuan kuas manual, karya ini memadukan gradasi warna langit yang puitis—dari biru tua yang dalam hingga semburat jingga kemerahan—dengan teknik siluet pada figur manusia, pepohonan, serta hamparan rumput untuk menonjolkan kedalaman perasaan tanpa distraksi detail. Komposisi yang seimbang dan terpusat menciptakan alur pandang yang tenang, di mana kontras gelap-terang serta penempatan elemen visual secara harmonis berhasil membangkitkan suasana kontemplatif yang damai sekaligus romantis, menegaskan ikatan tak terucap antara manusia dan alam semesta.
REZA DWI JULIANSYAH
Lukisan ini menyajikan adegan yang penuh keajaiban dan makna simbolis, di mana sebuah buku terbuka tampak mengambang dengan halaman yang terbentang lebar—dari tengahnya tumbuh sebuah pohon dengan dedaunan hijau segar dan akar yang menjalar ke dalam lembaran-lembaran buku tersebut. Latar belakangnya menunjukkan hutan yang samar dengan pepohonan tinggi, disertai efek cahaya melengkung (bokeh) berwarna keemasan dan pastel yang menciptakan nuansa misterius namun hangat, sementara beberapa burung terbang bergerombol di sekitarnya, menambah kesan kehidupan dan kebebasan. Secara keseluruhan, karya ini secara visual mengabadikan hubungan mendalam antara pengetahuan (buku) dan pertumbuhan hidup (pohon), mengajak penonton untuk merenungkan betapa kaya dan dinamisnya konten yang terkandung dalam setiap halaman bacaan.
RIZKY YUDHA WIDJAYA
Di atas meja kayu tua dalam ruang kerja yang gelap, sebuah buku kuno terbuka lebar dan memancarkan cahaya biru magis yang menghidupkan simbol-simbol sihir menjadi garis energi di udara. Di sekelilingnya, botol-botol energi, kristal, dan deretan buku tua menambah kesan misterius pada pencarian ilmu yang melampaui batas kewajaran. Lukisan ini menggambarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan besar yang bercahaya namun penuh tanggung jawab, di mana setiap pendaran birunya menyiratkan kebijaksanaan sekaligus bahaya yang tersembunyi bagi mereka yang berani mengungkapnya.
RONI WIJAYA
Di dalam sebuah ruang batu kuno yang dipenuhi simbol dan lingkaran ritual retak, seorang penyihir berjubah gelap berdiri dengan kedua tangan terangkat, menyalakan api ungu yang berdenyut seolah hidup, sementara pusaran bayangan berbentuk kawanan burung hitam dan asap pekat menyembur dari celah lingkaran di dinding, seperti gema dari dimensi lain yang sedang terbuka. Cahaya redup dan aura magis menyelimuti ruangan, menekankan suasana ritual terlarang dan kekuatan void yang liar, diperkuat oleh kehadiran makhluk bayangan bermata merah di sudut lantai yang mencengkeram kartu-kartu misterius, seakan menjadi saksi atau penjudi nasib di tengah “Echoes of the Void Chamber” yang sunyi dan mengancam.
SINTYA RAHMAWATI
Karya lukis Langit yang Bermimpi menggambarkan pengalaman pribadi tentang mimpi yang harus dilepaskan melalui visual seorang wanita yang berdiri di taman bunga matahari sambil menatap paus biru yang melayang di langit. Paus biru melambangkan impian besar yang indah namun sulit diraih, sementara bunga matahari menjadi simbol harapan dan keteguhan untuk tetap menghadap cahaya. Karya ini dibuat dengan teknik lukis manual menggunakan gradasi warna lembut yang menghadirkan kesan magis, dengan komposisi asimetris yang menekankan suasana fantasi, perasaan kehilangan, penerimaan, dan munculnya harapan baru.
SITI RAHAYU WILUJENG
Lukisan ini menggambarkan sosok perempuan yang berdiri menghadap pegunungan sebagai simbol keberanian, kebebasan, dan kesiapan menghadapi masa depan. Keindahan alam seperti gunung, sungai, dan langit melambangkan perjalanan hidup yang penuh tantangan namun sarat harapan serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Teknik pewarnaan dibuat halus dengan gradasi lembut dan detail realistis, sementara unsur dan komposisi seni rupa berpadu seimbang, menampilkan fokus pada tokoh utama, kedalaman ruang, serta suasana tenang dan damai.
WAHYU SETIYA NINGSIH
Karya ini mengangkat ide kesunyian dan perenungan terhadap dunia yang disampaikan melalui kesederhanaan emosi. Suasana hening diwujudkan dengan teknik siluet sebagai fokus utama, dipadukan dengan gradasi warna pada langit malam untuk membangun kedalaman rasa. Teknik ciprat/titik digunakan sebagai visual bintang, sementara blocking membantu menegaskan bidang dan suasana ruang. Unsur seni rupa seperti titik, garis, bidang, warna, gelap-terang, serta ruang (kedalaman) saling mendukung terciptanya atmosfer yang tenang dan reflektif. Secara komposisi, karya menerapkan asimetris seimbang, dengan siluet kucing yang sedikit berada di tengah dan ekor melengkung sebagai pusat perhatian. Kesatuan tercapai melalui harmoni warna dan tema malam, irama muncul dari pengulangan titik-titik bintang dan garis rumput, sedangkan kontras antara siluet hitam dan warna cerah langit membuat objek utama tampil kuat dan menonjol.
ACHMAD ALVIN CHOIRIN NAJACH
Saya menceritakan tentang cinta yang telah berakhir, baik karena perpisahan, perubahan jalur hidup, atau keadaan yang tak dapat diubah. Bulan yang sama yang dulu menyaksikan kebahagiaan kini membawa rasa rindu mendalam—menyimpan cerita tentang senyuman yang dulu menghangatkan hati, bisikan cinta yang kini hanya terdengar dalam ingatan, dan janji-janji yang tak dapat ditepati.
ADINDA AULIA NATASYA
Menembus Sunyi Hutan Cahaya
Lukisan berjudul “Menembus Sunyi Hutan Cahaya” ini merupakan sebuah representasi visual dari perjalanan batin yang tenang, di mana seorang penunggang kuda tampak melintasi hutan magis yang diselimuti cahaya hijau kebiruan yang menembus celah pepohonan. Melalui teknik layering dan glazing tipis menggunakan cat akrilik, karya ini membangun kedalaman ruang yang imersif, memadukan garis vertikal pohon yang kokoh dengan pantulan air yang statis sebagai ruang perenungan antara gerak dan diam. Palet warna dingin seperti toska dan biru mendominasi suasana, namun tetap terasa hidup berkat sentuhan kuning kehijauan yang menjadi pusat cahaya. Dengan komposisi asimetris yang seimbang, elemen penunggang kuda menjadi fokus utama yang dibingkai oleh rimbunnya hutan, mengajak penikmatnya untuk larut dalam suasana mistis yang damai sekaligus menyatu dengan alam dalam kesunyian yang reflektif.
AHMAD AZRIL AL-IRSYAD
Ide: Saya berencana membuat lukisan yang menampilkan sosok saya sebagai seorang lelaki yang berdiri menghadap laut dengan langit dan awan yang cerah. Laut dan langit saya jadikan simbol kebebasan, harapan, dan ruang tanpa batas. Sosok yang akan saya lukis melambangkan proses perenungan diri serta keinginan untuk keluar dari kehampaan yang sudah lama saya rasakan. Melalui lukisan ini, saya ingin menggambarkan perasaan ingin bebas, tenang, dan memulai kembali hidup dengan pandangan yang lebih luas.
Teknik yang akan saya gunakan adalah teknik sapuan kuas dengan gaya ekspresif. Warna langit dan laut akan dibuat menggunakan teknik dussel atau gradasi agar terlihat menyatu dan memberi kesan luas. Untuk bagian ombak dan cahaya akan digunakan teknik impasto tipis supaya terlihat lebih hidup dan memiliki tekstur. Sosok manusia akan dibuat dengan teknik siluet sederhana tanpa detail wajah, agar fokus lukisan lebih pada suasana dan makna kebebasan. Secara keseluruhan lukisan ini direncanakan menggunakan gaya ekspresionis.
ANDIKA CANDRA ADIPURA
saya akan melukis sebuah hutan yg dipenuhi dengan pohon pohon yang tinggi,dengan latar belakang sebuah hari senja yang indah.Di tengah tengah hutan
Teknik… aquarel, blending, gradasi warna,efek cahaya
Komposisi…pepohonan yang tinggi dilatar belakang,cahaya senja yang indah di tengah tengah lukisanTeknik yang akan saya gunakan adalah teknik sapuan kuas dengan gaya ekspresif. Warna langit dan laut akan dibuat menggunakan teknik dussel atau gradasi agar terlihat menyatu dan memberi kesan luas. Untuk bagian ombak dan cahaya akan digunakan teknik impasto tipis supaya terlihat lebih hidup dan memiliki tekstur. Sosok manusia akan dibuat dengan teknik siluet sederhana tanpa detail wajah, agar fokus lukisan lebih pada suasana dan makna kebebasan. Secara keseluruhan lukisan ini direncanakan menggunakan gaya ekspresionis.
ARDAVA WHISNU WARDHANA
Lukisan ini mengangkat tema fantasi simbolik dengan objek utama berupa tubuh manusia tanpa kepala. Bagian kepala digantikan oleh rangkaian bunga yang tumbuh dari leher sebagai simbol pikiran, imajinasi, dan harapan. Kehadiran kupu-kupu melambangkan kebebasan berpikir, perubahan, dan kreativitas. Konsep visual dibuat sederhana dan ilustratif agar makna lukisan mudah dipahami.
Perencanaan Teknik Lukisan
Teknik yang digunakan adalah teknik blok warna dengan garis outline. Pewarnaan dilakukan secara datar tanpa gradasi yang rumit. Garis luar objek ditebalkan untuk memperjelas bentuk. Latar belakang dibuat dengan sapuan kuas sederhana untuk memberi kesan tekstur, sementara detail dibuat minimal agar lukisan mudah dikerjakan dan terlihat rapiTeknik… aquarel, blending, gradasi warna,efek cahaya
Komposisi…pepohonan yang tinggi dilatar belakang,cahaya senja yang indah di tengah tengah lukisanTeknik yang akan saya gunakan adalah teknik sapuan kuas dengan gaya ekspresif. Warna langit dan laut akan dibuat menggunakan teknik dussel atau gradasi agar terlihat menyatu dan memberi kesan luas. Untuk bagian ombak dan cahaya akan digunakan teknik impasto tipis supaya terlihat lebih hidup dan memiliki tekstur. Sosok manusia akan dibuat dengan teknik siluet sederhana tanpa detail wajah, agar fokus lukisan lebih pada suasana dan makna kebebasan. Secara keseluruhan lukisan ini direncanakan menggunakan gaya ekspresionis.
AULIATUN NAJWA
Lukisan ini direncanakan untuk menggambarkan seorang figur yang berdiri memandang kampus UGM dari kejauhan. Figur digambarkan memiliki sayap yang terlipat, sebagai simbol mimpi dan potensi yang masih ada, namun belum dapat diwujudkan karena jarak dan keadaan. Posisi figur yang membelakangi penonton menunjukkan perasaan rindu dan harapan terhadap tujuan yang diimpikan.Kampus digambarkan berada di kejauhan dengan cahaya hangat dan kabut tipis, untuk memberi kesan jarak serta suasana magis. Lukisan ini tidak menggambarkan kegagalan, tetapi proses menunggu dan bertahan. Sayap yang terlipat menandakan bahwa mimpi tersebut belum hilang, hanya belum waktunya untuk terbang.Teknik,Teknik Gradasi Warna
Digunakan pada langit dan kabut untuk menciptakan kesan jarak dan kedalaman.Teknik Sapuan Halus (Blending) Digunakan agar peralihan warna terlihat lembut dan tidak kasar.Teknik Transparansi Digunakan pada kabut dan cahaya agar terlihat ringan dan magis.Teknik Detail Sederhana,Diterapkan pada bangunan kampus dan sayap agar tetap jelas namun tidak rumit.Unsur,Garis Terlihat pada bentuk figur, sayap, dan bangunan kampus.Bentuk,Bentuk manusia, sayap, pepohonan, dan bangunan kampus.Warna,Warna dingin (biru, ungu, abu-abu) dan warna hangat (kuning, oranye).Ruang, Ruang jauh dan dekat terlihat dari perbedaan ukuran dan warna.Tekstur Tekstur halus pada latar dan tekstur sedikit lebih jelas pada figur.Elemen / Komposisi Lukisan Figur Utama
Sebagai pusat perhatian, berdiri memandang ke arah kampus.Sayap Terlipat Melambangkan mimpi dan potensi yang tertahan.
Kampus di Kejauhan Sebagai simbol cita-cita dan tujuan hidup.Kabut dan Cahaya Melambangkan jarak, harapan, dan suasana magis.Keseimbangan Asimetris Figur di bagian depan dan kampus di kejauhan menciptakan kesan perjalanan.
Perencanaan Teknik Lukisan
Teknik yang digunakan adalah teknik blok warna dengan garis outline. Pewarnaan dilakukan secara datar tanpa gradasi yang rumit. Garis luar objek ditebalkan untuk memperjelas bentuk. Latar belakang dibuat dengan sapuan kuas sederhana untuk memberi kesan tekstur, sementara detail dibuat minimal agar lukisan mudah dikerjakan dan terlihat rapiTeknik… aquarel, blending, gradasi warna,efek cahaya
Komposisi…pepohonan yang tinggi dilatar belakang,cahaya senja yang indah di tengah tengah lukisanTeknik yang akan saya gunakan adalah teknik sapuan kuas dengan gaya ekspresif. Warna langit dan laut akan dibuat menggunakan teknik dussel atau gradasi agar terlihat menyatu dan memberi kesan luas. Untuk bagian ombak dan cahaya akan digunakan teknik impasto tipis supaya terlihat lebih hidup dan memiliki tekstur. Sosok manusia akan dibuat dengan teknik siluet sederhana tanpa detail wajah, agar fokus lukisan lebih pada suasana dan makna kebebasan. Secara keseluruhan lukisan ini direncanakan menggunakan gaya ekspresionis.
BRILIAN NOVA ARJUNA
Karya ini ingin menyampaikan pesan bahwa kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan yang kompleks dan dinamis, di mana kita harus terus-menerus beradaptasi dan berubah untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan. Topeng kehidupan yang kita kenakan dapat berubah-ubah, tetapi esensi kita sebagai manusia tetap sama.
karya seni ini menggunakan teknik lukis
DWI NUR CAHYO
Lukisan pada gambar menampilkan kupu-kupu bersiluet latar belakang langit malam yang berputar-putar dan bulan besar, Teknik pointilis, plakat
EVA AMBAR SARI
Lukisan ini akan menggambarkan sebuah pohon tunggal yang berdiri di bawah langit malam penuh bintang sebagai simbol keteguhan dan harapan di tengah suasana yang tenang dan magis. Teknik yang akan digunakan adalah teknik gradasi warna pada langit untuk menciptakan kesan kedalaman dan nuansa malam, serta teknik siluet pada pohon dan daratan untuk menghasilkan kontras yang jelas. Unsur seni rupa yang akan diterapkan meliputi titik, garis, bidang, warna, tekstur, dan gelap-terang, dengan prinsip kesatuan, keseimbangan, penekanan, kontras, dan irama.
HENGKY REZA KURNIAWAN
seorang anak yang mandiri berdiri di atas bukit, mengulurkan tangan ke arah cahaya bintang yang berkilau. Langit malam dipenuhi terang rembulan, dengan jejak cahaya yang mengalir mengelilingi bulan di kejauhan. Lukisan ini melambangkan mimpi yang tinggi, keberanian, dan harapan yang terus tumbuh dari tekad seorang anak. dengan menggunakan teknik blok dan akuarel
HENY NURHAYATI
Lukisan ini merepresentasikan diri saya sendiri—sebuah potret tentang kesepian yang tidak berisik. Sosok peri kecil duduk diam di dalam sebuah lentera, memeluk gitar seolah musik adalah satu-satunya teman yang setia menemani. Lentera menjadi ruang aman, tempat berlindung dari dunia luar, sekaligus cahaya kecil yang tetap bertahan di tengah gelap.
Di sekelilingnya, kunang-kunang berpendar lembut, hadir bukan untuk mengusir sunyi, melainkan menemaninya. Hutan dengan pepohonan, daun, dan semak-semak menjadi latar yang tenang, sementara langit malam dan bulan yang bersinar terang menegaskan kontras antara cahaya dan kegelapan.
Kesepian dalam lukisan ini bukan tentang kehilangan, melainkan tentang menerima diri sendiri—belajar berdamai, menemukan cahaya dari dalam, dan tetap bernyanyi meski tak ada yang mendengar.
HESTI NOPITA
Seorang anak perempuan yang menjadi simbol jangkar harapan ,menjaga stabilitas antara realistas dunia saat ini yang sunyi dengan visi masa depan yang penuh kehidupan melalui portal dimensi.Di sekelilingnya, kunang-kunang berpendar lembut, hadir bukan untuk mengusir sunyi, melainkan menemaninya. Hutan dengan pepohonan, daun, dan semak-semak menjadi latar yang tenang, sementara langit malam dan bulan yang bersinar terang menegaskan kontras antara cahaya dan kegelapan.
Kesepian dalam lukisan ini bukan tentang kehilangan, melainkan tentang menerima diri sendiri—belajar berdamai, menemukan cahaya dari dalam, dan tetap bernyanyi meski tak ada yang mendengar.
HESTI PURWATI SARI
“Sunset Behind the Silence” adalah sebuah karya lukisan yang merepresentasikan kontras antara keindahan visual dan kedalaman emosi yang tersembunyi. Senja dipilih sebagai elemen utama karena senja merupakan momen peralihan saat terang perlahan menghilang dan gelap mulai hadir. Perubahan ini menjadi simbol dari perjalanan batin manusia yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Warna-warna hangat seperti jingga, merah, dan kuning keemasan mendominasi langit, menciptakan kesan damai dan indah di permukaan, namun justru mempertegas suasana hening yang menyelimuti keseluruhan lukisan.
Keheningan dalam karya ini bukanlah sekadar sunyi tanpa makna, melainkan ruang emosional tempat berbagai perasaan dipendam. Di balik senja yang terlihat tenang, tersimpan cerita tentang luka, kesedihan, dan pergulatan batin yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Lukisan ini menggambarkan bagaimana seseorang dapat terlihat baik-baik saja di luar, seolah menikmati keindahan hidup, padahal di dalam dirinya terdapat beban perasaan yang terus dipendam dalam diam.
Komposisi lukisan disusun untuk menekankan rasa kesendirian dan refleksi diri. Elemen-elemen visual yang ditampilkan cenderung minimalis, memberi ruang luas pada langit senja sebagai pusat perhatian. Hal ini bertujuan agar penikmat karya dapat merasakan suasana hening dan tenggelam dalam perasaan yang ditawarkan lukisan. Tidak adanya ekspresi yang jelas dalam objek utama menjadi simbol bahwa tidak semua emosi perlu diperlihatkan, dan tidak semua orang mampu membaca perasaan orang lain hanya dari apa yang tampak.
Melalui Sunset Behind the Silence, pelukis ingin menyampaikan pesan bahwa setiap manusia memiliki sisi sunyi dalam dirinya. Keheningan bukan selalu tanda kelemahan, melainkan bentuk keteguhan untuk bertahan. Seperti senja yang perlahan tenggelam namun tetap indah, manusia pun dapat menyimpan luka tanpa kehilangan keindahan dan nilai dirinya. Lukisan ini mengajak penikmat untuk lebih peka, memahami bahwa di balik ketenangan seseorang, mungkin terdapat cerita panjang yang belum pernah diceritakan.Keheningan dalam karya ini bukanlah sekadar sunyi tanpa makna, melainkan ruang emosional tempat berbagai perasaan dipendam. Di balik senja yang terlihat tenang, tersimpan cerita tentang luka, kesedihan, dan pergulatan batin yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Lukisan ini menggambarkan bagaimana seseorang dapat terlihat baik-baik saja di luar, seolah menikmati keindahan hidup, padahal di dalam dirinya terdapat beban perasaan yang terus dipendam dalam diam.
Komposisi lukisan disusun untuk menekankan rasa kesendirian dan refleksi diri. Elemen-elemen visual yang ditampilkan cenderung minimalis, memberi ruang luas pada langit senja sebagai pusat perhatian. Hal ini bertujuan agar penikmat karya dapat merasakan suasana hening dan tenggelam dalam perasaan yang ditawarkan lukisan. Tidak adanya ekspresi yang jelas dalam objek utama menjadi simbol bahwa tidak semua emosi perlu diperlihatkan, dan tidak semua orang mampu membaca perasaan orang lain hanya dari apa yang tampak.
Melalui Sunset Behind the Silence, pelukis ingin menyampaikan pesan bahwa setiap manusia memiliki sisi sunyi dalam dirinya. Keheningan bukan selalu tanda kelemahan, melainkan bentuk keteguhan untuk bertahan. Seperti senja yang perlahan tenggelam namun tetap indah, manusia pun dapat menyimpan luka tanpa kehilangan keindahan dan nilai dirinya. Lukisan ini mengajak penikmat untuk lebih peka, memahami bahwa di balik ketenangan seseorang, mungkin terdapat cerita panjang yang belum pernah diceritakan.Kesepian dalam lukisan ini bukan tentang kehilangan, melainkan tentang menerima diri sendiri—belajar berdamai, menemukan cahaya dari dalam, dan tetap bernyanyi meski tak ada yang mendengar.
HISTA WAHYU SETIAWAN
Lukisan monokromatik ini mengangkat tema “Refleksi Diri dalam Kesendirian serta Harmoni Manusia dengan Alam Semesta pada Malam Hari”, dengan ide judul seperti “Diam di Bawah Cahaya Bulan”, “Sang Penghuni Malam dan Sang Utusan Langit”, “Kontemplasi di Percabangan Cita”, dan “Bulan, Pohon, dan Bayangan Jiwa”.
Unsur-unsur seni rupanya menggunakan skema warna hitam putih dengan gradasi abu-abu yang menciptakan kontras kuat. Bentuk menggabungkan geometris (bulan) dan organik (pohon, manusia, burung), dengan ruang negatif yang luas untuk kesan kedalaman. Tekstur permukaan bulan, kulit pohon, dan sayap burung ditekankan, sementara cahaya dan bayangan menghasilkan siluet dramatis.
Komposisi berfokus pada bulan sebagai pusat visual, dengan manusia dan burung pada garis pandang yang sama. Cabang pohon membentuk garis lengkung yang menyatukan elemen, sementara sayap burung tambahkan dinamika. Keseimbangan asimetris diatur melalui penempatan subjek, dengan kedalaman ruang dari elemen depan (pohon), tengah (manusia, burung), dan belakang (bulan, langit). Perspektif sudut rendah memberikan kesan megah pada alam dan menyoroti peran manusia yang penuh makna.
INDAH APRILLIA
Renungan malam sang dewi”
Ide : alasan saya memilih konsep judul RENUNGAN MALAM SANG DEWI karena
saya terinspirasi dari pikiran dan pribadi saya sendiri,dimana saya apabila emosi
tidak terkontrol saya selalu menenangkan diri saya dimalam sunyi kegelapan,dan
disitu saya bisa mengelola batin,ketenangan dan pencerahan
Media&Teknik
Media utama :Lukisan (misalnya: cat minyak di atas kanvas, akrilik di atas kanvas,
atau digital painting).
Teknik tambahan : Jika menggunakan media fisik, pertimbangkan teknik glazing
untuk efek kedalaman warna, atau tekstur impasto pada area tertentu (misalnya
pohon atau tebing) untuk kontras.
Sketsa Awal: Saya akan membuat beberapa sketsa kasar untuk menentukan
komposisi dan penempatan elemen.
Pemilihan Palet Warna: Saya akan menyiapkan dan mencampur palet warna ungu,
biru tua, dan sedikit kuning/putih.
Blocking Warna Dasar: Saya akan memblokir area warna dasar untuk langit,
lanskap, dan figur.
Pengembangan Detail: Saya akan mulai mengerjakan detail bulan, awan, tekstur
pohon, tebing, bunga, dan jubah figur.
Pencahayaan & Bayangan: Saya akan fokus pada aplikasi pencahayaan bulan dan
bayangan untuk menciptakan kedalaman dan suasana.
Finishing: Saya akan melakukan sentuhan akhir, koreksi warna, dan penekanan
detail kecil.
Unsur
Dominasi Warna: Saya akan menggunakan palet monokromatik ungu-biru tua
untuk menciptakan suasana magis, misterius, dan spiritual.
Pencahayaan: Saya akan menciptakan pencahayaan chiaroscuro dengan fokus
pada cahaya bulan purnama sebagai sumber utama, menghasilkan siluet dramatis
pada figur dan elemen lanskap.
Komposisi: Saya akan menempatkan figur Sang Dewi dan bulan purnama sesuai
rule of thirds untuk keseimbangan visual dan kekuatan fokus.
Unsur Visual yang Direncanakan
Figur Sentral: Saya akan melukis figur wanita dari belakang, mengenakan jubah
panjang berwarna ungu gelap yang menjuntai.
Lanskap: Saya akan menggambarkan tebing atau bukit yang ditumbuhi lumut dan
bunga ungu kecil di bagian depan bawah. Di kejauhan, lembah berhutan lebat akan
diselimuti kabut tipis.
Elemen Langit: Bulan purnama besar dan bercahaya akan menjadi fokus utama di
langit. Awan-awan akan digambar dengan bentuk yang lembut, seolah
mengelilingi bulan.
Elemen Cahaya Lain: Saya akan menambahkan beberapa titik cahaya kuning
redup (menyerupai kunang-kunang atau lentera kecil) di area tebing bawah untuk
menambahkan detail dan kehangatan.
Air: Saya akan menyertakan aliran sungai atau genangan air di bagian bawah
lukisan untuk menciptakan pantulan cahaya bulan.
Simbolisme yang Akan Ditekankan
Bulan Purnama: Akan diposisikan sebagai simbol pencerahan, intuisi, dan siklus
kehidupan.
Figur Dewi: Akan merepresentasikan kedalaman batin, introspeksi, dan koneksi
spiritual dengan alam semesta.
Warna Ungu: Akan digunakan untuk menekankan misteri, spiritualitas, dan
transformasi.
Kabut: Akan berfungsi sebagai metafora untuk ketidakpastian atau dunia bawah
sadar.
IRAWATI
Tema: keteguhan di tengah kehancuran (resiliensi dalam kegagalan berulang)
Judul:”elysium yang tak tergapai”
Ide: saya akan memvisualisasikan seorang anak yang bercita-cita menjadi penunggang langit namun setiap kali ia mencoba merakit sayap sihirnya sayap tersebut pecah menjadi serpihan kristal di bawah pohon. Ide ini menyoroti kontras antara kemegahan dunia fantasi yang luas dengan realitas pahit seorang individu yang seolah-olah ditolak oleh keajaiban dunia tersebut
Teknik: saya akan menerapkan teknik mixed media digital-analog style. Yang akan menggunakan satuan kuat impasto tebal untuk memberikan tekstur kasar pada tanah tempat sang anak berdiri, sementara untuk objek maki saya akan menggunakan teknik glazing (lapisan transparan) untuk menciptakan efek pendarahan cahaya (glow effect) yang halus dan mistis
Unsur
Garis: garis-garis lengkung yang dinamis pada awan dan sayap untuk menciptakan kesan gerakan kontras dengan garis patah-patah tajam pada pecahan kristal di tanah di bawah pohon.
Warna: menggunakan skema warna split commander warna biru dongker dan violet untuk atmosfer malam fantasi dikontraskan dengan warna jingga keemasan dari sisa-sisa sihir yang gagal dan warna hijau bercahaya untuk pohonnya
Tekstur: tekstur halus pada kulit karakter untuk menunjukkan kerentanan dan tekstur kristal tajam pada elemen kegagalannya
Komposisi dan elemen: saya akan menerapkan komposisi piramida terbalik untuk menciptakan kemasan ketidakseimbangan dan beban emosional
Elemen: sosok anak yang terduduk lesu di bawah pohon dan sedikit dikelilingi pecahan sayap kaca yang berkilauan
LIFIYA SALSA FITRI OKTAVIA
Lukisan Life Amongst the Stars menggambarkan hubungan lembut antara manusia dan alam semesta. Di tengah latar langit malam yang gelap dan kosmik, sepasang tangan memegang tunas hijau kecil yang bercahaya dengan penuh kehati-hatian. Cahaya dari tanaman tersebut menjadi simbol kehidupan, harapan, dan perawatan, seolah menunjukkan bahwa manusia memiliki peran penting dalam menjaga alam, bahkan di tengah luasnya jagat raya.
NAJWA RAHMADINA
Media: kanvas dan cat akrilik
Ukuran : 40cm × 60cm
Deskripsi karya :Ide/inspirasi: Saya akan merencanakan membuat lukisan ini berdasarkan cerita tentang seorang perempuan yang mengalami kehilangan secara bersamaan, yaitu ditinggalkan oleh orang yang ia cintai dan oleh keluarganya. Peristiwa tersebut membuat tokoh utama harus menjalani hidup seorang diri serta meninggalkan mimpi-mimpi yang pernah ia miliki.
Cerita tersebut saya wujudkan dalam tema dunia fantasi agar perasaan kehilangan, kesepian, dan keruntuhan batin dapat divisualisasikan secara simbolik. Dunia fantasi dalam lukisan ini menjadi representasi dari dunia mimpi dan harapan tokoh utama yang perlahan runtuh seiring dengan kepergian orang-orang terdekatnya.
Saya menggunakan teknik plakat dan aquarel
NEZARD DWIMA MAYFAIRUZ
Ide: Lukisan ini menggambarkan seorang anak yang sedang
memikirkan bagaimana proses dan perjuangan cita-cita yang ingin
diraihnya. Dalam lukisan ini digambarkan seorang anak yang berdiri
diatas bukit merenung menatap luasnya angkasa dan hamparan
bintang.Bukit menggambarkan seolah untuk mencapai harapan
yang tinggi, ada pendakian yang harus ditempuh.Bukit mengajarkan
bahwa impian tidak datang kepada mereka yang hanya diam di
lembah, melainkan kepada mereka yang berani melangkah,
meskipun napas terasa sesak dan jalanan terjal.Bintang, ditengah
kegelapan atau ketidakpastian, bintang tetap bersinar sebagai
pengingat mengapa kita memulai perjalanan ini, Saat kamu merasa
tersesat dalam proses pendakian,tengadahlah ke atas, cahaya
impianmu akan selalu ada untuk menunjukkan arah.Jika bukit adalah
batas kemampuan fisik dan bintang adalah tujuan, maka angkasa
mengingatkan bahwa tidak ada atap yang menghalangi seorang
pemimpi, jangan membatasi dirimu sendiri dunia ini luas, peluangnya
tak terhingga. Meraih satu bintang bukan berarti akhir, karena masih
ada jutaan bintang lain di cakrawala yang menunggu untuk dijelajahi.
Teknik:
Teknik Pointilis:Bisa digunakan pada bunga-bunga kecil di pinggir
jalan untuk memberikan detailtitik-titik cahaya yang halus.
Teknik Aquarel: Untuk melukis hamparan langit.
Unsur:
Garis: Penggunaan garis imajinerterpancar (radial) dari pusat
bintang dan garis melengkung pada jalan setapak.
Warna: Palet warna komplementer antara biru tua/ungu (kosmos)
dengan emas/kuning (cahaya) untuk menciptakan kontras yang
dramatis.
Tekstur: Tekstur kasar pada bebatuan dan rumput di latar depan guna memberikan kesan kedekatan fisik (foreground).
Elemen:
Bintang utama diposisikan di sumbu vertikal tengah sebagai pusat
perhatian (focal point). Penggunaan jalan setapak di bagian bawah
berfungsi sebagai leading lines yang mengarahkan mata audiens
langsung menuju subjek utama dan cakrawala.
OSCHAR FAJAR KIRANA
matahari sore hari
PRAYOGA AGUS ANDRIYANTO
Judul “harapan dan doa
Mungkin terkadang apa yang kita inginkan tak lepas dari usaha
harapan dan doa tapi ada yang lebih penting dibanding semua itu
ialah ego, yaa ego terlihat sangat sepele tapi awal kehancuran
adalah cara yang salah menyikapi ego.”
RENDY ADITYA PRATAMA
| Judul “harapan dan doa Mungkin terkadang apa yang kita inginkan tak lepas dari usaha harapan dan doa tapi ada yang lebih penting dibanding semua itu ialah ego, yaa ego terlihat sangat sepele tapi awal kehancuran adalah cara yang salah menyikapi ego.” |
| di sini saya akan membuat lukisan dengan judul bayangan cakrawala. bayangan cakrawala dengan mengibaratkan seseorang yang menyentuh atau melihat langit dan membayangkan cita-citanya yang di raih setinggi langit.di buat dengan teknik Blending (gradasi halus) untuk langit dan Horizontal Layering untuk laut agar terlihat luas. Ciptakan kilauan air dengan teknik Scumbling (kuas kering) dan tekstur matahari yang menonjol melalui teknik Impasto (cat tebal). Akhiri dengan teknik Siluet warna gelap untuk objek utama guna menciptakan kontras dramatis pada cahaya cakrawala dan orang. |
RIZKA DWI RAHMADANI
Warna oranye dan coklat pada dinding rumah beradu kontras dengan abu-abu gelap pada dasar pulau, menciptakan ketegangan antara harapan dan keputusasaan. Lukisan ini adalah potret dari sebuah jiwa yang memilih (atau terpaksa) mengunci diri dalam dunianya sendiri, di mana kesepian bukan lagi sebuah keadaan, melainkan tempat tinggal yang abadi.
RIZKY WULAN JULIANTI
Seorang anak perempuan yang dipaksa melakukan “SWASEMBADA CAHAYA” untuk mencari jalan hidup sendiri akibat kegagalan proteksi dan dukungan dari dari orangtua.
SANDHI BAGUS SAPUTRA
Tentang seseorang yang sedang jatuh cinta kepada orang yang disayang,Visualnya menampilkan sosok dengan jantung bercahaya di atas tebing melayang, di mana aliran energinya membentuk siluet kekasih dari rasi bintang sebagai simbol pusat dunianya.
SAPUTRA DWI STYAWAN
judul= lautan dalam
Saya berencana membuat lukisan bertema laut dalam yang menggambarkan ketenangan, keheningan, dan suasana magis. Laut dalam saya jadikan simbol kedalaman batin yang damai, bukan sebagai tempat yang menakutkan, melainkan ruang yang aman dan menenangkan. Latar lukisan didominasi gradasi warna biru tua hingga hitam untuk memberi kesan kedalaman, dengan cahaya lembut dari makhluk-makhluk kecil bercahaya seperti bioluminesensi yang melayang pelan menyerupai bintang. Terumbu karang digambarkan dengan warna redup sebagai penjaga ketenangan laut, dan siluet manusia yang mengapung dapat ditambahkan untuk menegaskan rasa tanpa beban dan hening. Teknik yang saya gunakan adalah teknik gradasi dan layering untuk menciptakan ruang dan kedalaman, serta teknik dry brush atau dotting untuk menampilkan efek cahaya. Media yang digunakan adalah kanvas dengan cat akrilik agar warna lebih kuat dan mudah dibentuk. Melalui lukisan ini, saya ingin menyampaikan pesan bahwa dalam keheningan dan kedalaman diri, selalu ada cahaya kecil yang membawa ketenangan dan rasa damai.
UMI MUKHLISHOH
menggambarkan tentang gadis yang sedang memisahkan diri sejenak dari keramaian dunia
untuk mencari kedamaian batin ditengah kesunyian alam. Beristirahat dalam dekapan senja, membiarkan imajinasinya terbang bebas di bawah cahaya
USSISA ‘ ALANNAJA
Menggambarkan Anak perempuan yang dicitraselalukan dalam posisi bersandar pasrah pada jendela, menunjukkan transisi dari kecemasan menuju ketenangan saat ia mulai berinteraksi secara visual dengan cahaya bulan, bintang, dan kunang-kunang yang menari di luar.
WIDYA INKA RAHAYU
Di dalam hutan berkabut tersembunyi sebuah gerbang kuno bernama Maya Wana Dwara. Gerbang ini hanya muncul bagi mereka yang hatinya diliputi keraguan dan rahasia. Cahaya lentera dan nisan tua menjadi penanda jalan menuju dunia ilusi, tempat pikiran dan ketakutan berubah menjadi nyata. Hanya orang yang mampu membedakan ilusi dan kebenaran yang dapat keluar dengan selamat.
ARDI BAGUS PRATAMA PUTRA
Lukisan berjudul “Senja di Padang Savana” mengabadikan keharmonisan kehidupan alam liar dengan keheningan alam pada waktu senja. Latar belakang langit senja menampilkan gradasi warna yang halus, mulai dari merah tua di bagian atas, bertransisi lembut menjadi oranye hingga kuning cerah di sekitar matahari yang digambarkan bulat sempurna dan menjadi titik fokus yang memancarkan kesan hangat. Di bagian tengah, siluet pohon savana dengan cabang yang menyebar lebar seimbang dengan siluet seekor gajah yang sedang berjalan tenang, dengan belalainya sedikit terangkat yang menambah kesan alam dan hidup. Bagian bawah lukisan didominasi warna hitam pekat sebagai tanah atau padang rumput, sementara teknik layering terlihat pada latar belakang dan horizon. Secara keseluruhan, karya ini menggunakan teknik siluet dengan gradasi warna (blending) cat akrilik untuk menyiratkan ketenangan, kebebasan, dan siklus kehidupan alam yang berjalan tanpa campur tangan manusia.
AZIZAH NUR AINI
Karya lukisan kanvas bertema magical fantasy ini terinspirasi dari harapan dan mimpi sejak masa kelas 12 SMA, digambarkan melalui paus yang terbang di langit malam sebagai simbol mimpi besar yang ingin diraih. Bulan, bintang, dan awan menciptakan suasana magis dan imajinatif. Lukisan dibuat dengan cat akrilik menggunakan teknik gradasi, layering, dan efek cahaya untuk menghadirkan kedalaman ruang, dengan komposisi berpusat pada paus sebagai titik fokus utama yang memberi kesan tenang dan penuh harapan.
FARIDA NURAINI
Karya ini berjudul “Pendar Harapan.” Di dalamnya, aku ingin menggambarkan bahwa meski terkadang kita merasa kecil dan tersembunyi di sudut dunia yang gelap, selalu ada keajaiban besar yang siap terpancar dari dalam diri. Cahaya keemasan yang membubung tinggi merupakan simbol pikiran dan doa yang kita lepaskan ke semesta. Melalui perpaduan biru tua yang dingin dan emas yang hangat, tercipta harmoni antara ketenangan malam dengan semangat yang tak kunjung padam, menjadi pengingat bahwa setiap dari kita memiliki kekuatan untuk mewarnai malam kita sendiri.
M. ADITYA TRI WARDANI
Karya seni yang mengambil tema fenomena luar angkasa dan eksistensi makhluk asing menghadirkan nuansa misterius dan sedikit kesuraman, dengan ide inti tentang pertemuan antar peradaban serta rasa penasaran manusia terhadap alam semesta yang belum terungkap. Kemungkinan dibuat dengan cat minyak atau akrilik pada kanvas, karya ini menampilkan sentuhan kuas jelas, lapisan warna untuk kedalaman, serta tekstur padat pada makhluk asing dan UFO. Dalam unsur seni rupa, digunakan warna kontras tinggi (merah, putih, hitam/hijau tua), bentuk khas pada makhluk asing dan UFO serta spiral dinamis pada latar, kedalaman ruang melalui perbandingan ukuran dan warna, tekstur permukaan kanvas dan sentuhan kuas, serta efek cahaya dan bayangan dari sumber bulan/bintang di belakang UFO. Secara komposisi, titik fokus berada pada makhluk asing di tengah bawah dan UFO di tengah atas, dengan arus visual yang diarahkan oleh garis spiral ke pusat karya, keseimbangan tidak simetris yang melengkapi secara visual, serta proporsi yang sesuai untuk menunjukkan kedekatan dan jarak elemen dalam ruang alam semesta.
MEYKO LESTYANTO
Karya seni ini menampilkan sebuah rumah sebagai simbol tempat perlindungan dan kehangatan di tengah hutan malam yang misterius dan tenang. Cahaya hangat yang memancar dari jendela rumah menciptakan kontras kuat dengan dominasi warna biru dingin pada hutan dan langit malam yang dihiasi fenomena cahaya menyerupai aurora. Dengan teknik gradasi warna lembut, sapuan kuas yang tidak terlalu rinci, serta pencahayaan yang terfokus, karya ini menghadirkan suasana damai sekaligus sunyi. Komposisi asimetris yang harmonis menempatkan rumah sebagai titik fokus utama, sementara kedalaman ruang dan arah gerak visual menguatkan kesan bahwa rumah tersebut menjadi sumber kenyamanan dan keamanan di tengah luasnya alam.
PRIYONO
Karya ide/gagasan ini menampilkan karakter fantasi berupa makhluk cyclops yang digambarkan sebagai penyihir atau penjelajah magis, dengan kesan misterius, imut namun kuat dalam gaya chibi, serta mengusung tema dunia fantasi atau game RPG/adventure. Karakter ini terinspirasi dari dunia sihir, game atau animasi fantasi, serta kreatur mitologi yang dimodifikasi agar terlihat lucu dan modern. Teknik yang digunakan adalah ilustrasi digital dengan digital painting/vector-style shading, garis tegas (clean line art), dan pewarnaan rapi dengan gradasi halus, kemungkinan dibuat menggunakan software seperti Photoshop, Clip Studio Paint, atau Procreate beserta pen tablet. Dalam unsur seni rupa, terlihat garis tegas dan halus membentuk karakter, bentuk dominan organik pada tubuh, jubah, dan topi, kombinasi warna dingin (ungu, biru) dengan warna hangat (emas), tekstur visual halus seperti kain dan logam, shading yang memberikan kesan volume, serta karakter yang berdiri dengan ruang negatif di sekitarnya.
DAFA PERDANA PUTRA
Tema ini berpusat pada perjalanan spiritual biksu tong (Xuanzang) ditemani tiga muridnya perjalanan spiritual:fokus pada keteguhan hati biksu
PUGUH PAWAGAL
bahtera melambangkan sebuah wadah harapan yang kuat menahan segala ombak ujian yang di terjangnya sehingga mampu mewujudkan harapan harapan yang di bawanya sampai ke dermaga kesuksesan
MUHAMMAD ALI NURDIN
Sail merupakan manifestasi visual dari sebuah navigasi batin. Lukisan ini menangkap esensi perjalanan hidup yang dinamis, di mana subjek terus bergerak maju meski dihadapkan pada ketidakpastian arah.
DIMAS CHITO ZAMBU RANU
bagian atas, terlihat langit biru dengan beberapa awan tipis berwarna lebih terang, memberi kesan tenang dan sejuk. Di bagian tengah, terdapat siluet pegunungan atau perbukitan berwarna gelap yang membentang dari kiri ke kanan. Tepat di bawahnya terlihat garis horizon yang memisahkan daratan dan air.
Bagian bawah menggambarkan permukaan air danau atau laut yang berwarna biru cerah, tampak tenang seperti memantulkan langit di atasnya. Secara keseluruhan, lukisan ini memberi kesan damai, sunyi, dan menenangkan, dengan gaya sederhana namun rapi.
Kalau mau, aku bisa bantu menyempurnakan lukisan ini (misalnya ide nambah bulan, bintang, perahu, atau gradasi warna biar lebih hidup 🎨
IRMA ECA PUTRI
Lukisan berjudul Langkah Bebas Menuju Tenang menggambarkan seorang perempuan yang berjalan dengan tenang di alam terbuka sebagai simbol kebebasan dan kedamaian hidup. la melangkah tanpa beban dan mulai berdamai dengan dirinya sendiri, yang ditunjukkan melalui suasana terang dan cahaya lembut di sekitarnya. Karya ini menggunakan unsur seni rupa seperti garis lengkung pada rambut dan gaun, bentuk figur manusia yang berpadu dengan alam, warna- warna lembut seperti putih, biru, hijau, dan kuning, serta tekstur halus pada cahaya dan gaun, dengan permainan gelap terang yang memusatkan perhatian pada sosok utama. Teknik berkarya yang digunakan adalah cat akrilik di atas kanvas gan teknik blok warna, layering, dan blending untuk menciptakan kedalaman warna dan kesan cahaya. Elemen perempuan melambangkan kebebasan, cahaya sebagai ketenangan, alam sebagai ruang bebas, dan jalan sebagai perjalanan hidup, sehingga karya ini bermakna bahwa kebebasan dan ketenangan dapat dicapai ketika seseorang berani melangkah maju dan menerima dirinya sendiri.
AINAS SHOLIKIN
Deskripsi Karya Lukisan
Lukisan ini menampilkan adegan fantasi yang dramatis dengan dua naga sebagai fokus utama, berlatar belakang langit gelap yang bergelombang awan dan kilatan petir.
– Komposisi dan Subjek: Sebuah naga besar dengan bentuk siluet gelap menyebarkan sayapnya luas di bagian atas, menghadap bulan yang bersinar lembut di tengah awan. Di bawahnya, naga yang lebih kecil dengan sayap berwarna kuning keemasan terlihat sedang terbang atau berinteraksi dengan yang lebih besar.
– Warna dan Atmosfer: Dominasi warna gelap seperti hitam, abu-abu tua, dan putih untuk awan serta kilatan petir menciptakan suasana misterius, kuat, dan sedikit mengancam. Sentuhan warna kuning pada naga kecil menjadi titik fokus yang menarik perhatian.
– Detail Teknis: Garis-garis petir yang jelas dan tekstur awan yang berlapis memberikan kedalaman pada gambar, sementara kontras antara bentuk gelap naga besar dengan latar yang lebih terang membuatnya tampak menguasai langit.
Apakah Anda ingin saya membantu membuat deskripsi untuk keperluan tertentu, seperti promosi karya atau catatan koleksi seni?
RIZKA FATMA DEWI
Aku membuat lukisan “Pensil harapan” dengan pensil raksasa hidup sebagai simbol mimpi yang belum terwujud namun tetap hidup. Cahaya dari ujung pensil membentuk berbagai harapan, sementara retakannya melambangkan kegagalan. Dengan latar langit senja magis dan sosok kecil yang menatapnya, lukisan ini menggambarkan bahwa dari mimpi yang tak tercapai dapat lahir karya yang abadi.
DIANDRA AINUN NABIL
Karya seni ini mengusung tema fantasi alam yang misterius dan epik, dengan menggambarkan dunia khayalan berisi pegunungan menjulang tinggi dan naga yang terbang di atasnya untuk menyampaikan kesan keagungan alam dan nuansa mistis. Tampaknya dibuat dengan teknik lukisan cat minyak atau akrilik, menggunakan sapuan kuas beragam—lebar untuk latar dan lereng, serta detail dan tebal untuk tekstur batuan—disertai gradasi warna untuk menciptakan kedalaman. Unsur seni rupa terlihat dari dominasi warna dingin dengan kontras yang fokuskan visual, bentuk pegunungan tajam dan naga melengkung yang bergerak, tekstur kasar batuan dan halus langit serta rumput, serta penggunaan cahaya dan bayangan yang memperkuat dimensi. Dalam komposisinya, titik fokus berada pada puncak pegunungan tertinggi dan naga di atasnya, kedalaman ruang diciptakan melalui susunan pegunungan dan gradasi warna, arah gerakan diarahkan oleh bentuk pegunungan dan sayap naga, serta keseimbangan asimetris yang tercapai dari pembagian elemen di sisi kiri dan kanan.
INDRA KHOIRIL HADI BUKORI
1. Ide Karya
Ide utama karya ini adalah menggambarkan pemandangan alam saat malam atau senja, dengan fokus pada keindahan langit berbintang yang kontras dengan siluet pepohonan kering. Karya ingin menyampaikan kesan kedamaian, keagungan alam, serta nuansa misterius dan tenang dari malam hari.
2. Teknik Berkarya
– Jenis Cat: Kemungkinan besar menggunakan cat gouache atau akrilik (sesuai teks pada video).
– Teknik Aplikasi:
– Latar Langit: Dilakukan dengan teknik gradasi warna (dari biru tua ke biru lebih terang) untuk memberikan kedalaman.
– Bintang/Bintik Cahaya: Dibuat dengan teknik tampalkan (menggunakan sikat dengan ujung yang ditekan atau spons kecil untuk menciptakan titik-titik putih) atau teteskan cat.
– Siluet Pepohonan dan Dataran: Dilukis dengan teknik isi penuh (menggunakan kuas lebar atau kecil untuk mengisi area dengan warna hitam secara rata), dengan memperhatikan bentuk cabang yang natural.
3. Unsur Seni Rupa
– Warna: Dominan warna dingin (biru berbagai nuansa) sebagai latar, kontras dengan warna hitam (siluet) dan putih (bintang). Penggunaan gradasi warna menciptakan kesan kedalaman.
– Bentuk: Bentuk alamiah (pepohonan dengan cabang yang bervariasi, bentuk bintang sebagai titik-titik) dan bentuk garis lurus/melengkung pada dataran bawah.
– Ruang: Diciptakan melalui gradasi warna latar dan posisi siluet pepohonan (yang tampak berada di depan langit).
– Tekstur: Latar langit tampak halus dengan tekstur titik-titik bintang, sedangkan siluet pepohonan memberikan tekstur garis yang jelas.
– Cahaya dan Bayangan: Cahaya berasal dari “bintang” yang menjadi titik fokus terang, sementara bayangan muncul dari kontras antara siluet gelap dengan latar yang lebih terang.
4. Elemen Karya/Komposisi
– Pengaturan Ruang: Siluet pepohonan ditempatkan pada bagian bawah hingga tengah kanvas, sedangkan langit berbintang mendominasi bagian atas. Ini menciptakan keseimbangan antara elemen dataran dan langit.
– Titik Fokus: Berada pada area langit yang lebih terang dengan banyaknya bintang, serta bentuk pepohonan yang menjadi pusat visual di bagian tengah.
– Kontras: Digunakan kontras warna (biru vs hitam vs putih) dan kontras bentuk (latar halus vs siluet dengan garis yang jelas) untuk menarik perhatian penonton.
– Keseimbangan: Komposisi simetris tidak terlalu ketat, namun distribusi elemen (pepohonan di tengah, langit yang menyebar merata) memberikan kesan seimbang dan stabil.
AVIN ANIQOTUS ZULFA
Sosok penari utama ditengah melambangkan fokus, keanggunan, dan perjuangan untuk tampil sempurna, sementara penari di sekelilingnya menggambarkan harmoni.
BIMA BERNESSA CLEARESTA
Lukisan ini merepresentasikan pertemuan dua jiwa yang terikat oleh takdir, meskipun terpisah oleh ruang dan waktu. Dua sosok siluet yang saling berhadapan menggambarkan hubungan manusia yang dipenuhi kerinduan dan harapan. Cahaya berbentuk bintang di tengah menjadi simbol ikatan batin serta momen penting yang menyatukan keduanya. Latar langit senja menuju malam dengan jejak komet melambangkan peristiwa langka dan perubahan besar dalam kehidupan. Hamparan awan gelap di bawah kaki tokoh mencerminkan ketidakpastian, namun cahaya yang muncul menegaskan bahwa harapan selalu hadir di tengah kegelapan.
AGUS RAFI ADITIYA
”Karya ini adalah narasi visual tentang gejolak batin yang tertuang dalam sapuan warna. Di balik setiap goresannya, tersimpan cerita tentang sebuah persimpangan besar: sebuah dilema antara mengejar mimpi di bangku pendidikan tinggi atau mendedikasikan raga sebagai abdi negara. Sebuah potret tentang dualisme pengabdian dan pencarian jati diri yang sedang berkecamuk di dalam jiwa
AMIRA ZIYADATUR ROHMAH
Sebuah potret mendalam tentang keteguhan hati di tengah keterbatasan fisik. Gambar ini menampilkan gunung yang megah yang hanya bisa di kangumi serta sabana yang luas yang melambangkan keraguan orang sekitarnya .Cahaya fajar yang menembus awan menjadi simbol pembuktian diri bahwa kemauan yang keras mampu menaklukkan puncak tertinggi,
ANGGUN NAURA RIZQI NUZULA
TEMA : THE MAGIC OF TWO WORLDS (KEAJAIBAN DUA DUNIA)
JUDUL : ETHERIA LUMINA (CAHAYA DARI DUNIA LANGIT)
DESKRIPSI: Lukisan ini menggunakan teknik layering vibran dan blending. Dengan menggunakan cat akrilik yang berbasis air memudahkan pewarnaan gradasi. Ada beberapa elemen pada karya ini (HUTAN) saya imajinasikan sebagai ruang tanpa batas yang mungkin dapat menembus 2 alam dunia yang berbeda, (TEMBOK) yang saya artikan sebagai perbedaan pada dunia, (hutan dan tembok) menggambarkan perpindahan dari zona nyaman menuju impian tak terbatas, (PERI) makhluk yang akan saya gambarkan memiliki sayap yang dapat terbang menuju langit ruang tanpa batas seperti ekspektasi orang orang kepada diri saya, (WARNA HUTAN YANG CERAH) yang akan menggambarkan masa depan yang cerah dan sifat keceriaan saya. Lukisan ini memiliki unsur titik titik, garis, dan warna yang jelas. Dimana garis tersebut yang menggambarkan bentuk gambar seperti pohon, tembok.
AULIA
Sosok perempuan yang menggapai bintang dilangit,yang menggambarkan perjuangan seseorang dalam meraih mimpi. Di mana bintang melambangkan harapan,doa dan usaha untuk meraih cita-cita meskipun perjalanan yang dilalui tidak selalu mudah
AZKIA VARAH AL MADINA
Through the Portal of Dreams merupakan lukisan yang merepresentasikan harapan, mimpi, dan perjalanan diri saya dalam meraih masa depan yang diinginkan. Suasana malam yang mendominasi lukisan ini melambangkan realita, keraguan, serta berbagai tantangan yang sedang saya hadapi. Dalam keheningan malam, saya digambarkan sedang memandangi sebuah portal sebagai simbol harapan dan kesempatan menuju ruang impian.
Portal tersebut menampilkan dunia yang kontras dengan suasana di sekitarnya, sebuah ruang yang terang, dipenuhi cahaya, warna, dan nuansa optimisme. Di dalamnya, tampak sosok diri saya yang sedang terbang, melambangkan kebebasan, keberanian untuk bermimpi, serta keyakinan bahwa saya mampu melampaui batasan dan ketakutan yang ada. Kehadiran dua sosok diri ini mencerminkan dialog batin antara kondisi saya saat ini dan versi diri di masa depan yang ingin saya capai.
Melalui lukisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa harapan tidak pernah benar-benar padam, bahkan di tengah kegelapan dan ketidakpastian. Setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bagian dari perjalanan menuju mimpi, dan portal tersebut menjadi simbol keyakinan saya bahwa masa depan yang diinginkan dapat diraih dengan keberanian untuk terus melangkah.
BAGAS NARENDRA PRIYAMBADHA
Saya akan menciptakan sebuah karya lukisan yang berangkat dari pengalaman batin seorang anak ketika melihat kembali foto keluarga lamanya setelah kedua orang tuanya berpisah. Karya ini saya rencanakan sebagai bentuk refleksi pribadi atas ingatan masa lalu yang terekam dalam foto keluarga, sekaligus sebagai respon terhadap realitas masa kini yang tidak lagi utuh. Tema “Ingatan yang Tertinggal dalam Bingkai Keluarga” saya pilih untuk menggambarkan konflik antara kenangan kebersamaan yang masih hidup dalam ingatan dengan kondisi emosional yang terfragmentasi akibat perpisahan orang tua.
Dalam karya ini, saya akan memposisikan foto keluarga sebagai simbol utama yang merepresentasikan memori, harapan, dan kehilangan. Saya akan menghadirkan sosok anak sebagai subjek utama yang menatap foto tersebut, namun digambarkan terasing secara emosional dari citra keluarga di dalam bingkai. Melalui gestur tubuh dan arah tatapan, saya ingin menunjukkan rasa rindu, kebingungan, serta jarak psikologis yang terus membayangi pertumbuhan seorang anak setelah perpisahan orang tua.
Saya akan menggunakan pendekatan lukis representasional–ekspresif. Figur anak dan foto keluarga akan saya gambarkan secara representasional, namun dengan pengolahan bentuk, garis, dan warna yang cenderung terdistorsi untuk menekankan muatan emosional. Saya berencana menerapkan teknik layering dengan lapisan cat tipis dan tebal sebagai simbol tumpukan ingatan dan perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Selain itu, saya akan memanfaatkan teknik tekstur melalui sapuan kasar dan goresan berulang untuk menghadirkan kesan kegelisahan batin, serta membuka kemungkinan penggunaan mixed media dengan menambahkan kolase foto sebagai penguat simbol ingatan.
Dalam perencanaan visualnya, saya akan mengolah unsur seni rupa secara sadar. Titik-titik dan detail kecil akan saya hadirkan pada area foto sebagai simbol memori yang mulai memudar. Garis tegas akan saya gunakan pada bingkai foto untuk menandai batas antara masa lalu dan masa kini, sementara garis yang lebih tidak stabil akan saya terapkan pada figur anak untuk menggambarkan kondisi emosional yang rapuh. Bidang persegi pada foto keluarga akan saya pertahankan sebagai simbol keterikatan masa lalu, dengan bentuk figur manusia yang disederhanakan atau terdistorsi.
Saya akan menggunakan warna hangat pada area foto untuk menghadirkan kesan kenangan dan kebahagiaan masa lalu, sedangkan warna dingin atau kusam akan saya terapkan pada figur anak dan latar sebagai representasi kesepian dan jarak emosional. Perbedaan tekstur antara area foto yang lebih halus dan latar atau figur anak yang lebih kasar akan saya manfaatkan untuk memperkuat kontras psikologis. Selain itu, saya akan menyisakan ruang kosong di sekitar figur anak sebagai simbol keterasingan, kehilangan, dan ketidakhadiran figur orang tua.
Melalui perencanaan karya ini, saya berharap lukisan yang saya ciptakan tidak hanya menjadi sarana ekspresi personal, tetapi juga mampu menghadirkan ruang empati bagi penikmat karya untuk memahami dampak perpisahan orang tua terhadap kondisi emosional seorang anak.
DJAVA BERLIAN RAMBU RAMADHANI
Karya ini menampilkan sosok seorang wanita yang sedang melukis di alam terbuka dengan latar pantai dan hamparan rerumputan pada suasana malam. Wanita tersebut duduk di atas kerang besar dengan sebuah kanvas di hadapannya. Pada kanvas tergambar pemandangan pantai yang dipadukan dengan bunga di bagian tepinya. Dari lukisan tersebut muncul kupu-kupu besar yang terbang dan melayang di atas sosok wanita sebagai elemen magis utama.
Latar belakang karya menghadirkan langit malam dengan bulan serta awan berwarna magis yang didominasi gradasi ungu, biru, dan nuansa cahaya lembut. Perpaduan unsur alam, aktivitas melukis, dan kemunculan kupu-kupu menciptakan suasana tenang, imajinatif, dan penuh keajaiban. Karya ini menggambarkan seni sebagai ruang untuk mengekspresikan perasaan, menemukan ketenangan batin, dan meraih kebebasan melalui imajinasi.
DWI ARIFA LARASATI
Lukisan ini bukan sekedar pemandangan alam,melainkan sebuah gambaran tentang perjalanan batin manusia. Hutan yang pekat dengan cahaya di air terjun menciptakan sebuah pusat perhatian yang melambangkan harapan.Rimbunnya pepohonan melambangkan fase ketidak Tahuan dan tantangan hidup yang seringkali terasa menyesakkan dan misterius.Namun, kehadiran daun-daun merah di sela dedaunan hijau menunjukkan bahwa dalam situasi tersulit sekalipun, masih ada kehidupan dan keindahan yang tumbuh. Air terjun sebagai sumber cahaya menggambarkan bahwa solusi atau titik terang tidak selalu datang dari luar,melainkan mengalir dari ketenangan pikiran dan kejernihan hati.Langkah langkah air yang jatuh sejara bertahap menuju sungai dibawahnya menyimbolkan proses, ketidaktahuan tidak sirna dalam sekejap,melainkan melalui tahapan tahapan kecil yang pada akhirnya membawa kita pada ketenangan yang lebih luas. Sepekat apapun hutan yang harus dilalui,aliran harapan akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar,menuntun kita keluar dari ketidaktahuan menuju ketenangan yang abadi.
FA IZ ADITYA RAMADHANI
Konsep Karya
Lukisan ini menggabungkan elemen alam (pohon/hutan) dengan alam semesta (bintang dan cahaya galaksi), menampilkan sudut pandang seolah-olah kita sedang melihat melalui celah pepohonan menuju sumber cahaya yang memancar. Gaya visualnya mengadopsi sapuan kuas yang mengalir dan efek kilau yang memberikan kesan dinamis serta khayalan, mungkin terinspirasi oleh gaya ekspresionis atau surrealis yang mengutamakan ekspresi emosi dan imajinasi.
Makna yang Mengandung
– Koneksi Alam dan Alam Semesta: Melambangkan hubungan mendalam antara dunia kita (bumi/alam) dengan jagad raya yang lebih luas, menunjukkan bahwa manusia dan alam bukanlah entitas yang terpisah dari keseluruhan alam semesta.
– Harapan dan Petunjuk: Cahaya yang terang di bagian tengah dapat diartikan sebagai simbol harapan, tujuan, atau sumber kebijaksanaan yang mengarahkan, sementara pepohonan yang membingkai bisa menjadi representasi rintangan atau tahapan dalam perjalanan hidup yang harus ditempuh.
– Ketenangan dan Keajaiban: Kombinasi warna biru gelap dan cahaya yang memancar menciptakan suasana yang tenang namun penuh keajaiban, mengajak penonton untuk merenungkan keindahan dan misteri alam yang sering terlewatkan.
– Simbol Pohon: Secara budaya, pohon juga bisa melambangkan kehidupan, pertumbuhan, dan hubungan antar generasi, sementara langit berbintang mengacu pada ketidakterbatasan dan masa depan.
JENNY AINUR FITRA PUTRI SHOFWAN
Robanya Kāla Vana
Robanya: Roban.
Kāla: Waktu, maut, atau kegelapan (sering digunakan untuk menggambarkan tempat yang mematikan).
Vana: Hutan.
Makna: Hutan Maut Roban yang Gelap.
LOLITA EARLINA FRI ANDINI
Gunung terjal itu digambarkan sebagai wilayah terlarang yang dijaga naga perkasa, melambangkan kekuatan, misteri, dan keagungan alam. Lereng-lerengnya yang curam dan puncaknya yang menjulang tegas memperlihatkan kekuasaan alam yang liar, sementara sang naga menjadi penjaga abadi yang menandai batas yang tak boleh dilanggar manusia.
M DANI RISTI FEBRIAN
Tentang sekelompok orang yang memohon kepada sang moon goddess agar bisa terlepas dari hal buruk yang menimpanya
MELINDA RAHMAWATI
Karya ini menggambarkan sosok seorang gadis dengan sejuta mimpi yang melangkah tanpa arah tujuan yang pasti. Langkahnya yang terus maju menjadi simbol dari perjalanan batin seorang manusia dalam mencari jati diri, harapan, dan makna masa depan. Ketidakpastian arah bukanlah kelemahan, melainkan cerminan dari fase kehidupan yang penuh pertanyaan dan proses pembelajaran.
Alam digambarkan bukan sekadar ruang fisik, tetapi sebagai simbol ketenangan batin, perlindungan, dan dukungan yang menyertai setiap langkah perjalanan hidup. Kehadiran alam menunjukkan bahwa meski manusia sering merasa sendiri, selalu ada kekuatan yang menemani dan memberi keseimbangan.
Melalui karya ini, seniman ingin menyampaikan pesan bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang mengetahui tujuan sejak awal, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah dengan keyakinan. Setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki arti dan membawa pembelajaran menuju kedewasaan, harapan, serta masa depan yang perlahan akan terungkap.
MUHAMAD RESTU SUNANDAR
– Karya ini berangkat dari keresahan pribadi terhadap masa depan yang masih terasa suram, namun tetap dipenuhi oleh harapan. Perasaan tersebut memunculkan konflik batin yang kemudian divisualisasikan melalui lukisan berlatar suasana malam dengan kehadiran sebuah pohon sebagai simbol harapan dan keteguhan di tengah kegelapan.
– Dalam proses berkarya, penulis menggunakan pendekatan teknik aquarel dengan media cat akrilik. Pengaplikasian warna dimulai dari tahap dasar menggunakan teknik dry brushing (kuas kering) dan layering (berlapis), kemudian berkembang ke teknik yang lebih kompleks seperti permainan ketebalan dan transparansi cat. Sifat akrilik yang cepat kering dimanfaatkan untuk membangun tekstur, kedalaman, dan detail melalui pencampuran warna serta pengenceran cat agar dapat dituang. Berbagai alat bantu seperti kuas dan spons digunakan untuk memperkaya efek visual pada karya.
– Unsur dan elemen seni rupa yang ditampilkan meliputi penggunaan garis tidak lurus, patah, melengkung, serta garis-garis acak yang menggambarkan kegelisahan batin. Pemilihan warna gelap seperti hitam, abu-abu, dan hijau tua merepresentasikan masalah dan kesuraman, sementara warna-warna terang seperti pink, putih, dan biru lembut dihadirkan sebagai simbol harapan yang tetap menyala di tengah kegelapan.
MUHAMMAD ALDO
Lukisan berjudul “SEHARUSNYA AKU SADAR” menggambarkan momen emosional antara Himmel, sang pahlawan, dan Frieren, sang penyihir elf, dengan latar sebuah kota yang tenang di bawah langit senja. Pada lukisan ini, Himmel terlihat sedang memakaikan sebuah cincin ke jari manis Frieren. Adegan tersebut melambangkan perasaan tulus, cinta, dan ikatan yang mendalam antara keduanya.
Latar langit bergradasi biru, jingga, dan merah muda menciptakan suasana hangat sekaligus sendu, memperkuat nuansa perpisahan dan penyesalan. Bangunan kota serta menara jam di belakang mereka menjadi simbol waktu yang terus berjalan dan tidak dapat dihentikan. Posisi Himmel yang berlutut menunjukkan ketulusan dan pengorbanan, sementara ekspresi Frieren tampak tenang namun menyimpan emosi yang dalam.
Judul “SEHARUSNYA AKU SADAR” menyiratkan penyesalan Frieren yang terlambat menyadari arti waktu dan perasaan. Sebagai bangsa elf yang berumur panjang, Frieren memandang waktu sebagai sesuatu yang tidak terlalu berarti. Berbeda dengan Himmel yang merupakan manusia dengan umur terbatas, ia sangat menghargai setiap momen dan berusaha menciptakan kenangan indah agar dirinya selalu dikenang, bahwa ia pernah hidup di dunia ini.
Penyesalan Frieren baru benar-benar muncul setelah Himmel wafat. Ia menyadari bahwa waktu yang singkat bagi manusia justru memiliki makna yang sangat berharga. Lukisan ini menyampaikan pesan mendalam tentang arti waktu, kenangan, dan pentingnya menyadari perasaan sebelum semuanya terlambat.
MUHAMMAD GABRIEL AKBAR MAULANA PUTRA
Langit malam yang gelap melambangkan ketenangan atau kesunyian, sedangkan petir berwarna pink–ungu melambangkan emosi kuat (marah, berani, rindu, atau harapan) yang tiba-tiba muncul. Warna petir yang tidak realistis memberi kesan bahwa ini bukan badai biasa, tetapi badai perasaan atau energi batin
MUHAMMAD IMAM MUSADI
Lukisan menggambarkan suasana laut pada malam hari dengan langit penuh bintang dan cahaya bulan yang memantul di permukaan air. Di bagian tepi bisa ditambahkan siluet pohon kelapa atau pulau kecil yang memberi kesan sepi namun indah. Makna: ketenangan, kedamaian, dan waktu untuk merenung.
NAILA NURRISTA APRILLIANTI
Lukisan ini menggambarkan dua ekor angsa yang berenang perlahan di danau yang sunyi, dikelilingi pepohonan hijau yang rimbun. Suasana alam yang hening menciptakan kesan damai dan sejuk. Ketenangan dalam karya ini melambangkan bahwa rasa tenang dapat dipelajari melalui kesabaran, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam. Lukisan ini mengajak penikmatnya untuk merasakan kedamaian dan menemukan ketenangan dalam kesederhanaan.
NANDA AVRILLEO REYHAN PUTRA PRATAMA
ide dalam karya ini saya menceritakan tentang anak yang menghadap ke langit malam menggambarkan anak yang sedang berharap
NASYA ORCHIDEA WAHYU RAMADHANI
Tema lukisan ini menceritakan seorang anak perempuan yang kehilangan sosok peran penting dalam hidupnya. Ia digambarkan berjalan sendiri di malam hari, melambangkan rasa sepi dan kehilangan. Lentera menjadi simbol harapan dan kekuatan, bahwa meski tanpa sosok tersebut, ia tetap berusaha melangkah dan menemukan cahaya dalam hidupnya.
PLACIDIA AGUSTIN
Lukisan ini menggambarkan sosok peri bercahaya yang duduk menunduk di atas dahan pohon dalam suasana hutan yang gelap. Cahaya kuning keemasan pada tubuh peri menjadi pusat perhatian dan melambangkan harapan di tengah perasaan bimbang dan kesendirian. Perpaduan warna gelap dan terang menciptakan suasana magis, tenang, dan penuh makna.
PRASZUDIN DAMAR WINATA
Lukisan Di Ambang Kebingungan menggambarkan kondisi batin seseorang yang dipenuhi tekanan dan kekacauan pikiran. Figur manusia setengah abstrak dengan garis-garis berantakan, warna gelap, serta tekstur kasar mengekspresikan konflik batin dan rasa terjebak. Kontras cahaya dan simbol visual seperti spiral serta retakan pada kepala memperkuat kesan kebingungan dan pergulatan emosi.
RELIF EXTEEN
Lukisan ini saya beri judul “Indahnya Pantai di Kala Senja”. Ide utamanya adalah ingin menggambarkan suasana pantai yang unik dan berbeda dari biasanya. Saya memilih objekini karena perpaduan wamanya sangat cantik, terutama warna ungu di gunung dan warna pink di pasimya. Saya ingin menunjukkan bahwa pemandangan alam tidak harus selalu berwama hijau atau cokelat, tapi bisa jadi sangat luar biasa dengan warna-warna cerah yang memanjakan mata.
Unsur dan Tampilan Lukisan
Dalam lukisan ini, saya memainkan unsur warna yang kontras, yaitu kuning terang matahari yang bertemu dengan wama ungu gelap di bayangan gunung agar terlihat lebih hidup. Untuk unsunya, saya fokus pada bentuk gunung yang gagah dan garis lengkung ombak yang terlihat berulang-ulang, sehingga mata kita otomatis akan tertuju pada puncak gunung sebagai bagian paling menarik. Pasimya yang berwarna kemerahan juga membenkan kesan hangat pada keseluruhan suasana Teknik yang Digunakan
Untuk tekniknya, saya menggunakan Teknik Impasto, yaitu mengoleskan cat dengan tebal agar tekstur ombak dan gunungnya terasa menonjol atau “timbul”. Saya juga memakai Teknik Kuas Kering untuk memberi kesan kasar pada bebatuan gunung supaya terlihat lebih nyata. Terakhir, ada Teknik Gradasi (Blending) di bagian langit dan air laut agar perpindahan warnanya terlihat halus dan menyatu. sehingga langitnya tampak luas dan dalam
RENO GILANG PUTRA ARDHANA
gambaran tentang kesunyian yang indah dan hubungan alam dengan semesta. satu pohon berdiri sendiri di padang ungu, seolah menjadi saksi keajaiban langit malam yang penuh galaksi. lukisan ini bisa dimaknai sebagai harapan, mimpi, atau pencarian jati diri di tengah kesunyian.
RIZKY DWI OKTABIANTO
Lukisan ini bercerita tentang keberanian untuk menghadapi masa depan. Ia menggambarkan momen sesaat sebelum seseorang mengambil keputusan besar dalam hidupnya, sambil menatap luasnya peluang yang ada di depan mata
SATRIA DWI ANDIKA
Berfikir di luar kotak (umum) untuk menyelaraskan rasa sadar dalam diri bawhwa tanpa di dalam kotak kita bisa bertahan dari segala medan sama seperti mimpi ketika terjebak dari mimpi kita tidak akan mewujudkan tapi ketika kita berada di luar mimpi untuk mewujudkannya
SILVIA PUTRI INDAH GANIS
Karya lukisan ini mengangkat tema magic sebagai representasi perasaan kebingungan dan keraguan terhadap masa depan. Tema ini dipilih untuk menyampaikan kondisi batin pembuat karya melalui simbol visual.
Objek utama berupa siluet sosok seseorang yang digambarkan sendirian dan tampak kebingungan atau bersedih. Penggunaan siluet bertujuan untuk memperkuat kesan misterius, sepi, serta menggambarkan perasaan yang belum memiliki kejelasan arah.
Lukisan ini dibuat dengan teknik plakat, menggunakan sapuan warna tebal dan pekat. Warna gelap mendominasi untuk menciptakan suasana ketidakpastian, sedangkan sentuhan warna cerah berupa cahaya melambangkan unsur magic sebagai simbol harapan dan kekuatan diri. Melalui karya ini, disampaikan pesan bahwa di tengah kebingungan selalu terdapat harapan menuju perubahan yang lebih baik.
WAHYU ERWANTO
ini memperlihatkan suasana alam pada malam hari yang sunyi namun sarat makna. Langit malam yang gelap dipenuhi taburan bintang dan guratan cahaya menyerupai meteor, melambangkan harapan-harapan kecil yang terus bergerak dan menyala di tengah kegelapan. Bulan yang bersinar lembut di tengah langit menjadi simbol penerang, seolah memberi arah dan keyakinan bahwa selalu ada cahaya meski malam terasa panjang.
Gradasi warna biru yang mendominasi bagian tengah lukisan menghadirkan kesan tenang, damai, dan menenangkan jiwa. Warna ini menggambarkan perasaan batin manusia yang sedang merenung, mencari ketenangan, sekaligus menumbuhkan optimisme. Langit yang luas memberi kesan kebebasan dan ruang bagi mimpi serta doa-doa yang dipanjatkan.
Di bagian bawah, siluet pepohonan yang berdiri kokoh menggambarkan keteguhan dan kesabaran. Meski berada dalam gelap, pepohonan tetap tegak menghadap langit, melambangkan manusia yang tetap bertahan dan berharap di tengah berbagai kesulitan. Secara keseluruhan, lukisan ini memperlihatkan pesan bahwa dalam keheningan dan kegelapan malam, selalu tersimpan harapan yang menuntun menuju cahaya dan masa depan yang lebih baik.
WAIFUR ZUFIANTO
Deskripsi Karya: ANTARA ADA DAN TIADA
“Antara Ada dan Tiada” adalah sebuah lukisan monokromatik yang menangkap esensi dari kesunyian, kerinduan, dan kefanaan. Melalui sapuan warna hitam dan putih yang kontras namun lembut, lukisan ini tidak sekadar menggambarkan pemandangan alam, melainkan sebuah lanskap batin yang penuh refleksi.
1. Komposisi Visual dan Simbolisme
Lukisan ini terbagi menjadi beberapa elemen kunci yang membangun narasi “keberadaan” yang samar:
Gunung dan Kabut: Deretan gunung yang menjulang di latar belakang tampak terpotong oleh selimut kabut putih yang tebal. Kabut ini melambangkan sesuatu yang “tiada”—ketidakpastian atau memori yang mulai memudar. Gunung yang kokoh mewakili apa yang “ada”, namun keberadaannya pun tampak rapuh di balik misteri kabut.
Pohon Tunggal yang Merunduk: Di bagian depan, sebuah pohon berdiri dengan dahan yang condong ke arah air. Pohon ini adalah simbol keteguhan di tengah kesendirian. Bentuknya yang gelap dan tegas menjadi jangkar visual yang menghubungkan pengamat dengan realitas yang nyata.
Sampan Kecil: Kehadiran sebuah sampan kecil di permukaan air yang tenang menggambarkan perjalanan hidup manusia. Ia tampak mungil di hadapan alam yang luas, menekankan betapa kecilnya eksistensi kita di tengah semesta yang tak terbatas.
Kawanan Burung dan Air Terjun: Detail kecil seperti burung yang terbang menjauh dan air terjun yang mengalir menambah dinamika pada lukisan. Ini menunjukkan bahwa meskipun suasana terasa sunyi, kehidupan tetap berjalan dalam ritmenya yang paling sunyi.
2. Respons Kreatif dan Perasaan
Judul “ANTARA ADA DAN TIADA” merujuk pada perasaan ambivalen. Lukisan ini seolah-olah menangkap momen sesaat sebelum sesuatu menghilang, atau justru saat sesuatu baru saja muncul dari dalam lamunan.
Penggunaan teknik Sumi-e (gaya lukis tinta Asia) memberikan kesan minimalis namun penuh makna. Ruang kosong (putih) dalam lukisan ini bukan sekadar kanvas yang tidak terisi, melainkan elemen penting yang mewakili “ketiadaan” itu sendiri—sebuah ruang untuk bernapas dan merenung.
Kesimpulan:
Lukisan ini mengajak penikmatnya untuk berhenti sejenak dan menyadari bahwa dalam kehidupan, banyak hal yang berada di ambang batas. Ada keindahan dalam ketidakpastian, dan ada kekuatan di dalam kesunyian yang paling dalam.
YENI UUT SAFIRA
Karya berjudul “Keberuntungan Adalah Sihir yang Nyata” ini merupakan sebuah representasi visual yang mengusung konsep surealisme naratif melalui penerapan teknik wet-on-wet untuk menciptakan gradasi warna cerah yang atmosferik dan dinamis.
Secara struktural, perencanaan karya berfokus pada komposisi elemen anomali berupa figur ikan-ikan yang melayang secara dinamis di atas kepala subjek utama, yang secara metaforis melambangkan keberuntungan sebagai bentuk perlindungan metafisika dan “sihir nyata” dalam menjaga momen-momen berharga, termasuk keselamatan nyawa orang tua.
Penggunaan unsur bentuk dan elemen daun semanggi memperkuat narasi mengenai harapan, sementara penempatan figur sentral yang menghadap cakrawala berfungsi sebagai titik fokus strategis untuk mengajak apresiator masuk ke dalam ruang kontemplasi personal di mana realitas bersinggungan dengan keajaiban yang tak terduga.
YUANA DWI PRAYOGA
Paragraph 1 – Planning of the Idea
The planning of this painting is based on personal reflection and observation of various life problems that often occur within family and social environments. These problems include family economic conditions, emotional relationships between parents and children, and an unstable home atmosphere. In addition, as a twelfth-grade student, there is anxiety related to determining future paths, social relationships with friends, and the pressures of facing life after graduation. These conditions are planned to become the main source of ideas that will be artistically developed into a painting.
Paragraph 2 – Planning of the Theme
Based on the determined idea, the theme planned for this painting is magical fantasy as a representation of inner turmoil and the search for hope. This theme is intended to combine harsh life realities with imaginative and symbolic fantasy elements. Through this theme, the artwork is planned to express emotional instability, inner conflict, and hope for a better future through magical and imaginative visual forms.
Paragraph 3 – Planning of Artistic Elements
In planning this artwork, the visual art elements to be used include line, shape, color, space, and texture. Lines are planned to be applied freely and dynamically to express emotions. The shapes of objects are planned to be imaginative and unrealistic to support the fantasy atmosphere. Colors are planned to combine dark and bright tones as symbols of conflict and hope. The use of space is planned to be layered and illogical, while texture is planned to enhance emotional depth and visual intensity.
Paragraph 4 – Planning of Technique
The technique planned for this artwork is manual painting with an expressive approach. The process is planned to begin with rough sketches to determine composition and main objects. Coloring is planned to be done gradually, starting from base colors and continuing to detailed finishing. Brush strokes are planned to remain visible as a form of expression, emphasizing emotional honesty rather than technical perfection.
Paragraph 5 – Planning of Visual Meaning
The visual elements in this artwork are planned to be arranged symbolically to strengthen the intended message. Fantasy objects, magical light, and fragmented spaces are planned to symbolize inner conflict, social pressure, and uncertainty about the future. Light is planned to represent hope and a way forward, while dark elements represent problems and anxiety. Through this planning, the artwork is expected to convey the message that behind a chaotic life, there is still hope and inner strength to move toward the future.
ACH. SHOFIUDIN
Gambar yg saya buat ini menampilkan seorang ksatria berzirah besi yang duduk termenung di atas sebuah batu besar, dengan pedang tersarung di punggungnya. Posturnya terlihat lelah dan reflektif, seolah sedang merenungi masa lalu atau takdirnya.
Latar belakangnya adalah langit senja berwarna merah muda dan jingga, dengan awan lembut yang memberi suasana hangat namun melankolis. Di sekeliling ksatria tumbuh rumput liar dan bunga-bunga kecil berwarna pink dan kuning, menciptakan kontras antara keindahan alam dan kerasnya sosok pejuang.
Ada serangga kecil atau kupu-kupu yang beterbangan di udara, menambah kesan tenang, puitis, dan emosional. Pencahayaan senja memberi nuansa nostalgia, kesepian, dan kedamaian setelah pertempuran.
AHMAD EKA WIDIYANTO
Gambar ini adalah sebuah lukisan kanvas yang menggambarkan aurora glow (cahaya utara) dengan latar belakang langit malam yang gelap.
– Langit malam: Berwarna biru tua pekat hingga hampir hitam, dihiasi dengan bintang-bintang kecil berwarna putih yang bersinar.
– Aurora: Muncul sebagai aliran bergelombang berwarna biru muda hingga biru kehijauan yang mengalir ke atas, memberikan kesan dinamis dan memukau.
– Latar bawah: Terdapat siluet pepohonan konifer (seperti pinus atau cemara) berwarna hitam yang membentang di bagian bawah kanvas, memberikan kontras yang jelas dengan cahaya aurora dan mempertegas kedalaman pemandangan.
– Latar belakang tempat lukisan diletakkan: Permukaan bertekstur seperti marmer berwarna putih keabu-abuan. Di sudut bawah kiri terlihat tulisan “artsy.esme”, kemungkinan sebagai tanda tangan atau nama pembuat lukisan.
BERLIAN CAHYA NABILA JAYANTI
Saya akan melukiskan sebuah karya lukisan berjudul sunflower girl
Dimana disini saya akan menggabungkan elemen manusia dan alam yang secara visual merepresentasikan kondisi manusia dan pencarian harapan yang abadi.
Saya akan melukis seorang perempuan berkepala bunga matahari dengan tangkai menjuntai dipegang oleh tangan seorang perempuan.
Saya terinspirasi ide ini dari kehidupan saya sendiri dimana saya adalah seorang perempuan yang penuh harapan besar dan pikiran itu selalu berkecambuk dikepala.
Maka saya menemukan ide untuk melukisnya dan mengekspresikannya melalu perempuan yang berkepala bunga matahari.
Bahwasanya saya memaknai arti dari bunga matahari adalah simbol dari “kebahagian,tujuan,harapan”
Dimana dia selalu berharap besar pada cahaya matahari untuk hidupnya,seperti kehidupan saya yang saat ini mengharapkan harapan besar untuk menjalani hidup yang lebih baik,dengan warna bunga yang cerah melambangkan harapan yang positif dalam diri.
Sedangkan tubuh seorang perempuan melambangkan seorang perempuan yang tegguh dengan harapannya.
Dengan tangkai menjuntai dipegang oleh tangan seorang perempuan melambangkan keteguhan memegang sebuah harapan.
penggabungan Dua elemen ini adalah tentang harapan yang besar juga positif seorang perempuan.
Yang cukup membuat pikiran berkecampuk di kepala untuk mengharapkan sebuah cahaya(keberhasilan) di kedepannya.
Saya akan melukis dengan teknik akrilik dengan unsur2 seni rupa yang mencakup titik,garis,bidang,bentuk,warna,tekstur,ruang dan gelap terang
DEWI KARTIKA
Pondok jamur peri adalah lukisan fantasi yang unik dari jamur raksasa di tengah hutan . pondok ini memiliki jendela warna hitam yang memancarkan cahaya gelap misterius, menciptakan kontraksi tajam dengan tekstur alami Diding jamur nya di atas jamur ada sosok peri warna hitam terbang angun di atas jamur keseluruhan karya ini menangkap pesona sinia tersembunyi yang misterius
DHURROTUN NAFISAH
Karya ini mengangkat **tema kesendirian yang dipilih, bukan dipaksa**. Terinspirasi dari sosok seseorang yang dikelilingi banyak orang, namun perasaannya tak pernah benar-benar didengar dan dipahami. Kesendirian dalam karya ini tidak hadir karena sepi, melainkan karena ketidakmampuan lingkungan untuk memahami batinnya. Kesedihan yang ia rasakan justru menuntunnya memilih menyendiri, sebab hanya dalam sunyi ia menemukan ketenangan dan mampu berdamai dengan perasaannya sendiri.
Secara visual, karya diwujudkan melalui **teknik layering**, **gradasi warna**, dan **sapuan halus** yang membangun suasana lembut dan hening. **Unsur seni rupa** seperti titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, dan ruang disusun harmonis untuk memperkuat kedalaman emosi. **Elemen visual** berupa bintang-bintang kecil, bulan sabit, dan sosok perempuan yang duduk menjadi simbol refleksi diri dan keheningan malam. Perpaduan warna gelap dan terang menciptakan kontras suasana sunyi, sementara visual air yang diam menghadirkan kesan tenang dan menenangkan, sebagai ruang aman tempat jiwa beristirahat.
DIKI SAPUTRA
Gambar tersebut, yang sering terinspirasi oleh lagu Radiohead “Let Down,” adalah simbol kuat dari kebangkitan dan harapan di tengah keputusasaan; sosok yang berlutut mewakili perasaan lelah dan tertekan oleh realitas, sementara sayap besar yang terbentang melambangkan keinginan dan potensi kuat untuk mencapai kebebasan, dengan teks “IM GONNA GROW WINGS” berfungsi sebagai pernyataan tekad bahwa penderitaan akan diubah menjadi kekuatan untuk bangkit dan melarikan diri dari batasan.
FIRDA SUKMA AYU
Karya seni ini, berjudul “Jembatan Jiwa yang Tercabik (torn bridge of souls)”, adalah eksplorasi visual yang mendalam tentang dualitas eksistensi. Lukisan ini menggambarkan dua jiwa atau realitas yang terhubung secara misterius namun secara tegas dipisahkan oleh pilar kegelapan sentral. Ini menangkap momen ketegangan antara terang dan bayangan, merepresentasikan hubungan emosional yang kompleks, konflik internal, atau alam mimpi yang penuh misteri.
Secara teknis, lukisan ini memadukan dua pendekatan cat air yang kontras:
Teknik Aquarel (Transparan): Digunakan pada latar belakang, teknik ini menciptakan efek warna yang lembut, transparan, dan menyebar (biru tua, kuning, dan merah muda keunguan) melalui metode “basah di atas basah”.
Teknik Plakat (Opaque/Pekat): Diterapkan menggunakan metode “basah di atas kering”, teknik ini menghasilkan siluet dan garis hitam yang pekat dan tegas, seperti yang terlihat pada sosok manusia dan pilar kegelapan, memberikan kontras dramatis pada latar belakang yang lembut.
INDAH ROFIATUL MAHMUDAH
Taman rahasia seorang penyihir baik hati tersembunyi di dalam hutan kuno yang hidup dari sihir alami. Di tengah-tengahnya, lentera ajaib menyala dengan cahaya lembut, dikelilingi oleh bunga merah yang mekar saat bulan redup. Akar-akar hitam yang menggantung seperti urat nadi hutan, menyalurkan energi magis ke lentera penjaga. Lentera ini bukan sekadar cahaya – ia menyimpan harapan yang terlupakan, doa-doa yang pernah diucapkan tapi tak pernah terjawab. Hanya mereka yang berani menghadapi ketakutannya di hutan itulah yang dapat menyalakan lentera, menjaga keseimbangan antara sihir gelap dan terang. Makhluk peri meninggalkan lentera ini sebagai penanda wilayah mereka, dan siapa pun yang menyentuhnya akan kehilangan ingatan dunia lamanya. 🌟
M. QOIRUL ANAM
Lukisan Lanskap (Landscape Painting): Karya ini termasuk dalam genre lukisan lanskap, yang merupakan penggambaran pemandangan alam seperti pohon, hutan, dan sungai, di mana subjek utamanya adalah pemandangan yang luas.
Seni Hutan Impian (Dreamlike Forest Art): Konsep spesifiknya merujuk pada “dreamlike forest art”, yaitu karya seni yang menggambarkan hutan dengan cara yang sangat imajinatif dan tidak realistis.
Gaya Representatif dan Imajiner: Meskipun menggunakan elemen alam yang dapat dikenali (gaya representatif), lukisan ini tidak meniru alam apa adanya secara ketat (naturalisme). Sebaliknya, seniman menggunakan imajinasi untuk menciptakan suasana magis dengan elemen-elemen seperti cahaya yang menggantung, pintu kecil di dalam pohon, dan flora yang fantastis.
Suasana dan Emosi: Konsepnya berfokus pada penciptaan suasana damai, misterius, dan penuh fantasi, mengundang penikmat seni untuk masuk ke dunia khayalan.
MUHAMMAD RIZZA FAIZZIN
Lukisan ini menggambarkan perjalanan seseorang yang berusaha menggapai cahaya sihir sebagai simbol harapan dan pencarian makna. Cahaya melambangkan ilmu dan tujuan, sementara ruang gelap di sekitarnya menunjukkan tantangan yang harus dilewati.
NADINDA MELANI
koneksi spiritual antar makhluk hidup dan alam semesta.
NAMIRA ELFA ANJANI
Sebuah lukisan yang menggambarkan harmoni kehidupan makhluk mistis di sebuah rumah pohon raksasa. Terletak di tepi sungai cahaya yang mengalir tenang, suasana malam terasa hangat berkat kehadiran bulan sabit yang tersenyum dan rasit bintang yang menghiasi langit pastel.
NASSILA WAHYU ELFASARI
Lukisan ini bertema harapan yang terinspirasi dari perjalanan batin diri pelukis sendiri. Karya ini menggambarkan sosok seseorang yang terbiasa memendam segalanya sendirian, berada di titik hampir pasrah, tapi masih menyimpan keyakinan bahwa harapan itu tetap ada. Di tengah rasa gelap dan keterpurukan, ada kepercayaan kalau akan selalu muncul hal kecil yang bisa jadi alasan untuk bangkit dan terus melangkah menuju kebebasan.
Objek utama digambarkan dalam bentuk siluet manusia yang tampak diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kehadiran burung menjadi simbol harapan dan kebebasan, seolah menjadi penanda bahwa meskipun keadaan terasa berat, masih ada titik terang yang menuntun perlahan keluar dari kegelapan. Lukisan ini ingin menyampaikan pesan bahwa harapan tidak selalu datang dengan cara besar, tapi bisa hadir pelan-pelan dan membantu seseorang bangkit sedikit demi sedikit.
Dari segi teknik berkarya, lukisan ini menggunakan teknik siluet dengan permainan warna gradasi pada latar belakang. Warna gelap dipakai pada objek utama seperti manusia dan burung untuk memperkuat kesan sunyi, berat, dan tertekan. Sementara itu, latar belakang dibuat lebih terang dan halus, memberi kontras yang kuat sekaligus melambangkan harapan dan cahaya di balik masa sulit. Teknik ini cenderung ilustratif dengan sapuan warna tipis dan tekstur yang lembut, kemungkinan menggunakan cat akrilik atau cat air di atas kanvas atau kertas.
Pada unsur seni rupa, garis terlihat pada tali burung yang memanjang dan tipis, menciptakan kesan rapuh namun tetap terarah, seolah menggambarkan kondisi jiwa yang lemah tapi masih punya tujuan. Bentuk siluet manusia dan burung dibuat sederhana namun jelas, sehingga fokus utama tetap pada makna, bukan detail. Untuk warna, perpaduan warna gelap dan terang menjadi elemen penting yang memperkuat suasana emosional, menggambarkan peralihan dari kegelapan menuju titik terang penuh harapan.
OKTAVIA DWI ARIYANI
Lukisan ini menggambarkan kontras dramatis antara kegelapan dan cahaya, melambangkan pertentangan antara baik dan jahat atau dua dunia yang berbeda. Sosok penunggang kuda gelap berdiri tegak di latar depan gelap, sementara sosok bercahaya menunggang kuda putih di atasnya, memancarkan cahaya di tengah hutan gelap.
Teknik plakat/aquarel dengan cat akrilik digunakan untuk menciptakan efek dinamis pada cahaya dan jubah sosok putih. Garis-garis yang mengalir dan dinamis membentuk figur dan kuda.
Warna-warna gelap mendominasi latar belakang dingin, sementara warna-warna dingin mendominasi figur dan latar depan yang gelap, menciptakan kontras gelap-terang serta pohon-pohon sekeliling yang menonjolkan figur-figur utama. Bentuk-bentuk kuda dan figur manusia terlihat jelas dan realistis, memberikan struktur pada komposisi.
Lukisan ini memberikan kesan tekstur yang kuat, terutama pada jubah yang tampak halus dan mengalir. Objek yang tumpang tindih dan perbedaan ukuran menunjukkan adanya latar depan, tengah, dan belakang, menciptakan kedalaman dan fokus
REVIANA DUWI AGUSTIN
Karya ini adalah sebuah refleksi diri atas kekaguman mendalam terhadap semesta. Lukisan ini merangkum jejak spiritualitas di ketinggian gunung—tempat kehangatan tegur sapa antar orang asing berpadu dengan keteduhan pepohonan rindang—hingga kedamaian di pesisir saat angin sejuk membelai sukma. Sebagai poros utama, pancaran cahaya bulan hadir bukan sekadar elemen visual, melainkan simbol cahaya batin yang mengikat seluruh memori indah tersebut menjadi satu bentuk kecintaan yang abadi terhadap alam.”
RIKY WAHYU FIRDIANSYAH
Tema adalah gagasan pokok, ide sentral, atau pesan yang mendasari sebuah karya seni rupa .Lukisan dalam gambar menunjukkan seniman sedang mengekspresikan perasaan, jiwa, dan emosi pribadinya melalui gaya lukisan abstrak. Salah satu tema umum dalam seni lukis adalah hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, di mana seniman menjadikan pengalaman internal sebagai objek karyanya.
Gaya Abstrak: Penggunaan teknik sapuan kuas yang dinamis dan pilihan warna yang kuat menunjukkan fokus pada ekspresi subjektif daripada representasi realistik objek, yang sejalan dengan pencarian “lukisan ekspresi jiwa dan emosi” yang terlihat di teks gambar.
SALSABILLA ELOVA ZAHRA
Lukisan ini menggambarkan sebuah buku terbuka yang menjadi bingkai atau jendela menuju dunia lain. Di tengah “halaman” buku tersebut, terdapat pemandangan malam yang dramatis:
* Sosok Wanita: Di bagian tengah bawah, terlihat punggung seorang wanita berambut pirang yang mengenakan gaun hitam panjang bermotif bintang-bintang (seperti galaksi). Ia tampak sedang menatap ke arah kastil.
* Pemandangan Pusat: Terdapat siluet kastil tua di atas bukit yang disinari oleh sebuah bintang atau matahari putih yang sangat terang dengan pancaran sinar yang tajam.
* Efek Tetesan: Di bagian bawah buku, terdapat aksen cat hitam yang menetes ke bawah, memberikan kesan seolah-olah dunia di dalam buku itu “meluap” atau mencair ke dunia nyata.
Elemen Teks
Yang membuat lukisan ini unik adalah banyaknya tulisan tangan di sisi kiri dan kanan halaman buku yang berisi pujian atau deskripsi tentang seseorang (kemungkinan besar merujuk pada wanita di dalam lukisan tersebut).
Beberapa kata yang terbaca antara lain:
* Sisi Kiri: “She is an independent…”, “Smart”, “Great”, dan angka “1471”.
* Sisi Kanan: “Good woman”, “Pretty”, “Cute”, “Funny”, “Cheerful”, “Special”, dan kata “LIBRA” di bagian bawah (mungkin merujuk pada zodiak).
Suasana dan Gaya
* Warna: Didominasi oleh warna biru tua, hitam, dan krem kehijauan di bagian dalam, sementara latar belakang luar buku berwarna biru muda keunguan.
* Kesan: Lukisan ini memberikan kesan romantis sekaligus misterius. Penggunaan buku sebagai jendela menunjukkan bahwa seseorang memiliki “cerita” atau dunia batin yang luas dan magis di balik penampilan luarnya.
SETYO RINI
Karya lukisan ini menampilkan keindahan jamur liar yang tumbuh alami di hutan, dengan fokus pada bentuk, warna, dan tekstur uniknya. Melalui sapuan kuas yang halus dan detail, lukisan ini mengajak penikmat untuk menghargai keindahan tersembunyi di alam dan menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Jamur, sebagai simbol kehidupan kecil yang memiliki peran besar, menjadi pusat perhatian dalam karya ini. Dengan demikian, karya ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap keindahan alam yang sederhana dan menjaga kelestariannya.
SHERINA JULIANTI
Lukisan ini menghadirkan tema fantasi alam yang magis dan penuh ketenangan. Karya tersebut menggambarkan sebuah perjalanan batin yang sarat dengan harapan dan keajaiban. Jalan setapak bercahaya di tengah hutan tampak seolah mengajak penikmat lukisan memasuki dunia imajinatif, menjadi simbol pencarian makna hidup, ketenangan jiwa, serta awal dari sesuatu yang baru. Cahaya kuning yang menyerupai kunang-kunang menambah kesan kehidupan dan nuansa magis yang menenangkan.
Lukisan ini dibuat dengan teknik akrilik, menggunakan gradasi warna yang memadukan biru, ungu, dan hijau untuk menciptakan suasana malam yang mistis. Selain itu, teknik layering (berlapis) diterapkan untuk membangun kesan kedalaman pada hutan dan lanskap di sekitarnya. Elemen visual yang ditampilkan meliputi cahaya, hutan dengan pepohonan tinggi, jalan setapak, jamur, gunung, serta aliran sungai. Dominasi warna gelap yang dipadukan dengan aksen cahaya terang semakin memperkuat suasana magis dan damai dalam lukisan ini.
SITI KHALIMAH
Deskripsi Karya: “Why Am I?”
Judul: Why Am I?
Medium: (Contoh: Cat Minyak/Akrilik di atas Kanvas)
Tema: Eksistensialisme, Kelelahan Mental (Burnout), dan Isolasi Sosial.
Narasi Konsep:
“Why Am I?” adalah sebuah refleksi visual tentang paradoks kegunaan diri. Di satu sisi, menjadi sosok yang selalu diandalkan di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial adalah sebuah validasi atas keberadaan diri. Namun, di sisi lain, lukisan ini menangkap momen ketika “diandalkan” perlahan berubah menjadi “dimanfaatkan”—sebuah titik di mana ekspektasi orang lain menjadi parasit yang menghisap energi psikis pelukisnya.
Elemen Visual dan Simbolisme:
Gestur Tubuh: Figur manusia yang menunduk dalam ruang gelap gulita melambangkan hilangnya orientasi diri akibat beban eksternal. Latar belakang hitam pekat sengaja diciptakan untuk mengisolasi subjek, menunjukkan bahwa di tengah banyaknya orang yang meminta bantuan, sang individu tetap merasa sendirian menanggung bebannya.
Tangan dan Kepala: Elemen sentral berupa tangan yang menggenggam erat isi kepala mencerminkan upaya putus asa untuk menjaga kewarasan. Genggaman ini adalah simbol dari “suntuk” dan kepenatan yang memuncak—sebuah usaha untuk menahan isi kepala agar tidak pecah oleh tanggung jawab yang sebenarnya bukan miliknya.
Tekstur dan Garis: Torehan garis yang kasar dan tajam pada area kepala merepresentasikan konflik batin dan rasa iri terhadap mereka yang bisa hidup “petantang-petentang” tanpa beban. Sapuan kuas yang tebal (impasto) memberikan dimensi fisik pada rasa sesak yang tak kasat mata.
Pesan Penutup:
Karya ini tidak hanya sekadar protes, melainkan sebuah pertanyaan jujur: Sampai kapan keberadaan saya hanya didefinisikan oleh seberapa besar saya bisa memikul beban orang lain? Melalui kontras antara kegelapan latar dan ketegangan otot pada figur, “Why Am I?” mengajak penonton untuk melihat bahwa di balik sosok yang “bisa segalanya,” ada jiwa yang sedang memohon untuk sekadar berhenti dan bernapas.
SITI NUR FADHILAH
Rahasia di Balik Pintu Jamur
Di jantung hutan yang selalu diselimuti kabut cahaya, berdirilah sebuah kediaman megah yang tidak dibangun dari batu atau bata, melainkan tumbuh dari sisa-sisa keajaiban kuno. Sebuah rumah jamur raksasa dengan atap bintik merah yang menyala, seolah-olah menyimpan api abadi di dalamnya.
Detail Keajaiban:
* Pintu Kayu yang Pendiam:
Terbingkai oleh lengkungan batu sungai yang kokoh, pintu kayu jati tua itu tampak sangat tenang. Namun, konon pintu ini hanya bisa terbuka bagi mereka yang bisa mendengar bisikan angin hutan.
* Jendela yang Mengintip: Cahaya keemasan hangat merembas dari setiap jendela kecil, menandakan ada kehidupan yang sibuk di dalam sana. Apakah itu tempat tinggal para peri perajin, atau laboratorium rahasia seorang alkemis hutan
* Arsitektur Bertingkat: Jamur-jamur kecil yang menempel di sisi bangunan berfungsi sebagai balkon dan ruang tambahan, dihubungkan oleh sulur-sulur tanaman hijau yang merambat seolah-olah sedang memeluk seluruh rumah agar tetap tegak.
* Lansekap Magis: Di sekelilingnya, bunga-bunga biru dan kuning bermekaran meski tanpa sinar matahari langsung, sementara jalan setapak dari batu pipih menuntun setiap pengunjung asing menuju ambang pintu misteri.ti
SOFYA NURRIANI
Sebuah pemandangan malam yang damai dan sunyi, dengan bulan purnama yang besar dan terang menghiasi langit. Siluet seorang anak di ayunan, di bawah pohon yang rindang, menciptakan kesan kontemplasi dan nostalgia. Cahaya bulan yang lembut menyinari pemandangan, menciptakan kontras yang kuat antara terang dan gelap. Warna-warna dingin seperti biru dan hitam mendominasi, menambah kesan tenang dan misterius. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit, menciptakan irama visual yang menenangkan. Suasana ini mengundang kita untuk bermimpi, bernostalgia, dan merenungkan kehidupan.
VIRGIANATA ADINDA PUTRI
“Kembali ke Alam”
Lukisan ini menggambarkan seorang wanita yang sedang “pulang” ke alam untuk menyegarkan pikiran dan merayakan pertumbuhan dirinya sendiri. Dia dikelilingi oleh bunga-bunga yang bermekaran, simbol pertumbuhan dan keindahan.
Dengan teknik impasto ringan, lukisan ini menciptakan efek timbul pada kelopak bunga, membuat penonton seolah-olah dapat menyentuhnya. Teknik dap/stippling digunakan untuk menciptakan kesan rimbun tanpa harus menggambar detail setiap helai daun.
Lukisan ini juga menggunakan layering, dengan latar belakang hijau gelap yang ditumpuk dengan warna yang lebih terang untuk menciptakan dimensi cahaya. Figur wanita berbaju biru adalah titik fokus utama, dengan warna yang paling terang di tengah layar gelap.
Lukisan ini menyampaikan pesan tentang mencintai diri sendiri dan kenyamanan saat berada jauh dari keramaian dunia luar. Ini adalah undangan untuk kita semua untuk kembali ke alam dan merayakan keindahan diri sendiri.
DIANA ISNAIWA PUTRI SUBANDI
Lukisan ini menggambarkan seorang wanita yang sedang “pulang” ke alam untuk menyegarkan pikiran dan merayakan pertumbuhan dirinya sendiri. Dia dikelilingi oleh bunga-bunga yang bermekaran, simbol pertumbuhan dan keindahan.
Judul Lukisan:
“kebebasan ditengah hutan”
Tema:
Aku ingin kebebasan, ingin melangkah tanpa rasa takut, tanpa batas, dan tanpa dikurung oleh apa pun, aku ingin berkarya tanpa larangan apapun
Unsur Seni Rupa yang Digunakan:
Unsur garis tampak pada lekukan tubuh kuda, batang pohon, dan dedaunan yang membentuk kesan gerak. Unsur bentuk terlihat jelas pada figur kuda dan pepohonan yang bersifat organik. Warna didominasi hijau, cokelat, dan kuning keemasan yang memberi kesan alami dan hangat. Gelap-terang digunakan untuk menonjolkan pencahayaan matahari yang menembus hutan sehingga menciptakan suasana dramatis. Tekstur tampak pada bulu kuda, daun, dan tanah hutan yang terlihat hidup. Ruang diwujudkan melalui latar depan, tengah, dan belakang sehingga lukisan terasa mendalam.
Elemen:
Kesatuan terlihat dari perpaduan warna dan objek yang saling mendukung. Keseimbangan bersifat asimetris, dengan fokus utama pada kuda yang bergerak dinamis. Penekanan terletak pada warna putih kuda yang kontras dengan latar hutan. Irama tampak dari pengulangan bentuk pohon dan arah cahaya. Harmoni tercipta dari keselarasan warna alam dan suasana yang tenang namun kuat.
KHOIRUL MUKSININ
1. Ide / Gagasan
Karya ini mengangkat keindahan alam Jepang, dengan fokus pada Gunung Fuji sebagai simbol ketenangan, keagungan, dan keseimbangan alam. Kehadiran bunga sakura melambangkan keindahan yang sementara, kedamaian, dan nuansa romantis. Ide utamanya adalah menampilkan suasana alam yang tenang dan menyejukkan hati.
2. Teknik Berkarya
Teknik yang digunakan adalah teknik lukis cat akrilik dengan:
• Teknik blocking untuk pewarnaan langit dan gunung
• Teknik gradasi pada langit dan gunung agar terlihat halus dan natural
• Teknik sapuan kuas (brush stroke) untuk tekstur gunung dan bunga sakura
Media yang digunakan berupa kanvas kecil dan kuas pipih.
3. Unsur Seni Rupa
Unsur-unsur seni rupa yang tampak dalam karya ini antara lain:
• Titik: terlihat pada detail bunga sakura
• Garis: pada cabang pohon dan kontur gunung
• Bidang: gunung, langit, dan danau
• Warna: dominasi biru (tenang, sejuk), putih (salju), dan pink (sakura)
• Tekstur: tekstur semu pada gunung dan bunga
• Ruang: tercipta dari perbedaan ukuran dan gradasi warna (depan–belakang)
MUHAMMAD DIMAS GILANG FAJAR FAIZUL HAK
Ide Lukisan
“Sepasang kekasih duduk di bangku taman saat senja, ditemani cahaya lampu dan langit penuh bintang.”
Fokusnya bukan detail wajah, tapi perasaan (mood): hangat, tenang, romantis.
simbol cinta (bulan berbentuk hati / bintang)
AHMAD JULIAN MAULUDA
TOKOH YANG MELAMBANGKAN KEBEBASAN
AHMAD KHOIRUL ROZIQIN
saya akan membuat sebuah konsep yang terinspirasi dari diri saya sendiri. yang merefleksikan malam hari tanpa ponsel. teknik yang saya gunakan adalah layering dan gradasi untuk menciptakan kedalaman visual yang membuat objek terlihat berlapis dan nyata, serta nuansa emosional yang kuat, yang menghadirkan suasana misterius, tenang, dan magis. dalam karya ini saya menggambarkannya melalui sosok seorang misterius yang berjubah yang sedang membaca buku dan secangkir kopi di sampingnya. saya juga akan menggunakan visual yang gelap untuk membuat suasana terlihat tegang, misterius dan penuh makna
ARDIANSYAH KARISMAWAN SAPUTRA
Bulan purnama adalah wajah malam yang paling utuh. Ia menggantung bulat sempurna di langit, memantulkan cahaya matahari dengan lembut namun penuh wibawa. Cahayanya tidak menyilaukan, justru menenangkan—menyapu gelap dengan kilau perak, membuat bayangan menjadi panjang dan sunyi. Di bawah bulan purnama, malam terasa lebih hidup, seakan alam berhenti sejenak untuk bernapas perlahan.
Suasana hati yang hadir sering kali menyerupai cahaya itu sendiri: tenang, reflektif, namun juga sarat perasaan. Ada rasa penuh—seperti sesuatu yang telah mencapai puncaknya. Bagi sebagian orang, bulan purnama membawa kedamaian dan kejelasan; bagi yang lain, ia membangkitkan kerinduan, kenangan lama, atau emosi yang selama ini tersembunyi. Hati terasa lebih peka, pikiran lebih jujur, dan perasaan mengalir tanpa banyak penahan—sebagaimana bulan purnama yang tak lagi setengah, tapi utuh sepenuhnya.
DWI AGUS SAPUTRA
lukisan ini mengartikan tentang perenungan nasib & masa seperti kesepian, keraguan, dan pencarian jati diri. dan kata ‘midnight sun’ atau ‘matahari tengah malam’ memiliki arti konflik antara terang dan gelap Jiwa yang terluka, tapi belum sepenuhnya padam, dan cahaya yang tetap ada meskipun seharusnya malam total. ksatria yang saya gambar bermakna: meski takut, terluka, atau ragu, ksatria tetap melangkah. bukan karena tak merasa sakit, tapi karena memilih bertahan.
EDY KURNIAWAN
Gambar tersebut menampilkan sebuah lukisan kanvas yang digantung atau ditempatkan pada sebuah benda berwarna kayu kekuningan. Lukisan itu menggambarkan pemandangan alam pada malam atau senja hari dengan komposisi yang menarik.
– Langit: Bergradasi warna dari ungu muda di bagian atas hingga merah muda kemerahan di bagian tengah, dengan sebuah bulan atau bintang terang berbentuk lingkaran di tengahnya dan beberapa titik kecil yang kemungkinan adalah bintang.
– Pohon dan Vegetasi: Dua batang pohon besar dengan dedaunan yang digambarkan sebagai siluet hitam berada di sisi kiri dan kanan, sementara hamparan vegetasi rendah juga sebagai siluet hitam terletak di antara kedua pohon tersebut, membentuk garis cakrawala.
– Danau/Sungai: Bagian bawah lukisan menggambarkan permukaan air yang mencerminkan warna langit (merah kemerahan dan biru tua di bagian bawah) serta bentuk bulan dan pohon, menciptakan kesan simetri yang indah.
– Latar Belakang Fisik: Lukisan diletakkan di dekat dinding putih dan bagian dari sebuah struktur berwarna abu-abu terlihat di sisi kiri. Ada juga sebuah label kecil bertuliskan “SMA N 1 SINGGAHAN” di bagian atas benda kayu kekuningan.
FALENTINO
sky land
konsep saya terinspirasi dari diri saya sendiri yaitu tentang masa depan yang masih belum diketahui
AGUS FIRMANSYAH
1. Eksistensi yang Memudar: Sosok dari rasi bintang kehilangan identitas karena kesendirian dan menjadi bagian alam semesta sunyi.
2. Harapan yang Terkurung: Lentera dengan burung cahaya adalah harapan terakhir yang terperangkap namun tetap menerangi kegelapan.
3. Memori yang Membeku: Benda-benda membeku menjadi kristal menunjukkan waktu sosial berhenti, hanya tersisa monumen masa lalu yang dingin.
4. Kerinduan pada Interaksi (Bayangan): Bayangan di bawah pulau melayang memiliki dinamika berbeda, menyimbolkan keinginan untuk berinteraksi dengan yang sudah tidak ada.
5. Ruang Hampa (Negative Space): Kegelapan luas menekankan jarak dari dunia nyata dan inti rasa kesepian absolut.
MUHAMMAD KHOIRUL NUR RIFA’I
:
Sebuah pemandangan malam yang sunyi, dipenuhi nuansa biru dan ungu yang dingin. Di tengah kegelapan, sebuah portal bercahaya terbuka, memancarkan cahaya lembut seolah menjadi penghubung antara dua dunia. Cahaya itu memantul di sekelilingnya, menciptakan ilusi gerakan seperti air, kabut, atau energi yang perlahan mengalir.
Bintik-bintik putih menyerupai bintang atau salju melayang di udara, menambah kesan magis dan tak nyata. Bentuk-bentuk gelap di sekitarnya seakan hidup, melindungi sekaligus mengawasi portal tersebut. Suasana keseluruhan terasa hening, misterius, dan penuh rasa ingin tahu-seolah satu langkah ke depan akan membawa siapa pun ke dunia yang belum pernah dijelajahi.
AHMAD ABU ZHARIN
Judul
“Di Hadapan Yang Lebih Besar”
Deskripsi
Karya ini menggambarkan pertemuan manusia dengan kebesaran alam. Seorang sosok kecil melayang di kedalaman laut, berhadapan dengan makhluk raksasa yang muncul bersama cahaya dari permukaan air. Momen ini bukan tentang penguasaan, melainkan tentang kesadaran akan skala—tentang bagaimana manusia sering kali menjadi kecil di tengah luasnya semesta alam.
Cahaya yang menembus air menghadirkan suasana sunyi dan tenang, menekankan hubungan yang hening antara manusia dan alam sekitarnya. Sosok manusia hadir bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai pengamat yang belajar untuk merendah, memahami, dan berdamai dengan ketidakterbatasan alam.
Lukisan ini merefleksikan perjalanan batin: menerima keterbatasan diri, tanpa kehilangan keberanian untuk tetap hadir dan menyadari posisinya sebagai bagian kecil dari alam raya.
ANGGA PUTRA MAEDA
tetap semangat
ANDREAN PRASETYA
Ide Karya Lukis (Konsep & Makna)
Lukisan ini berangkat dari gagasan tentang seseorang yang tenggelam di laut sebagai simbol dari masa lalu yang belum sepenuhnya selesai. Laut digambarkan bukan hanya sebagai ruang alam, tetapi sebagai kumpulan kenangan, penyesalan, dan peristiwa yang pernah menyakitkan. Sosok yang tenggelam merepresentasikan diri manusia yang terjebak dalam ingatan lama—trauma, kesalahan, atau harapan yang gagal—yang terus menariknya ke bawah meskipun waktu telah berjalan. Masa lalu dalam lukisan ini tidak hadir sebagai sesuatu yang terlihat jelas, melainkan sebagai tekanan tak kasatmata yang perlahan menguasai pikiran.
Masalah utama yang diangkat dalam karya ini adalah ketidakmampuan manusia untuk berdamai dengan masa lalunya sendiri. Tenggelam bukan berarti menyerah secara fisik, tetapi menggambarkan kondisi batin saat seseorang merasa sendirian, tidak didengar, dan tidak mampu mengungkapkan beban yang dipikulnya. Air laut melambangkan emosi yang menumpuk—semakin dalam, semakin sunyi—sementara permukaan laut menjadi batas antara apa yang tampak dari luar dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri. Lukisan ini ingin menyampaikan pesan bahwa banyak orang tampak baik-baik saja di luar, namun sedang berjuang keras di dalam dirinya.
Secara keseluruhan, karya ini mengajak penikmatnya untuk merenung: apakah kita benar-benar sudah keluar dari masa lalu, atau sebenarnya masih berusaha bernapas di dalamnya. Lukisan ini bukan tentang kematian, melainkan tentang perjuangan untuk bertahan, memahami diri sendiri, dan keberanian untuk naik ke permukaan—meski pelan dan penuh rasa takut.
DWI HARYANTI FERNANDA
Karya ini dimaknai sebagai perjalanan mencari kebenaran atau pengetahuan. Lentera melambangkan harapan atau kecerdasan di tengah ketidaktahuan (hutan yang berkabut), sedangkan bunga kristal melambangkan keajaiban yang hanya bisa ditemukan jika seseorang berani menjelajah lebih jauh.
FARIDATUN NUR FADHILAH
Karya ini bermakna tentang perjalanan hidup seseorang dalam meraih mimpi dan harapan. Sosok anak yang mengulurkan tangan ke langit melambangkan usaha, doa, dan keinginan kuat untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Suasana malam menggambarkan tantangan, keraguan, dan ketidakpastian yang sering dihadapi dalam kehidupan.
Kelinci yang melayang menjadi simbol harapan, kepolosan, dan keberanian kecil yang terus bergerak maju. Cahaya dan bintang melambangkan mimpi yang tetap bersinar meskipun keadaan terasa sulit. Secara keseluruhan, karya ini mengajarkan bahwa dalam kondisi apa pun, manusia harus tetap berani bermimpi, percaya pada diri sendiri, dan terus melangkah menuju tujuan hidup.
FIL FIRA ANINDITA
Terinspirasi dari drama china The Untamed, yang bergenre fantasy, heroes, misteri dan persahabatan. Yang dimana kedua pemeran utama dipisahkan oleh kedua aliran yang berbeda, yang satu memilih untuk mengikuti ilmu jahat, sedangkan yang satu lagi memilih ikut ilmu yang sesuai aturan dan norma didalam drama itu. Namun mereka tetep bertekad untuk bersatu membongkar kebenaran dan mewujudkan keadilan yang sesungguhnya, meski keduanya memiliki jalan yang berbeda hal itu sama sekali bukan hambatan dan mereka terus-menerus melawan apapun yang menghalangi mereka untuk sampai tujuan. Seperti dua sahabat yang awalnya berada di kelompok yang sama, tumbuh dan belajar bersama sejak awal, berbagi banyak waktu, kebiasaan, dan tujuan. Dalam perjalanan waktu, keadaan membawa mereka ke arah yang berbeda hingga masing-masing bergabung dengan kelompok yang tidak sama. Lingkungan baru itu perlahan membentuk cara mereka menjalani hari, menentukan pilihan, dan menghadapi keadaan di sekelilingnya. Meski langkah mereka tak lagi berdampingan seperti sebelumnya, tujuan yang ingin mereka capai tetap serupa. Mereka tidak bermusuhan dan tidak saling meninggalkan, hanya belajar menerima bahwa perubahan adalah bagian dari perjalanan, dan bahwa ikatan yang pernah terjalin tidak selalu harus berjalan pada jalan yang sama untuk tetap berarti.Kelinci yang melayang menjadi simbol harapan, kepolosan, dan keberanian kecil yang terus bergerak maju. Cahaya dan bintang melambangkan mimpi yang tetap bersinar meskipun keadaan terasa sulit. Secara keseluruhan, karya ini mengajarkan bahwa dalam kondisi apa pun, manusia harus tetap berani bermimpi, percaya pada diri sendiri, dan terus melangkah menuju tujuan hidup.
FITRIA AMELIA RAHMAH
Lukisan ini menggambarkan diri penulis melalui sosok Rapunzel yang memandang langit malam dari balik jendela. Lentera-lentera yang berjumlah banyak melambangkan berbagai mimpi dan harapan yang dimiliki, menunjukkan bahwa masa depan tidak hanya memiliki satu tujuan, melainkan banyak kemungkinan yang ingin dicapai.
Cahaya lentera menjadi simbol kebebasan penulis dalam memilih arah hidup serta harapan nyata untuk berani melangkah ke depan. Lukisan ini juga mencerminkan keinginan untuk memperoleh kebebasan dalam menentukan masa depan melalui proses belajar
di kelas esok dan kehidupan yang akan datang.
HUSNA MARIAH HUMEIROK
1. Ide / Inspirasi
Inspirasi karya ini lahir dari fragmen imajinasiku tentang sebuah dunia tersembunyi, di mana objek paling sederhana pun memiliki nyawa. Aku membayangkan diriku sebagai jamur merah raksasa ini sebuah entitas yang berbeda dan mencolok di tengah padang bunga yang seragam. Ini adalah simbol tentang keberanianku untuk berdiri tegak di tengah keramaian. Bagiku, ini bukan sekadar lukisan alam, melainkan sebuah gerbang menuju sisi magis dalam perjalanan hidupku, di mana keajaiban selalu muncul saat aku berani menjadi diriku sendiri secara utuh.
2. Makna Karya
Karya ini mengisahkan tentang ketangguhan dan keunikan hidupku. Jamur merah yang kontras melambangkan jati diriku yang tetap bersinar meski berada di lingkungan yang berbeda. Bunga-bunga di sekitarnya adalah orang-orang dan pengalaman yang mewarnai hari-hariku. Makna terdalamnya bagiku adalah: aku tidak perlu menjadi “bunga” untuk dianggap indah. Hidupku adalah sebuah fantasi ajaib yang aku lukis sendiri, di mana setiap perbedaan yang aku miliki adalah sumber kekuatan utama yang membuatku istimewa.
3. Teknik Berkarya
Aku menggunakan teknik Impasto dengan sapuan cat yang tebal dan bertekstur. Bagiku, tekstur kasar dan gumpalan cat yang timbul ini adalah representasi dari setiap rintangan dan pengalaman hidupku yang tidak selalu mulus. Goresan-goresan yang tidak rata ini tidak aku tutupi, melainkan aku tonjolkan, karena aku percaya bahwa bekas luka dan kerja keras di masa lalu justru memberikan “dimensi” dan karakter yang kuat pada sosokku saat ini.
4. Unsur Seni Rupa
* Warna (Color): Aku memilih merah yang vibran untuk pusat karyaku sebagai simbol keberanian dan gairah hidupku, dikelilingi warna hijau dan pastel yang melambangkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia.
* Tekstur (Texture): Tekstur nyata yang kasar memberikan kesan organik dan jujur, seperti kejujuranku dalam menghadapi pahit manisnya kenyataan.
* Bentuk (Shape): Bentuk jamur yang membulat dan kokoh memberikan rasa aman dan perlindungan dalam duniaku yang penuh fantasi.
5. Elemen Karya / Komposisi
Secara komposisi, aku sengaja menempatkan jamur sebagai pusat perhatian (Point of Interest). Elemen bunga dan dedaunan diatur secara asimetris untuk menciptakan kesan kebebasan yang dinamis seperti caraku mengatur prioritas dalam hidupku. Meski terlihat padat, aku menyisakan ruang di bagian atas agar tetap ada kesan “napas” dan harapan. Harmoni yang tercipta dari perbedaan elemen-elemen ini adalah cerminan dari caraku merangkul keberagaman aspek dalam hidupku menjadi satu kesatuan yang indah.
Cahaya lentera menjadi simbol kebebasan penulis dalam memilih arah hidup serta harapan nyata untuk berani melangkah ke depan. Lukisan ini juga mencerminkan keinginan untuk memperoleh kebebasan dalam menentukan masa depan melalui proses belajar
di kelas esok dan kehidupan yang akan datang.
M RIO ADI SAPUTRA
Gambar ini menampilkan siluet seekor serigala yang berdiri di puncak tebing sambil melolong ke arah bulan purnama yang besar dan terang, dengan latar langit malam penuh bintang serta guratan cahaya menyerupai aurora atau energi magis, sehingga menciptakan kesan kesendirian yang kuat namun penuh makna; bertema Magical Fantasy & Spirit of Nature, karya ini melambangkan kebebasan, kekuatan batin, dan jiwa alam liar, di mana serigala merepresentasikan keberanian dan intuisi, sementara bulan purnama menjadi simbol energi, harapan, dan misteri, dipadukan melalui teknik cat air dengan sapuan lembut, gradasi warna halus biru, hijau kebiruan, ungu, dan kuning, penggunaan siluet gelap pada serigala dan tebing, serta teknik wet-on-wet pada langit yang menghadirkan suasana malam yang tenang, magis, dan emosional, cocok sebagai ilustrasi cerita fantasi, sampul buku, atau karya seni bertema alam dan spiritualitas.
MAILAVIFIASARI
keindahan alam ini menggabungkan alam yang lembut dan damai (pohon berbunga, langit biru, bunga liar) dengan teknologi modern (kereta cepat). Lukisan ini terlihat menggunakan teknik lukis akrilik/cat minyak dengan gaya semi- impresionisme dengan ber ciri sapuan kuas terlihat jelas dan bertekstur, warna tidak terlalu detail realistis, tapi menonjolkan kesan cahaya dan suasana. Unsur penjelasan dalam lukisan titik pada detail bunga kecil di rumput garis garis batang pohon, ranting, dan bentuk kereta, Bidang bidang langit, tanah dan badan kereta dan Makna keseluruhan Lukisan ini seperti menggambarkan bahwa di tengah dunia yang bergerak cepat (kereta), alam tetap memberi ketenangan dan keindahan.Pesanya bisa tentang menikmati perjalanan hidup tanpa melupakan keindahan sekitarKarya ini mengisahkan tentang ketangguhan dan keunikan hidupku. Jamur merah yang kontras melambangkan jati diriku yang tetap bersinar meski berada di lingkungan yang berbeda. Bunga-bunga di sekitarnya adalah orang-orang dan pengalaman yang mewarnai hari-hariku. Makna terdalamnya bagiku adalah: aku tidak perlu menjadi “bunga” untuk dianggap indah. Hidupku adalah sebuah fantasi ajaib yang aku lukis sendiri, di mana setiap perbedaan yang aku miliki adalah sumber kekuatan utama yang membuatku istimewa.
MARETESIA SOVIOLA SUNYANDRI AMELYA MUSTIKA
Lukisan ini terinspirasi dari kekuatan alam yang disimbolkan melalui sosok perempuan. Gaun hijau yang menyatu dengan ombak menggambarkan bahwa manusia dan alam memiliki hubungan yang sangat erat. Kapal-kapal kecil di sekitarnya melambangkan manusia yang rapuh di hadapan kekuatan samudra. Sosok perempuan berdiri tenang di tengah gelombang besar, menunjukkan ketenangan, kekuasaan, dan keanggunan di tengah kekacauan alam
MARSA PUTRI RATNA DEWATI
Tema:Magical fantasy Judul:Gadis Tunggal Penjaga Cahaya. Makna Lukisan “Gadis Tunggal Penjaga Cahaya”
Lukisan ini menggambarkan seorang anak perempuan tunggal yang berdiri sendiri di tengah hutan sunyi, menghadap cahaya bulan purnama. Sosoknya yang membelakangi melambangkan perjalanan batin sebuah proses tumbuh tanpa banyak disaksikan orang lain.
Sayap putih yang melekat padanya bukan sekadar simbol malaikat, melainkan lambang kekuatan, ketulusan, dan perlindungan diri. Sebagai anak tunggal, ia belajar menjadi sandaran bagi dirinya sendiri, tumbuh mandiri, dan menjaga cahaya harapan dalam kesunyian.
Cahaya bulan melambangkan harapan, cita-cita, dan arah hidup. Meski jalannya sunyi, gadis ini tidak tersesat ia justru menjadi penjaga cahaya itu sendiri. Air yang tenang di bawahnya mencerminkan kedewasaan emosional dan kemampuan menerima keadaan dengan lapang.
Secara keseluruhan, lukisan ini menyampaikan pesan bahwa kesendirian bukanlah kelemahan, melainkan ruang untuk bertumbuh, menemukan kekuatan, dan menjaga cahaya kebaikan dalam diri, bahkan ketika tak ada yang melihat.
MEILINDA ROSSA RACHMAYANTI
Kelihatan ada tangan manusia yang hangat dan bercahaya menyentuh tangan abu abu yang kaku seperti batuu. Disekeliling nya ada rumput, bunga kecil dan cahaya sperti bintang. Ini bisa menggambarkan tangan yang hidup menyentuh tangan yang seperti batu bisa melambangkan seorang yang sedang “dingin”, mati rasa, atau terluka secara emosional lalu ada orang lain yang datang dari alam lain seolah membawa kehangatan. Perhatian dan harapan lingkungan yang gelap di tumbuh i tanaman dan bunga kecil menunjukan bahwa bahkan disituasi yang berat, tetap ada kehidupan dan kesempatan untuk tumbuh. Sentuhan itu seperti titik baliknya, cahaya kecil di titik sentuhan seolah bilangnya, kadang satu tindakan baik, satu sentuhan, satu orang yang peduli bisa menghidupkan kembali orang yang sudah hampir menyerah, visualnya puitis dan agak fantasi, tentang hubungan manusia luka, batin dan bagaimana takdir yang harus di terima
MELYNDA APRILYA
Judul:Langkah Harapan di Hutan Impian. inspirasi: Gambar ini menampilkan seorang gadis bergaun biru yang berdiri di atas jamur merah besar di tengah hutan bercahaya hijau kebiruan. Di sekelilingnya tumbuh jamur-jamur raksasa berwarna cerah yang memberi kesan dunia magis, seolah hutan tersebut bukan hanya tempat biasa, melainkan ruang penuh kemungkinan. Cahaya lembut yang menembus pepohonan melambangkan sinar harapan yang hadir di tengah perjalanan hidup.Dalam makna kehidupan nyata, gadis yang berdiri di tempat tinggi melukiskan seseorang yang sedang berusaha mengangkat dirinya dari keterbatasan menuju tujuan yang lebih besar. Jamur yang menjadi pijakannya melambangkan rintangan dan tantangan yang harus dilalui untuk meraih mimpi. Hutan yang luas menggambarkan masa depan yang masih penuh misteri, namun juga menyimpan peluang bagi mereka yang berani melangkah.Nuansa magis pada gambar ini menunjukkan bahwa harapan dapat tumbuh dari hal sederhana. Seperti hutan biasa yang berubah menjadi dunia fantasi, kehidupan nyata pun bisa menjadi indah jika dipenuhi keyakinan dan impian. Gambar ini menyampaikan pesan bahwa dengan keberanian, imajinasi, dan tekad, seseorang dapat mengubah perjalanan menuju cita-cita menjadi kisah penuh keajaiban.Teknik Berkarya:Menggunakan teknik lukis ilustratif dengan pewarnaan gradasi dan permainan cahaya untuk menampilkan kesan magis dan fokus pada tokoh utama.
Unsur-unsur Titik digunakan sebagai efek cahaya, garis pada bentuk pepohonan dan tokoh, bidang pada jamur dan tubuh manusia, warna cerah dan gelap-terang untuk menunjukkan suasana dan kedalaman, serta tekstur semu pada objek alam.
Elemen:Komposisi sentral dengan tokoh utama sebagai pusat perhatian. Penataan jamur dan pepohonan mengelilingi tokoh sehingga tercipta keseimbangan dan kesan ruang.
NURUL QOIMAH
Judul ini menggambarkan bahwa setiap masalah hidup ibarat halaman buku yang ketika dibuka justru melahirkan semesta—penuh kekacauan, misteri, tapi juga harapan. Buku melambangkan perjalanan hidup manusia, sedangkan galaksi dan planet mencerminkan kompleksitas masalah, pilihan, dan takdir yang berputar tanpa henti. Cahaya yang keluar dari buku menandakan bahwa dari masalah, selalu ada pengetahuan, makna, dan kekuatan baru yang lahir.
NAUFA NAZAH ANAWAL
Judul Karya
“Langkah Terakhir Menuju Cahaya”
Deskripsi Konsep
Gambar ini menampilkan sebuah adegan fantasi simbolik dalam nuansa hitam-putih. Terlihat seorang sosok manusia berbentuk siluet berjalan perlahan di sebuah jalan gelap menuju pusaran cahaya kosmik yang sangat terang di hadapannya. Sosok tersebut mengenakan mantel atau jubah panjang, menciptakan kesan perjalanan yang sunyi dan penuh tekad.
Pusaran cahaya di depan tokoh menyerupai gerbang dimensi atau pusat energi, dikelilingi partikel cahaya seperti bintang dan kabut kosmik. Lingkungan sekitar tampak gelap, berkabut, dan sepi, sehingga cahaya di pusat gambar menjadi fokus utama. Komposisi ini menyimbolkan perjalanan manusia dari kegelapan menuju harapan, perubahan, atau pencerahan.
Tidak adanya detail wajah membuat tokoh bersifat universal, seolah mewakili setiap manusia yang sedang menghadapi pilihan besar dalam hidupnya.
Tema
Fantasi Simbolik – Perjalanan Batin dan Transisi Kehidupan
Tema ini menekankan:
Perjalanan spiritual dan refleksi diri
Keberanian menghadapi masa depan yang belum diketahui
Pertentangan antara kegelapan dan cahaya
Proses perubahan atau kelahiran kembali (rebirth)
Tema bersifat filosofis dan emosional, bukan naratif langsung.
Teknik yang Digunakan
Digital Painting / Digital Illustration
Karya dibuat secara digital dengan detail tinggi pada cahaya dan atmosfer.
Monokrom (Hitam–Putih)
Penggunaan warna terbatas memperkuat kesan dramatis, serius, dan emosional.
Silhouette Technique
Tokoh dibuat gelap tanpa detail untuk menonjolkan simbolisme dan fokus pada makna, bukan identitas.
Lighting & Contrast (High Contrast)
Perbedaan ekstrem antara cahaya dan gelap digunakan untuk menegaskan konflik visual dan pesan simbolik.
Atmospheric Effect (Kabut & Partikel Cahaya)
Digunakan untuk menciptakan kedalaman ruang serta nuansa magis dan kosmik.
REFI
menggambarkan sosok peri sebagai makhluk magis yang menjaga hutan penuh cahaya dan keindahan. Temanya berfokus pada dunia fantasi yang menampilkan hubungan harmonis antara makhluk magis dan alam, serta suasana damai, mistis, dan penuh imajinasi.
RIZKY AL-RIDHO PRATAMA
TEMA: keheningan setelah perjuangan
IDE: Karya ini menampilkan seorang knight yang terbaring diam di tengah hamparan rumput hijau dan bunga-bunga liar. Sosok ksatria digambarkan tanpa gerakan, seolah telah menyelesaikan pertarungan panjang yang melelahkan. Tubuhnya menyatu dengan alam, dikelilingi oleh tumbuhan yang tumbuh bebas dan cahaya lembut yang menenangkan. Adegan ini tidak menekankan kekerasan pertempuran, melainkan momen sunyi setelah konflik berakhir. Knight tersebut menjadi simbol pengorbanan, keberanian, dan penerimaan akan takdir. Lukisan ini dapat dimaknai sebagai peralihan dari hiruk-pikuk peperangan menuju kedamaian, serta pengingat bahwa bahkan pejuang terkuat pun membutuhkan istirahat.
TEKNIK BERKARYA:
Karya ini menggunakan teknik ilustrasi realis dengan pendekatan painterly. Teknik layering diterapkan pada rumput dan bunga untuk menciptakan kesan kedalaman dan kehidupan alami. Gradasi warna digunakan untuk membangun suasana lembut dan damai di area latar. Teknik highlight dan shading diaplikasikan pada tubuh knight dan baju zirahnya untuk menampilkan volume, cahaya, dan tekstur logam. Sementara itu, penggunaan brush halus dan detail memperkuat kontras antara kerasnya ksatria dan lembutnya alam di sekitarnya.
VIKA JULIANA PUTRI
•Tema:Cinta dan kebersamaan
•Makna Karya: Lukisan ini menggambarkan dua insan dalam keheningan senja yang penuh makna, duduk berdampingan di bawah cahaya bulan sebagai simbol keterhubungan jiwa dan harapan yang tumbuh bersama. Ayunan yang tergantung di antara dua pohon menjadi metafora perjalanan hidup—bergerak maju dan mundur, namun selalu kembali pada titik keseimbangan yang sama. Bulan purnama hadir sebagai penjaga waktu dan perasaan, menerangi ruang batin tempat mimpi, kenangan, dan doa saling bertaut.
Dalam bingkai Magical Fantasy, langit bertabur bintang dan warna senja yang berpadu dengan malam menciptakan energi magis yang lembut namun mendalam. Alam tidak sekadar latar, melainkan saksi bisu atas janji, kebersamaan, dan keberanian untuk tetap berjalan bersama di tengah ketidakpastian. Karya ini menjadi perwujudan perjalanan emosional menuju kedewasaan rasa, di mana kebersamaan bukan tentang saling memiliki, melainkan saling menguatkan.
•Teknik: Lukisan ini menggunakan teknik siluet, gradasi warna, dan ilustratif dekoratif.
•Unsur Seni: Unsur garis, warna, ruang, dan gelap-terang paling dominan. Semua unsur bekerja sama membangun suasana romantis, tenang, dan penuh imajinasi.
•Elemen: Elemen yang paling menonjol adalah warna, garis, ruang, dan gelap-terang yang bersama-sama menciptakan suasana romantis, tenang, dan penuh imajinasi malam hari.
VELYA PUTRI
karya ini melambangkan harapan, ketenangan, dan cahaya batin. Sosok gadis yang membawa lentera menggambarkan manusia sebagai penjaga cahaya, baik cahaya pengetahuan, harapan, maupun kebaikan, di tengah kegelapan dunia. Kupu-kupu bercahaya melambangkan jiwa, mimpi dan keajaiban kecil yang muncul ketika seseorang memiliki hati yang murni dan berani melangkah dalam ketidakpastian.
WIDYA RIZKI AGUSTIN
Karya seni rupa berjudul “Langkah Kecil di Jalan Keajaiban” dirancang sebagai karya bertema Magical Fantasy yang muncul dari pemikiran tentang keberanian seorang anak perempuan dalam menghadapi masa depan. Karya ini terinspirasi dari momen ketika seseorang mulai mengambil langkah awal menuju impiannya, meskipun masih disertai rasa ragu dan ketidakpastian.
Gagasan utama diwujudkan melalui figur seorang anak perempuan yang digambarkan sedang melangkah ke depan. Gerak tubuh dan arah pandangan figur mencerminkan proses batin antara ketakutan dan harapan, di mana setiap langkah kecil memiliki makna penting. Sosok anak perempuan dipilih sebagai simbol awal perjalanan hidup, kepolosan, serta keberanian yang perlahan tumbuh dari dalam diri.
Cahaya keemasan direncanakan hadir sebagai elemen visual utama yang menyertai langkah anak perempuan tersebut. Cahaya ini berfungsi sebagai simbol keajaiban dan harapan yang membimbing arah perjalanan di tengah suasana yang cenderung gelap. Teknik yang akan digunakan adalah teknik plakat dengan penerapan warna-warna pekat dan kontras untuk memperkuat nuansa magis sekaligus emosional.
Dalam pengolahan unsur seni rupa, garis lengkung dan bentuk organik direncanakan mendominasi komposisi agar tercipta kesan lembut dan mengalir. Pengaturan gelap-terang serta ruang dimanfaatkan untuk membangun suasana fantasi dan menegaskan fokus utama pada figur anak perempuan. Dari segi elemen komposisi, karya ini dirancang memiliki kesatuan yang harmonis, keseimbangan asimetris yang dinamis, serta penekanan visual pada gerak langkah sebagai simbol keberanian dan harapan menuju masa depan.
WIDYA RIZKA AGUSTIN
Karya seni rupa berjudul “Perahu Harapan di Langit Malam” merupakan sebuah karya bertema Magical Fantasy yang lahir dari pemikiran tentang harapan yang tersimpan di dalam diri manusia. Di bawah langit malam yang luas dan sunyi, tergambar seorang gadis kecil duduk di atas perahu berbentuk bulan sabit, melaju perlahan di antara awan gelap. Sosok gadis tersebut melambangkan sisi manusia yang paling tulus—bagian hati yang tetap berani bermimpi dan memelihara harapan, meskipun kehidupan sering kali terasa tidak ramah.
Bulan sabit yang tidak utuh menjadi simbol kehidupan yang penuh ketidaksempurnaan. Dari ketidaksempurnaan itu, tersirat makna bahwa hidup tidak selalu berjalan ideal, namun tetap dapat dijadikan pijakan untuk terus melangkah maju. Langit gelap dan awan yang menyelimuti menggambarkan berbagai tantangan, ketakutan, serta masa-masa sulit yang hadir tanpa diduga.
Di tangan sang gadis terdapat sebuah botol berisi bintang-bintang kecil yang melambangkan harapan, doa, dan potensi dalam diri. Ketika botol tersebut terbuka, bintang-bintang menyebar dan menerangi kegelapan, menjadi simbol keberanian untuk percaya serta membiarkan mimpi bersinar.
Melalui lukisan ini, tersampaikan pesan bahwa meskipun manusia tampak kecil di hadapan dunia yang luas, harapan yang dijaga dengan keyakinan mampu menjadi cahaya penuntun dan memberikan makna dalam setiap perjalanan hidup.
WILDA DAHRIA NAFRIKA
TEMA: kasih sayang, kelembutan, dan harmoni antara makhluk hidup
IDE: Karya ini menampilkan sosok peri perempuan yang sedang memeluk dan mencium seekor kucing dengan penuh kelembutan. Peri digambarkan memiliki sayap transparan dan busana bernuansa hijau alami, menyatu dengan lingkungan penuh bunga-bunga yang sedang bermekaran. Ekspresi wajah peri yang tenang dan penuh cinta memperlihatkan hubungan emosional yang mendalam antara manusia (makhluk fantasi) dan hewan. Kucing yang ditampilkan tampak nyaman dan percaya, menandakan rasa aman serta ikatan batin yang tulus. Elemen bunga dan ornamen cahaya di sekitar figur memperkuat kesan dunia magis yang damai. Lukisan ini melambangkan kasih sayang tanpa syarat, kepedulian terhadap makhluk lain, serta keseimbangan antara alam, fantasi, dan perasaan batin yang lembut.
TEKNIK BERKARYA:
Karya ini menggunakan teknik ilustrasi dekoratif dengan sentuhan fantasi dan gaya semi-realis. Teknik outline halus diterapkan untuk mempertegas bentuk figur peri, kucing, dan elemen flora. Pewarnaan dilakukan dengan gradasi lembut dan palet warna pastel untuk menciptakan suasana hangat dan menenangkan. Teknik shading ringan digunakan pada rambut, wajah, dan tubuh kucing untuk memberikan kesan volume tanpa menghilangkan nuansa ilustratif. Detail ornamen seperti bunga, perhiasan, dan sayap digarap dengan ketelitian tinggi untuk memperkuat kesan magis dan estetika visual yang romantis.
AGNES POPY REVALINA
Lukisan ini menggambarkan seseorang yang merasa kewalahan oleh tekanan dan kebisingan di sekitarnya. Latar merah-oranye menunjukkan kekacauan, sementara objek gelap yang melayang melambangkan gangguan pikiran. Penutup mata dan tangan di kepala menandakan upaya untuk menenangkan diri dan mencari ketenangan di tengah situasi yang terasa berat.
AHMAD LELI
Lukisan ini menggambarkan keindahan alam Bali dengan pura sebagai objek utama. Pemandangan danau, pegunungan, dan pepohonan menciptakan suasana yang tenang dan damai. Warna-warna cerah membuat lukisan terlihat harmonis dan indah.
AJENG KARTIKASARI
Lukisan ini menggambarkan saya sebagai seseorang yg berdiri di antara bumi dan langit, mengangkat tangan seolah ingin meraih cahaya bintang, melambangkan harapan, mimpi, dan pencarian makna hidup. Maksutnya, karena saya ini berada di kls 12 yg artinya masa masa akhir sekolah saya setelah ini ingin melanjutkan hidup yg lebih serius, mempercayai bahwa saya akan sukses dikemudian hari.
Langit yang berputar-putar menunjukkan pikiran, emosi, dan kekacauan batin, sementara cahaya bintang menjadi simbol harapan dan tujuan. Rumah kecil yang bercahaya di kejauhan melambangkan ketenangan, asal, atau rasa aman yang selalu dirindukan manusia.
ALVIN DENNY AZUAN
Lukisan ini menggambarkan lilin yang menyala di atas piring logam dengan latar belakang gelap. Nyala api yang digambarkan dengan warna oranye terang dan kuning di bagian atas lilin, yang secara visual memancarkan cahaya hangat ke sekelilingnya, dapat melambangkan semangat yang membara.
Nyala Api Terang: Warna cerah nyala api menonjol dari kegelapan latar belakang, menunjukkan kekuatan dan vitalitas semangat yang terus menyala.
Lilin yang Meleleh: Lilin yang meleleh di bawah nyala api dapat diartikan sebagai pengorbanan atau dedikasi yang diperlukan untuk menjaga semangat tersebut tetap hidup.
Cahaya Hangat: Lingkaran cahaya kemerahan di sekitar lilin menciptakan suasana kehangatan dan harapan di tengah kegelapan, menyiratkan bahwa semangat tersebut memberikan dampak positif dan menerangi lingkungan sekitarnya.
BIMO LUCKY EFLIAN
Menggambarkan keharmonisan cinta dan kebersamaan melalui dua burung Flamingo yang saling berhadapan membentuk simbol hati dikelilingi daun tropis lukisan ini melihatnya menggunakan teknik lukis akrilik cat minyak dengan gaya semi impresionisme dengan berciri sapuan kuas terlihat jelas dan bertekstur. untuk menjelaskan titik pada Terburu flaminggo dan tumbuhan tropis dan makna dari keseluruhan lukisan ini adalah cinta di saat musim tropis .pesannya tentang menikmati Cinta Tanpa memandang musim
CAHYA IRVANTO ANGGA PRATAMA
seorang kakak laki-laki Mengenggam kedua adiknya, membimbing supaya lebih baik daripada kakaknya, lebih tertata masa depannya lebih mandiri dan menjadi lebihh baik lagi
ERIKHA YULIANA PUTRI
1. IDE/KONSEP & JUDUL LUKISAN
Judul:alam ajaib yang tersembunyi
Ide ini berasal dari diri teman saya ia adalah anak yang ceria sekali, ramah ,baik , sering kali ia mengeksplor dunia luar ,mulai dari ia sering naik gunung ,jalan jalan,mencari sesuatu yang membuat ia senang sampai di titik terkadang aku suka heran kok ada anak segitunya lali ia menjawab aku suka menemukan hal baru aku suka kalau aku melihat suatu yang aku belum tau hingga akhirnya aku menjadikan cerita teman saya ini menjadi judul dari lukisan saya, berkat keberanian ia selalu giat untuk mencari sesuatu yang belum ia ketahui .judul saya ini ku sambungkan dengan tema magical Fantasy yaitu gambar sosok anak yang berada di tengah hutann yang di pinggir hutan itu adalah ada gerbang yang terbuat dari beberapa pohon besar yang di gambar kan sebagai jalan dan di ujung itu ada gunung dan air terjunnya itu adalah sebagai bukti bahwa sanya ada beberapa banyak jalan untuk kita bisa menempuh perjalanan untuk mencari sesuatu hal yang baru
2. TEKNIK BERKARYA
Untuk Lukisan Kanvas
1. Teknik Lapis-lapis (Glazing): Digunakan untuk menciptakan efek kilau pada cahaya magis dan sinar matahari yang menerobos dedaunan. Lapisan warna transparan diterapkan secara bertahap agar kedalaman visual terasa lebih kuat.
2. Teknik Impasto: Diterapkan pada bagian dedaunan, lumut pohon, dan bunga-bunga untuk memberikan tekstur yang nyata dan dapat diraba, menambah kesan alam yang hidup.
3. Teknik Dry Brush: Digunakan untuk menggambarkan permukaan jalan tanah dan batu-batu kecil, memberikan kesan kasar namun alami.
4. Menambahkan Elemen Tambahan: Bisa menambahkan serpihan kristal atau cat berpigmen metalik pada bagian cahaya magis agar lebih bersinar saat terkena cahaya.
Untuk Lukisan Digital
– Gunakan lapisan terpisah untuk setiap elemen (pohon, anak , latar belakang, cahaya) agar mudah diedit.
– Terapkan efek blur pada latar belakang untuk menciptakan kesan kedalaman (depth of field).
– Gunakan brush khusus untuk tekstur dedaunan dan lumut, serta efek glow pada bagian cahaya magis.
3. UNSUR-UNSUR SENI
1. Bentuk:
– Bentuk alamiah pada pohon, tumbuhan, dan gunung; bentuk geometris sederhana pada tubuh anak dan tas ransel.
– Bentuk garis melengkung pada cabang pohon yang membentuk bingkai alami untuk fokus pada jalan dan latar belakang.
2. Warna:
– Skema warna dominan hijau (alam), dengan aksen warna hangat (kuning-emas pada cahaya, merah muda pada bunga) dan warna dingin (biru-abu pada langit dan air terjun).
– Kontras warna antara area gelap (hutan depan) dan terang (jalan dan latar belakang) untuk menarik perhatian penonton.
3. Tekstur:
– Tekstur kasar pada batang pohon dan jalan tanah, tekstur lembut pada dedaunan dan bunga, serta tekstur halus pada air terjun dan kabut.
4. Ruang:
– Penggunaan linear perspective pada jalan yang menyempit ke arah gunung untuk menciptakan kesan kedalaman.
– Ruang depan (pohon dan bunga) dibuat lebih jelas, sedangkan ruang belakang (gunung dan langit) dibuat lebih kabur.
5. Cahaya & Bayangan:
– Sumber cahaya utama dari matahari di balik gunung, yang menghasilkan bayangan lembut pada dedaunan dan tubuh anak perempuan.
– Cahaya magis tambahan sebagai elemen dekoratif yang memberikan kesan ajaib.
4. ELEMEN VISUAL
1. Elemen Fokus: Anak yang sedang berjalan dan jalur cahaya magis yang membimbingnya – menjadi titik pusat perhatian karena warna dan posisinya.
2. Elemen Penunjang:
– Pohon besar di sisi kiri dan kanan: Berfungsi sebagai bingkai alami yang membimbing pandangan mata ke arah latar belakang.
– Air terjun dan sungai kecil: Menambah kesan kehidupan dan kelancaran dalam alam ajaib.
– Bunga-bunga dan jamur besar: Memberikan kesan dunia yang lebih besar dari ukuran anak, menekankan nuansa petualangan.
– Gunung bersinar: Menjadi tujuan akhir perjalanan, menyimbolkan harapan dan keajaiban yang akan ditemui.
3. Komposisi: Menggunakan komposisi leading line (garis jalan dan cahaya magis) yang mengarahkan pandangan penonton dari depan ke belakang lukisan, menciptakan kesan dinamis dan menarik.
FANIA AGUSTINA RAHMADHANI
Lukisan ini adalah sebuah mahakarya yang menangkap momen hening di antara dua dunia. Aku, Fania, sudah sangat ingin menggapai cahaya yang selalu aku lihat samar samar di depanku, setiap hari semakin jelas cahayanya, meski langkah kaki tertatih menyusun kepingan hidup, aku tau ini hidupku, tapi terkadang hidup kita selalu terikat dengan orang lain, terkadang banyak yang harus kita ajak untuk menuju cahaya tersebut agar nantinya kita tidak kehilangan arah setelah tau indahnya cahaya setelah menyelam lama dalam kegelapan.
Hidup itu mudah, bagi orang yang menganggapnya begitu, begitu juga sebaliknya, sulit bagi orang yang menganggapnya sulit. Lakukan apapun sesukamu selagi itu tidak terlalu mengganggu makhluk lain. Berjuanglah atas hidupmu sendiri, tidak perlu terlalu menghawatirkan aku ataupun orang lain. Apapun yang kamu lihat tidak sepenuhnya benar dan apapun yang kamu lihat tidak sepenuhnya salah. Berpikirlah sesukamu dan bertindaklah selayaknya mereka.
Pertaruhkanlah hal hal yang selalu membuatmu takut. Berjanjilah pada dirimu sendiri agar hidupmu baik. Makhluk hidup itu pasti berubah, mau mereka menginginkannya atau tidak dan dunia butuh cerita yang belum ada sebelumnya. Kenyataan akan selalu menelanmu seutuhnya dan menghancurkanmu, dan terkadang kumpulkan lelucon itu tidak lucu sama sekali. Yang terpenting bukan masalahnya, tapi bagaimana kita menjawabnya dan menurutku bertindak lebih baik daripada diam saja. Karena apabila tidak di pertaruhkan maka tidak akan pernah di menangkan.
FLORA NAYLA FELISYA
Diam di Ambang Dunia”
Ide Lukisan terinspirasi dari sebuah seseorang yang berada diantara masa lalu dan masa depan, saat keputusan belum di ambil dan hati memilih untuk diam
Menggambarkan momen hening di alam, saat waktu terasa berhenti, seolah berada di batas antara dunia nyata dan dunia batin yang penuh ketenangan.
Sinopsis:
Lukisan ini menampilkan suasana sunyi dengan pemandangan alam yang tenang. Pantulan cahaya lembut, ruang yang luas, dan komposisi seimbang menghadirkan perasaan diam, reflektif, dan damai, seakan penikmat lukisan berdiri di ambang dua dunia.
FRISKA AMELIA
Kadang, tempat terbaik untuk menemukan jati diri adalah di atas awan. Menggunakan palet warna sunset yang vibran, lukisan ini menonjolkan kontras antara siluet sosok gadis dengan terangnya bintang kuning. Sebuah perayaan atas imajinasi dan ketenangan pikiran.
GALIH SOCA BRAHMANTYA
Di bawah cahaya bulan yang terang, seorang anak duduk tenang di dahan pohon, menikmati malam yang sunyi. Tidak ada suara selain angin yang berembus pelan, seolah dunia sedang beristirahat sejenak.
Dalam diam itu, ia merasakan ketenangan yang jarang ia temukan saat hari-hari sibuk. Cahaya bulan mengajarkannya bahwa meski malam terlihat gelap, selalu ada terang yang menemani.
Malam itu, ia mengerti bahwa terkadang kita hanya perlu berhenti sejenak, menarik napas, dan merasakan hening—karena dari sanalah hati belajar menjadi lebih kuat dan damai
Teknik melukis :Gradasi Gunakan perpaduan warna gelap ke terang pada langit untuk menciptakan efek malam yang hidup..
GISSELA DWI AULIA PUTRI
Lukisan ini menggambarkan sebuah mata yang seolah menjadi jendela emosi terdalam. Warna biru yang mengalir seperti tetesan menggambarkan perasaan yang tidak hanya sekadar sedih, tetapi juga penuh harapan dan ketenangan. Bentuk seperti sayap di atas mata memberi simbol kebebasan, seakan emosi yang berat pun tetap ingin terbang dan melepaskan diri. Latar bintang-bintang menghadirkan kesan bahwa meski seseorang merasa tersesat atau tenggelam dalam perasaan, ia tetap berada dalam semesta yang luas dan penuh kemungkinan. Karya ini mencerminkan perjalanan batin—antara luka, kekuatan, dan keinginan untuk bangkit.Dalam diam itu, ia merasakan ketenangan yang jarang ia temukan saat hari-hari sibuk. Cahaya bulan mengajarkannya bahwa meski malam terlihat gelap, selalu ada terang yang menemani.
Malam itu, ia mengerti bahwa terkadang kita hanya perlu berhenti sejenak, menarik napas, dan merasakan hening—karena dari sanalah hati belajar menjadi lebih kuat dan damai
Teknik melukis :Gradasi Gunakan perpaduan warna gelap ke terang pada langit untuk menciptakan efek malam yang hidup..
MOCH ARGA DWI ARDIAN
LUKISAN INI BERISI TENTANG ORANG YANG SEDANG MENATAP LANGIT DENGAN KEINDAHANYA DAN BERHARAP LANGIT DAPAT MENGHANTARKAN HAL-HAL BAIK YANG AKAN DATANG KARNA KECEMASAN TERHADAP MASA DEPAN YANG MEMBINGUNGKAN DENGAN DI IRINGI ANGIN SEGAR DARI POHON KELAPA .
IRA SEPTIA VIONALITA
Karya yang terinspirasi dari drama “No Tail No Tell” dengan visual anak perempuan yang mempunyai ekor rubah 9, dimana ekor itu melambangkan keberuntungan.
JIHAN NURAENI
Karya lukis berjudul Between Two Dimensions mengangkat tema magic fantasy yang menggambarkan Ide bermula dari imajinasi antara dua dunia yang saling bersentuhan. Sebuah tangan besar muncul sebagai simbol kekuatan penjaga, menampung seorang gadis kecil yang menatap pemandangan malam penuh cahaya bulan. Di telapak tangan tersebut duduk seorang gadis kecil yang tampak tenang, memandangi pemandangan malam yang indah. Unsur garis terlihat jelas pada kontur tangan yang kuat dan lengkungan lembut tubuh gadis, serta garis horizon yang membatasi langit dan tanah. Unsur bidang tercipta dari permukaan langit malam yang luas, telapak tangan yang dominan, dan bentuk gadis yang terdefinisi. Unsur warna dipilih secara kontras melalui kombinasi warna gelap seperti biru tua dan hitam di latar langit dengan warna terang kuning–putih dari cahaya bulan, sehingga menciptakan suasana magis dan dramatis.
Dalam elemen visual, lukisan ini menggunakan cahaya bulan sebagai sumber utama yang menerangi telapak tangan dan gadis dengan kontras terang–gelap jelas. Komposisi seimbang dengan tangan sebagai fokus utama, gadis di tengah, dan bulan di belakang yang mengarahkan pandangan. Ruang terlihat dari perbedaan ukuran antara tangan dan gadis serta gradasi warna langit. Tekstur muncul dari sapuan kuas halus pada kulit tangan dan detail langit, memperkuat nuansa magis.
MOCH ARGA DWI ARDIAN
LUKISAN INI BERISI TENTANG ORANG YANG SEDANG MENATAP LANGIT DENGAN KEINDAHANYA DAN BERHARAP LANGIT DAPAT MENGHANTARKAN HAL-HAL BAIK YANG AKAN DATANG KARNA KECEMASAN TERHADAP MASA DEPAN YANG MEMBINGUNGKAN DENGAN DI IRINGI ANGIN SEGAR DARI POHON KELAPA .
MOCH. FATIHUL IHSAN
“Diantara Riak dan Diam” Yang menggambarkan seorang pria yang memiliki banyak masalah dalam hidupnya, dan dia mencari ketenangan di pinggir danau dan bersandar pada batang pohon yang sudah ditebang sambil memegang sebuah novel, meski novel itu ada digenggamannya pandangan pria itu mengarah ke arah danau yang tenang seolah mencari keteduhan dibalik diamnnya air. Suasana malam yang tenang menjadi ruang refleksi baginya tempat ia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk yang membebani dirinya.
Lukisan ini sebenarnya menggambarkan keadaan kelas 12 saat ini, dimana dihadapkan banyak sekali tumpukan tugas dan praktek serta bingung arahnya kemana setelah lulus, di tengah banyak tuntutan, hanya ada 1 keinginan sederhana yaitu menemukan ruang untuk beristirahat sejenak, menenangkan pikiran, dan mengumpulkan kembali kekuatan sebelum melangkah maju.
MUCH. AKBAR NUGROHO ADIANTO
SAYA MEMBUAT LUKISAN INI KARENA SAYA TERINSPIRASI BAHWA SUATU SAAT SAYA DAN PASANGAN SAYA AKAN HIDUP DAMAI DI MASA DEPAN YANG AKAN DATANG..
MUHAMMAD EGA MAULANA YUDHISTIRA
Lukisan ini menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah perjalanan panjang yang tidak selalu lurus, mudah, atau terang, tetapi selalu memiliki tujuan akhir yang suci. Di dalamnya terlihat sebuah jalan setapak yang membelah rimbunnya pepohonan, seolah melambangkan jalan hidup yang harus dilalui dengan kesabaran, keberanian, dan keyakinan.Di kejauhan tampak bangunan suci dengan kubah dan menara, berdiri tenang di balik pepohonan. Letaknya yang jauh menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan adalah proses, bukan sesuatu yang instan. Ia menjadi titik tujuan, cahaya arah, sekaligus simbol ketenangan batin yang dicari setiap manusia.
NAILA EVALINA
dimana yang menggambarkan perjuanganku sendiri yang hidup di tengah konflik dan luka keluarga. Di antara bayang-bayang gelap yang melambangkan pertengkaran, ketakutan, dan masa lalu yang menyakitkan, seperti saya yang memegang lentera sebagai simbol harapan, kekuatan batin, dan impian akan masa depan yang lebih baik.
NARENDRA FIRDAUS WINA SAPUTRA
Ide ini lahir dari ambisi besar yang saya simpan rapat, setenang langkah seorang ninja di tengah malam. Dalam sunyi, saya menyadari bahwa setiap gerak maju yang saya lakukan tidak berdiri sendiri—ada dukungan, doa, dan pengorbanan orang tua yang menjadi bayangan setia di belakang saya. Tanpa banyak suara, mereka telah menyiapkan pijakan, agar saya bisa bergerak lincah, bebas dari beban, dan tetap terarah menuju tujuan yang saya yakini.
Bagai berdiri di atas atap rumah dan tiang listrik, memandang masa depan yang tertata, menunggu untuk diwujudkan dengan disiplin dan kesabaran, saya memilih untuk tetap terjaga saat yang lain terlelap dalam kelalaian. Akan menjadi kegagalan besar jika saya lengah dan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan. Dalam keheningan malam, saya meneguhkan diri: ketekunan dan kerja keras adalah jalan seorang pejuang. Dengan itulah saya menjaga amanah, hingga setiap dukungan yang mereka berikan berbuah menjadi keberhasilan yang nyata dan membanggakan.
NISA RULIYANA
“Di Ambang Esok yang Belum Bernama”
Menggambarkan kondisi batin seorang anak yang akan menuntaskan masa sekolah ,sebuah fase yang selama ini memberi arah, struktur, dan kepastian.
Kata “ambang” melambangkan batas tipis antara masa lalu dan masa depan, tempat ia berdiri ragu, belum sepenuhnya melangkah maju, namun tak lagi bisa kembali.
Kata “esok” merepresentasikan masa depan yang menunggu, sementara frasa “belum bernama” menegaskan ketidakpastian masa depan itu ada, tetapi belum memiliki bentuk, tujuan, atau identitas yang jelas. Ia tidak tahu harus menjadi siapa, memilih jalan mana, atau sejauh apa keberaniannya akan membawanya.
Judul ini menyoroti kebimbangan seorang anak yang sunyi bukan ketakutan yang meledak-ledak, melainkan kegelisahan yang tenang, tertahan, dan sangat manusiawi. Sebuah potret tentang jeda dalam hidup, momen rapuh ketika harapan dan keraguan berdiri berdampingan, menunggu satu langkah kecil yang akan mengubah segalanya dan langkah kecil yang semoga bisa membawanya melangkah meraih sebuah keberhasilan.
NUGROHO WISNU AJI
Langit biru membentang luas, dipenuhi awan yang bergerak pelan seolah membawa rahasia yang tak terucap. Dua sosok berada di dunia yang berbeda—satu berpijak di bumi, satu lagi terbalik di angkasa—dipisahkan oleh ruang yang tak kasat mata, namun diikat oleh perasaan yang sama kuatnya. Tangan yang terulur menjadi simbol keberanian untuk mendekat, meski jarak dan keadaan berusaha menjauhkan. Kota yang sunyi di bawah kontras dengan langit yang hidup di atas, menggambarkan pertarungan antara realita dan harapan. Lukisan ini bercerita tentang pertemuan yang hampir terjadi, tentang hati yang saling memanggil meski langit mencoba memisahkan
OLIVIA SUCI ADINIA
lukisan ini menggambarkan seorang gadis yang latar belakang hidupnya hancur atau usang justru menjadi panggung utama bagi tumbuhnya,namun ia punya seribu harapan yang tidak pernah mati ia percaya bahwa hidup ini mengajarkan bahwa keindahan tidak hanya lahir dari kenyamanan,tetapi juga dari perjuangan
RIRIN DWI FEBRIANI
saya mempunyai ide/inspirasi lukisan dari diri saya sendiri yang sedang menduduki kelas 12 yang lagi bingung’ nya mencari jati diri. dengan judul lukisan “Bayangan Dalam Pantulan”. Saya akan melukiskan seseorang anak perempuan yang berdiri di tengah ruangan yang sunyi dan di penuhi dengan cermin’ dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Pantulan yang muncul tidak pernah benar-benar sama ada yang buram, terpotong, bahkan terasa asing. seolah masing- masing cermin menyimpan versi dirinya yang berbeda-beda. dengan berpakaian berwarna merah yang di gunakan menjadi satu’ nya warna yang hangat di antara nuansa biru gelap ruangan, menegaskan perasaan, kesendirian dan pencarian jati diri. Lukisan ini menggambarkan kebingungan, rasa ingin tahu, dan proses mengenal diri sendiri, ketika seseorang mencoba memahami siapa dirinya di tengah banyaknya bayangan dan persepsi yang saling bertabrakan, harapan orang tua, masa depan. bahkan masalah’ lainnya pun masi banyak lagi. dan bayangan’ yang takut gagal.
RIZ’Q ANANTA ADI WINATA
“DALAM ALUNAN KUNANG-KUNANG DAN MALAM”MENGGAMBARKAN KONDISI DIMANA KUPU-KUPU YANG SENDIRIAN DALAM MALAM DAN DIKELILINGI KUNANG-KUNANG YANG MENGGAMBARKAN SECERCA (SEBUAH) HARAPAN YANG MENUNTUN KE REMBULAN.PEWARNAAN YANG DOMINAN GELAP MENGGAMBARKAN KETENANGAN TAPI MENCEKAM DAN TIDAK STABIL MENGGAMBARKAN SUASANA DAN SEBUAH PERISTIWA YANG SELALU TIDAK STABIL NAMUN BISA DI LEWATI DENGAN USAHA DAN PERJUANGAN.
TIO YOGA PRATAMA
saya terinspirasi dari film pokemon go yang mengisahkan naga yang sedang mencari kristal kekuatan diatas gunung, saya akan menggambarkan naga duduk diatas batu di hulu sungai disertai jamur” raksasa di dunia itu
TONI ERIK MAULANA
Ada sosok yang duduk di ayunan dan sedang memandang ke langit
YUNA NIKEN SAFITRI
Mencari Arah di Tengah Kebingungan”
Makna/Jalan Cerita Karya
Karya ini menceritaka saya yang berada di dunia fantasi yang aneh dan penuh simbol, menggambarkan perasaan bingung dalam menentukan arah hidup. Di sekelilingnya terdapat Jalan bercabang, kabut, jam terbang, pintu melayang, dan cahaya kecil di kejauhan sebagai simbol harapan dan petunjuk arah.
ARVELINA PUTRI RAHARJO
Judul: Senja di Taman Mawar
Konsep & Deskripsi:
Lukisan ini menggambarkan suasana senja yang romantis di tepi laut, dengan hamparan bunga mawar merah muda yang bermekaran di bagian depan. Matahari yang perlahan tenggelam memantulkan cahaya keemasan di permukaan air, menciptakan nuansa hangat dan damai. Dua ekor kupu-kupu yang terbang bebas menambah kesan hidup, ringan, dan penuh harapan. Perpaduan langit berwarna pastel—biru, jingga, dan merah muda—memberi kesan lembut dan dreamy, seolah membawa penikmat lukisan ke dalam dunia yang tenang dan puitis.
Tema: Keindahan alam, ketenangan, romantisme, dan harmoni antara flora, fauna, dan lanskap laut.
Tema ini juga bisa dimaknai sebagai simbol harapan, cinta, dan keindahan momen yang singkat namun berharga, seperti senja itu sendiri.
Teknik yang Digunakan: Teknik lukis akrilik dekoratif semi-realis
•Sapuan kuas terlihat halus namun ekspresif
•Gradasi warna lembut pada langit dan laut untuk menciptakan efek cahaya senja
•Detail bunga dibuat dengan layering warna untuk memberi kesan volume
•Komposisi seimbang antara latar belakang (laut & langit) dan foreground (bunga mawar)
ALIFFIN JOKO BAGUS SAPUTRA
Ketenangan Di Atas Air
Judul ini menggambarkan suasana damai yang muncul dari bunga
teratai yang mengapung tenang di permukaan air.
Tema: Alam dan ketenangan
Lukisan bertema alam dengan fokus pada suasana tenang, sejuk,
dan harmonis yang sering ditemukan di kolam atau perairan alami.
Makna Seni Rupa:
Lukisan ini melambangkan ketenangan batin, kedamaian, dan
keseimbangan hidup.Bunga teratai sering dimaknai sebagai simbol
kesucian dan keteguhan, karena tetap indah meskitumbuh di air
yang keruh. Riak air kecil menggambarkan bahwa meskipun ada
gangguan dalam hidup, ketenangan tetap bisa dijaga.
Teknik:
Teknik lukis manual menggunakan cat akrilik dengan sapuan kuas
halus. Terlihatteknik layering (berlapis) untuk memberi kesan
kedalaman air dan tekstur daun teratai.
Elemen Seni Rupa:
Garis: Garis lengkung pada riak air
Warna: Dominasi biru (air), hijau (daun), dan putih–kuning (bunga)
Bentuk:Bentuk organik pada daun dan bunga teratai
Tekstur: Tekstur nyata dari kanvas dan sapuan cat
Ruang: Kesan kedalaman melalui gradasi warna air
Komposisi: Penempatan objek seimbang dan harmonis
SYAHNES ARDIANA FIRDAUS
Judul : The Fiery Wings Of Hope
• Inspirasi : lukisan ini terinspirasi dari dracin, dimana Karya ini menggambarkan pertemuan antara dunia nyata dan dunia fantasi.Terdapat juga imajinasi dan perasaan batin saya dalam karya ini.Yaitu tentang harapan, perlindungan, dan kebangkitan diri. Dalam karya ini terdapat sosok perempuan yang menggambarkan diri saya yang sedang berada dalam perjalanan hidup,menghadapi ketidak pastian,namun tetap berdiri teguh di bawah perlindungan cahaya dan harapan.Terdapat juga burung bercahaya atau burung phoenix api melambangkan semangat pantang menyerah dan kemenangan atas kesulitan, yang bermakna kekuatan, harapan dan kebebasan yang hadir dalam diri saya.
•Teknik Berkarya
Teknik yang digunakan adalah Teknik plakat , karya ini dibuat menggunakan sapuan warna halus, gradasi, serta efek cahaya (lighting effect) untuk menciptakan suasana magis dan imajinatif.
• Unsur-unsur Seni Rupa
Unsur seni rupa yang terdapat pada karya ini
Garis: garis lengkung dan mengalir pada sayap burung dan cahaya.
Warna: perpaduan warna oren, biru, dan ungu yang memberi kesan magis.
Bentuk: bentuk figuratif pada manusia dan burung fantasi.
Ruang: tercipta kesan ruang luas dan mendalam.
Gelap-terang: kontras cahaya yang menonjolkan objek utama.
• Elemen / Komposisi
Fokus perhatian pada burung bercahaya sebagai pusat visual.
Keseimbangan asimetris antara burung besar dan sosok manusia di bawahnya.
Irama dari pengulangan garis cahaya yang berputar.
Kesatuan (unity) melalui keselarasan warna dan cahaya.
Proporsi yang memperkuat kesan agung dan magis.
SITI NUR AZIZAH
• Inspirasi
Lukisan ini terinspirasi dari diri saya sendiri yang menyukai kesunyian sebagai ruang untuk menemukan ketenangan batin. Suasana malam saya pilih karena menjadi gambaran paling tepat untuk menghadirkan rasa hening, damai. Langit gelap dengan dominasi warna biru menggambarkan kedalaman perasaan serta ketenangan. Sinar bulan hadir sebagai pelengkap yang melambangkan secercah harapan yang muncul di tengah keheningan dan perlahan terasa terkabul. Pohon digambarkan sebagai tempat paling nyaman untuk bersandar, simbol perlindungan, keteguhan, dan rasa aman saat menikmati kesunyian.
• Teknik Berkarya
Teknik yang akan saya gunakan adalah teknik plakat dan aquarel dengan gradasi dan layering untuk menciptakan suasana malam yang tenang dan magis serta efek cahaya bulan yang lembut.
• Unsur-unsur Seni Rupa
Titik: cahaya-cahaya kecil di langit malam.
Garis: pada batang dan cabang pohon.
Bidang: bentuk bulan dan daratan.
Warna: dominasi biru sebagai simbol ketenangan dan kuning sebagai simbol harapan.
Tekstur: tekstur semu yang memberi kesan lembut.
Ruang: latar langit menciptakan kesan luas dan mendalam.
• Elemen / Komposisi
Keseimbangan dari penempatan pohon dan bulan yang harmonis. Bulan menjadi pusat perhatian karena cahayanya yang menonjol. Kesatuan tercipta dari perpaduan warna dan objek yang saling mendukung, sedangkan irama muncul dari pengulangan titik-titik cahaya langit.
DILLA NURIL ULYA
Lukisan memperlihatkan siluet seorang peri bersayap yang sedang duduk di ayunan yang tergantung di dahan pohon. Di hadapannya terdapat bulan besar yang bersinar terang, dikelilingi bintang-bintang di langit malam. Rumput dan pepohonan digambar sebagai bayangan gelap, sehingga fokus utama tertuju pada cahaya bulan dan sosok peri. Suasana yang ditampilkan terasa hening, tenang, dan penuh nuansa mimpi.Lukisan ini melambangkan seseorang yang sedang menikmati kesunyian malam sambil bermimpi dan berharap, seolah berada di dunia dongeng yang penuh ketenangan dan imajinasi.
NUR LAELY NABIELLA
Eksplorasi fantasi laut yang menggambarkan ketegangan antara rasa ingin tahu, keberanian, dan konsekuensi dari melewati batas yang tidak seharusnya.
JULIA DIAH IKA PUTRI
Judul Konsep: “The Crimson Truth” (Kebenaran yang Berdarah)
Narasi Utama:
The “Cursed” Eye: Air mata merah tersebut tidak terlihat seperti darah biasa, melainkan seperti substansi magis atau kutukan. Dalam dunia fantasi, ini bisa melambangkan karakter yang kehilangan kekuatan atau seseorang yang “melihat” masa depan yang menyakitkan.
Lukisan ini mengeksplorasi tema kerentanan yang tersembunyi. Mata digambarkan dengan detail hitam-putih yang tajam untuk menunjukkan realitas yang dingin, namun aliran merah (darah/air mata) memecah keheningan tersebut sebagai simbol luka batin yang tidak lagi bisa dibendung.
Dark Fantasy: Karena nuansanya yang kelam, penuh penderitaan, dan misterius. Fokusnya bukan pada keajaiban yang indah, tapi pada sisi gelap dari kekuatan magis.
ROSA SULISTIYANI
Judul : Sayap yang tertinggal
•Ide Gagasan Karya
Karya ini bercerita tentang seorang perempuan yang hidup dalam siksaan batin keluarganya sendiri. Apa pun yang ia lakukan selalu dianggap salah, ia terus dimarahi, dan tidak pernah diterima. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi sumber luka.
Satu-satunya cahaya dalam hidupnya adalah pasangannya yang setia, namun takdir merenggut kebahagiaan itu. Ia melarikan diri ke hutan dan akhirnya menyatu dengan pohon, sebagai simbol keinginannya untuk berhenti merasa sakit dan menghilang dari dunia manusia. Burung-burung hitam di sekelilingnya adalah wujud pacarnya yang dikutuk, tetap setia menemani meski hanya sebagai bayangan dalam kegelapan.
•Teknik yang Cocok Digunakan
Teknik yang cocok untuk melukis karya ini adalah teknik realis–surealis dengan sapuan halus (blending). Teknik ini digunakan untuk menampilkan bentuk manusia, hutan, dan burung secara nyata, tetapi dengan suasana yang tidak masuk akal dan penuh makna simbolis.
Warna gelap dan gradasi lembut dipakai untuk membangun kesan muram, sunyi, dan tragis. Sapuan kuas tipis membantu memperlihatkan detail jubah, pepohonan, dan kabut sehingga suasana lukisan terasa hidup dan emosional.
•Unsur-unsur Seni Rupa
Titik → terlihat pada detail bunga kecil dan cahaya kabut
Garis → garis lengkung pada jubah dan ranting pohon memberi kesan mengalir
Bidang → bentuk tubuh sosok dan pepohonan
Bentuk → figur manusia dan alam digambarkan semi-realis
Warna → dominasi hitam, hijau, dan abu-abu memberi nuansa gelap dan tenang
Tekstur → terasa pada rumput, kain jubah, dan batang pohon
Gelap-terang → kontras kuat untuk mempertegas fokus utama
•Elemen / Komposisi
Komposisi asimetris, sosok utama berada di tengah tapi sedikit condong
Fokus utama pada sosok berjubah hitam
Keseimbangan visual antara gelap (sosok) dan terang (latar hutan)
Irama terlihat dari alur jubah yang menjuntai dan aliran sungai
Kesatuan tercipta karena warna dan tema saling mendukung
NYSA EKA PUTRI APRILIA
Lukisan dengan judul “Cita Rasa Fantasi” ini terinspirasi dari hobi saya sendiri Nysa Eka Putri Aprilia. Dalam ketenangan dan keheningan di dapur inilah saya memaknai bahwa mimpi tak selalu lahir dari hal besar, tetapi kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan penuh kesabaran serta ketekunan. Peri bayangan melambangkan diri saya sendiri yang bekerja dalam diam disertai harapan dan doa. Serta elemen pendukung berupa adonan di dalam mangkok yang besar dan hasil berupa cupcake disebelahkan, memaknai bahwa perjuangan tidak ada yang sia-sia.
ELMIRA JALILA
mencerminkan perasaan kebingungan, kesepian, dalam mencari jati diri, dan merasa hidup dibawah tekanan, aku adalah asing yang bersembunyi di balik cermin, menyapa bayangan yang tak lagi ku kenali wujudnya.
MOCH. RIZKY SETYO BUDI
Lukisan ini menggambarkan seseorang yang banyak masalah ia mencari ketenangan di tepi danau untuk memecahkan masalah.
RICHA AULA FADHILAH
Karya lukis ini menampilkan sosok seorang gadis kecil yang berdiri di sebuah jalan setapak, menghadap ke arah istana megah yang menjulang di hadapannya. Sosok gadis tersebut digambarkan dari belakang, menekankan kesan perjalanan batin dan refleksi diri, seolah penonton diajak untuk ikut merasakan langkah yang sedang ia tempuh. Gaun berwarna hangat yang dikenakannya menjadi pusat perhatian, melambangkan keberanian, harapan, serta semangat yang menyala di tengah perjalanan menuju masa depan.
Istana dengan menara-menara tinggi digambarkan sebagai simbol cita-cita, impian besar, dan tujuan hidup yang ingin diraih. Bentuknya yang kokoh menunjukkan kekuatan dan keteguhan, sekaligus menggambarkan bahwa impian tersebut tidak mudah dicapai dan memerlukan usaha serta kesabaran. Jalan setapak yang sempit dan berliku melambangkan proses kehidupan yang penuh tantangan, pilihan, dan pengorbanan, namun tetap mengarah pada satu tujuan yang jelas.
Di sisi kiri dan kanan, pepohonan hijau yang menjalar serta bunga-bunga yang bermekaran menghadirkan suasana alami yang hidup dan penuh warna. Elemen ini melambangkan pertumbuhan, harapan, serta dukungan dari lingkungan sekitar dalam setiap perjalanan hidup. Warna hijau memberikan kesan keseimbangan dan ketenangan, sementara bunga-bunga menjadi simbol keindahan kecil yang sering hadir di tengah perjuangan.
Latar langit berwarna biru memberi nuansa damai dan optimistis, menciptakan ruang imajinatif antara dunia nyata dan dunia impian. Secara keseluruhan, karya ini mengajak penikmatnya untuk merenungkan perjalanan menuju impian masing-masing, bahwa setiap langkah kecil yang diambil dengan keyakinan dan keberanian akan membawa seseorang semakin dekat pada tujuan yang diharapkan.
FIKRI RAMADANI
Lukisan ini menggambarkan seseorang pemuda yang sudah tidak memiliki harapan terhadap dunia. Dunia tetap akan berputar meskipun ia tiada. Dan semua orang tetap akan bergerak meskipun ia mati.
BAGUS PRAMUDYA
Nama Siswa
: BAGUS PRAMUDYA
Kelas
XII-4
: Rencana Karya: Simfoni Malam Ungu
Konsep Dasar
1. Judul
Keheningan Galaksi
2. Tema
Landscape Surealis Modern, yang menggabungkan elemen alam bumi dengan estetika ruang angkasa yang imajinatif.
3. Ide
Saya akan melukis sebuah pemandangan yang memberikan kesan ketenangan mutlak. Idenya adalah menonjolkan sebuah pohon tunggal sebagai simbol keteguhan di tengah padang ungu yang luas, di bawah perlindungan cahaya galaksi yang megah.
4. Teknik
Saya akan menggunakan teknik layering akrilik. Untuk langit, saya akan menggunakan teknik blending halus, sedangkan untuk bintang dan dedaunan pohon, saya akan menerapkan teknik splattering (percikan) dan stippling (titik-titik) menggunakan kuas kaku atau spons untuk menciptakan tekstur yang organik.
5. Unsur Rupa
Warna: Palet warna akan didominasi oleh kontras antara Ultramarine
Blue (dingin) dan Vivid Magenta (hangat). Ruang: Menciptakan kedalaman dengan membagi bidang menjadi
tiga area: latar depan (padang rumput), latar tengah (pohon dan gunung), dan latar belakang (langit tak terhingga).
6. Komposisi dan Unsur Mendalam
Komposisi akan menggunakan prinsip Rule of Thirds, di mana pohon diletakkan sedikit tidak di tengah untuk menciptakan keseimbangan yang dinamis dengan arah galaksi. Secara mendalam, lukisan ini direncanakan untuk menyampaikan pesan bahwa dalam kesunyian malam, terdapat keindahan yang luar biasa besar jika kita mau
melihat ke atas (berharap).
AHMAD DWI KEFIN GUSTANUL ARIFIN
”Dalam karya orisinal saya yang berjudul ‘Dreamy Makkah’, saya ingin menghadirkan lebih dari sekadar pemandangan, melainkan sebuah rasa rindu. Melalui sapuan kuas yang bertekstur pada bagian menara, saya mencoba menonjolkan kemegahan arsitektur suci yang bersanding dengan ketenangan langit senja. Gradasi warna dari jingga hangat hingga biru keunguan merupakan refleksi dari momen kontemplatif saat siang berganti malam di Makkah, menciptakan harmoni visual yang menyejukkan batin dan mengagungkan Sang Pencipta.”
RIO ANDIKA SAPUTRA
Judul :Menatap Hari Esok”
Ide ini bersumber dari kehidupan saya sekarang yang bisa ngak ya untuk kedepannya menjadi orang yang lebih baik ,masih bingung tentang diri saya sendiri ,saya mempunyai cita cita yang tinggi apakah aku bisa untuk meluncur kesana namun adakalanya aku harus memberanikan untuk melangkah lebih jauh dari sekarang harapan di masa depan ku lebih indah makan dari itu aku memilih Lukisan ini menggambarkan seorang penjelajah berdiri di tepi tebing tinggi, menatap matahari terbit yang memancarkan cahaya keemasan ke seluruh lembah. Ia adalah simbol harapan, keberanian, dan takdir. Tongkat di tangannya bukan sekadar alat, melainkan artefak kuno yang terhubung dengan kekuatan alam.
Burung-burung yang terbang di langit melambangkan kebebasan jiwa, sementara cahaya matahari menjadi metafora awal baru dan kebangkitan dunia magis. Alam yang luas dan megah memberi kesan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta, namun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangannya.
RIO ANDIKA SAPUTRA
Judul :Menatap Hari Esok”
Ide ini bersumber dari kehidupan saya sekarang yang bisa ngak ya untuk kedepannya menjadi orang yang lebih baik ,masih bingung tentang diri saya sendiri ,saya mempunyai cita cita yang tinggi apakah aku bisa untuk meluncur kesana namun adakalanya aku harus memberanikan untuk melangkah lebih jauh dari sekarang harapan di masa depan ku lebih indah makan dari itu aku memilih Lukisan ini menggambarkan seorang penjelajah berdiri di tepi tebing tinggi, menatap matahari terbit yang memancarkan cahaya keemasan ke seluruh lembah. Ia adalah simbol harapan, keberanian, dan takdir. Tongkat di tangannya bukan sekadar alat, melainkan artefak kuno yang terhubung dengan kekuatan alam.
Burung-burung yang terbang di langit melambangkan kebebasan jiwa, sementara cahaya matahari menjadi metafora awal baru dan kebangkitan dunia magis. Alam yang luas dan megah memberi kesan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta, namun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangannya.